Liputan

Klaim Malaysia: Angklung pun Ikut Digulung

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Djoened

Jumat, 28 Agustus 2009

....Klaim Malaysia: Angklung pun Ikut Digulung

angklungH.jpgangklungH.jpg
Salah satu budaya Indonesia yang diklaim Malaysia adalah angklung. Ini alat musik tradisional Indonesia yang sudah dibuktikan sejarah berasal dari Tanah Sunda.
Terbuat dari pilah-pilah bambu yang dirangkai jadi satu, angklung dimainkan dengan cara mengoyang-goyangkan, hingga menghasilkan suara unik akibat benturan badan pipa-pipa bambu tadi. Getar nada yang terdengar selalu bersusun 2, 3, 4 (re-mi-fa) untuk setiap ukuran, besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

angklung.jpgangklung.jpgJenis bambu yang biasa dipakai disebut awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, misalnya, adalah salah satu yang masih bertahan sejak lebih dari 400 tahun. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi, agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Masyarakat Priangan sendiri mengenal angklung sejak masa Kerajaan Sunda. Di era penjajahan, alat musik ini juga berperan sebagai penggugah semangat bertempur. Itu sebabnya Pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat memainkannya, hingga membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak.
Sejumlah syair dan lagu berulang kali lahir dari perenungan masyarakat Sunda tempo doeloe saat mengolah pertanian (tatanen), terutama di sawah dan huma. Syair serta lagu tersebut ditujukan sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyai Sri Pohaci dalam upaya nyinglar (tolak bala), agar cocok-tanam mereka terhindar dari gangguan hama maupun bencana alam.
Berikut salah satu syair lagu buhun tersebut:angklungU.JPGangklungU.JPG
Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh
Dalam perkembangan selanjutnya, permainan angklung kerapkali disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis. Pola dan aturan-aturan mainnya disesuaikan dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu diarak ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat mitembeyan, atau mengawali penanaman padi, yang disebut ngaseuk.
Pada saat pesta panen dan seren taun, permainan angklung menjadi sebuah pertunjukan berbentuk arak-arakan, atau helaran. Bahkan, di sebagian tempat menjadi iring-iringan rengkong dan dongdang serta jampana (usungan pangan).
angklungO.jpgangklungO.jpg
Seiring bergeraknya waktu, budaya angklung kemudian menyebar ke seantero Jawa, bahkan hingga Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908, sebuah misi kebudayaan dari Indonesia melawat ke Thailand. Maka, terjadilah transformasi lintas budaya antar bangsa. Angklung menjadi permainan musik bambu yang sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena – seniman yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda -- mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas. Melalui padepokan seni Saung Angklung Udjo yang ia didirikan sejak 40 tahun silam, siapa pun leluasa belajar, tidak terkecuali warga asing.
Di antara para peminat itu, yang paling ”ambisius”, adalah Malaysia. Selain mengimpor, Malaysia banyak mengirim warganya untuk belajar angklung.angklung_1.jpgangklung_1.jpg
Dari sinilah ”stori” klaim Malaysia itu, konon, berasal. Tak puas sekadar belajar, Pemerintah Negeri Jiran, pada Oktober 2007, menebar pengumuman jika angklung adalah milik mereka.
Meskipun tak ada jejak Malaysia dalam sejarah dan asal-usul penciptaan angklung di masa lalu, klaim itu sudah terlontar dan dipatenkan. Ah, andai saja Indonesia lebih cepat....




 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Comments  

 
#1 eliza 2010-03-03 16:43
;-) mana ada maling ngaku
:lol: penuh penjaranya
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh