Ada kejutan yang terjadi pada ajang Black Auto Battle (BAB) 2018 Solo, pasalnya yang merebut piala 1st Runner Up bukanlah supercar atau mobil penumpang biasanya, namun ini adalah mobil komersial yang sehari-hari mengangkut bahan sembako. Tapi ya namanya sudah hobi, mobil apapun bukan menjadi masalah kalau sudah menyangkut modifikasi.

Itulah yang ada di benak Tessi. Pria yang tergabung dalam club ‘Customized’ ini membeli pick up Mitsubishi L300 lalu dikirim ke rumah modifikasi Kuku Kupu Malam di Yogyakarta, Jawa Tengah. Ia pun tak enggan mengeluarkan uang tunai Rp 200 juta hanya untuk memodifikasi pick up L300 itu.

Dasarnya Mitsubishi L300 dilahirkan sebagai mobil dengan berbagai utilitas, mulai dari jadi kendaraan angkutan umum, mobil bak, hingga ambulans. Apalagi Mitsubishi L300 memang primadona untuk kendaraan komersial dan niaga karena mesinnya yang bandel dan memang bertenaga. Makanya tak sangka, statusnya bisa berbalik 180 derajat menjadi mobil pameran atau show car.

Hilang sudah kesan mobil pekerja pada L300, terutama setelah melihat rodanya ada enam. Panjang L300 ditarik menjadi 50 cm dengan menggunakan tambahan sasis kustom ledder frame. Roda belakang ditambah batang as yang membuatnya memiliki empat roda.

Meski tidak terhubung langsung dengan gardan utama yang menggerakkan mobil, dia tetap fleksibel mengikuti naik turun suspensi udara Universal Air 2 titik yang dianut gardan utama. Karena memang kegunaan L300 ini hanya untuk kontes, pada bagian kaki-kaki juga terdapat pelek menggunakan merek ADV.1 yang berukuran ring 20 inci.

Tak hanya tampil berbeda dengan enam roda, ujar Tessi, perubahan lain yang diaplikasikan pada mobil ini yakni penggunaan sistem motorized hingga 18 titik. Canggihnya, sistem penggerak elektrik tersebut bisa diaktifkan menggunakan smartphone Android.

Kembali ke L300, bodi aslinya hampir 90 persen sudah terselimuti dengan body kit custom. Mulai dari bumper depan yang terdapat sebuah lukisan cat bunglon tiga warna, dan bumper belakang yang sudah dibentuk buat buangan knalpot berjumlah 4 buah.

Bagian samping juga terpasang side skirt custom, dan penambahan over fender yang sedikit menonjol. Nah, yang paling memonjol adalah fungsi bak belakangnya yang kini menjadi rumah manis jejeran subwoofer dan speaker yang bisa terbuka dan tertutup secara otomatis. “Kupu-Kupu Malam menaruh ada sekitar 12 subwoofer, dan 10 layar monitor LCD,” kata Tessi. Karena bak berisi audio yang tersusun dari jaringan listrik dan rentan terkena air, mereka memasang sebuah cover penutup motorized.

Untuk cat, Tessi mempercayakan pada merek Spies Hecker. Sedangkan bak belakang berwarna bunglon menggunakan pelat ezer dengan ketebalan 0,3 milimeter. Bagian tersulit dari modifikasi mobil ini adalah mekanisasi dari jejeran yang ditempatkan di tengah pada bak belakang. Sehingga ketika baknya terbuka, jejeran speakernya bisa bergerak layaknya pergerakan piston mesin V. “Meski hanya dioperasikan secara elektrik, mekanisasi ini cukup mudah dioperasikan,” ujarnya.

Masuk ke interior, sedikit banyak Anda masih menemukan jejak L300. Meski begitu, seluruh sektor sudah dikustom ulang oleh tangan-tangan builder handal di Yogya. Untuk temanya tetap terilhami dari kokpit VIP yang bernuansa individual. Anda akan disuguhi oleh perangkat instalasi audio yang hampir menghiasi seluruh sektor kabinnya.

Mulai dari bagian jok kursi yang telah di custom dengan kulit hingga menyeluruh sampai bagian doortrim, plafon dan juga dasbornya. Tak lupa bahan acrylic untuk pemanis di bawah sunroof. Tak hanya itu saja, di jok tadi tepat di belakang kepala juga dibenamkan sentuhan audio dengan adanya deretan speaker dan subwoofer Venom, so..kalo denger lagu ajib-ajib bisa langsung geleng-geleng.

Selama enam bulan pick up itu berada di tangan Tessi. Hasilnya tak mengecewakan. Mitsubishi L300 berhasil menjadi juara 1st Runner Up di BAB 2018 di Solo. Bukan hanya satu, melainkan beberapa kategori sekaligus, modifikasi ekstrim.

Hanya, Tessi mengakui bahwa pick up ini tidak digunakan untuk mobil angkutan lagi. Pick up kesayangannya ini hanya dipajang di garasi workshop-nya di Yogya. Sesekali, ia duduk berlama-lama di dalam kabin sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan dari sound system yang juga dimodifikasi. “Saya menamakannya The Predator,” tutupnya. [bil/timBX]