|
....Klaim Malaysia: Angklung pun Ikut Digulung
|
angklungH.jpg Salah satu budaya Indonesia yang diklaim Malaysia adalah angklung. Ini alat musik tradisional Indonesia yang sudah dibuktikan sejarah berasal dari
Tanah Sunda.
Terbuat dari pilah-pilah
bambu yang dirangkai jadi satu, angklung dimainkan dengan cara mengoyang-goyangkan, hingga menghasilkan suara unik akibat benturan badan pipa-pipa bambu tadi. Getar nada yang terdengar selalu bersusun 2, 3, 4 (re-mi-fa) untuk setiap ukuran, besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi
Sunda kebanyakan adalah
salendro dan
pelog.
angklung.jpgJenis bambu yang biasa dipakai disebut
awi wulung (bambu berwarna hitam) dan
awi temen (bambu berwarna putih). Angklung
gubrag di
Jasinga,
Bogor, misalnya, adalah salah satu yang masih bertahan sejak lebih dari 400 tahun. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat
Dewi Sri turun ke bumi, agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Masyarakat Priangan sendiri mengenal angklung sejak masa
Kerajaan Sunda. Di era penjajahan, alat musik ini juga berperan sebagai penggugah semangat bertempur. Itu sebabnya Pemerintah
Hindia Belanda sempat melarang masyarakat memainkannya, hingga membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak.
Sejumlah syair dan lagu berulang kali lahir dari perenungan masyarakat Sunda tempo doeloe saat mengolah pertanian (tatanen), terutama di sawah dan huma. Syair serta lagu tersebut ditujukan sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyai Sri Pohaci dalam upaya nyinglar (tolak bala), agar cocok-tanam mereka terhindar dari gangguan hama maupun bencana alam.
Berikut salah satu syair lagu
buhun tersebut:
angklungU.JPG
Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh
Dalam perkembangan selanjutnya, permainan angklung kerapkali disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis. Pola dan aturan-aturan mainnya disesuaikan dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu diarak ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat mitembeyan, atau mengawali penanaman padi, yang disebut ngaseuk.
Pada saat pesta panen dan seren taun, permainan angklung menjadi sebuah pertunjukan berbentuk arak-arakan, atau helaran. Bahkan, di sebagian tempat menjadi iring-iringan rengkong dan dongdang serta jampana (usungan pangan).
angklungO.jpg
Seiring bergeraknya waktu, budaya angklung kemudian menyebar ke seantero Jawa, bahkan hingga Kalimantan dan Sumatera. Pada
1908, sebuah misi kebudayaan dari Indonesia melawat ke
Thailand. Maka, terjadilah transformasi lintas budaya antar bangsa. Angklung menjadi permainan musik bambu yang sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak
1966,
Udjo Ngalagena – seniman yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras
pelog, salendro, dan
madenda -- mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas. Melalui padepokan seni Saung Angklung Udjo yang ia didirikan sejak 40 tahun silam, siapa pun leluasa belajar, tidak terkecuali warga asing.
Di antara para peminat itu, yang paling ”ambisius”, adalah Malaysia. Selain mengimpor, Malaysia banyak mengirim warganya untuk belajar angklung.
angklung_1.jpg
Dari sinilah ”stori” klaim Malaysia itu, konon, berasal. Tak puas sekadar belajar, Pemerintah Negeri Jiran, pada Oktober 2007, menebar pengumuman jika angklung adalah milik mereka.
Meskipun tak ada jejak Malaysia dalam sejarah dan asal-usul penciptaan angklung di masa lalu, klaim itu sudah terlontar dan dipatenkan. Ah, andai saja Indonesia lebih cepat....
Comments
RSS feed for comments to this post