Foto : NopiHUJAN turun sepanjang Sabtu kemarin sehingga membasahi wilayah sekitar Jabodetabek. Suasana dingin yang menyelimuti ini, tentu asyiknya minum yang hangat-hangat seperti secangkir teh. Minum teh di rumah, di kantor atau di sebuah tempat makan merupakan hal biasa. Namun, bagaimana, jika minum teh berlangsung di pemakaman yang dikelilingi pepohonan besar dan dilakukan dalam suasana hujan, apakah Anda mau ?
Pastinya, Anda akan berpikir panjang, lantaran bagaimana mungkin minum teh di tengah-tengah kuburan? Tapi, nggak tuh! Buktinya, Sabtu lalu benar-benar ada yang melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti event Underground Secret Dining (USD) dari Azanaya.USD menitikberatkan pada nilai kebersamaan yang dijalin oleh para penikmat makanan dengan mengadakan acara apresiasi makan dan minuman di tempat-tempat yang tidak lazim yang mengundang kalangan terbatas lewat strategi secretive marketing (artinya tidak dibuka untuk umum).
Memberikan informasi (Foto : Nopi)Azanaya bekerjasama dengan komunitas Love Our Heritage (LOH) menyelenggarakan acara tersebut di TPU Petamburan, tepatnya di makam O.G. Khouw. Pemakaman itu, sengaja mereka pilih lantaran mengandung sejarah. Dimana, Khouw adalah orang terkaya di masanya. Dulunya, Khouw memiliki lahan perkebunan luas di daerah Tambun, Bekasi. Khouw mendirikan sekolah Tionghoa berbahasa pengantar Belanda.
Khouw juga mendirikan Hospitaalfonds Jang Seng Ie yang saat ini menjadi RS Husada di Mangga Besar. Dengan kekayaan seperti itu, tak heran sebelum meninggal Khouw telah merencanakan membangun makam megah untuknya. Konon kemegahan Mausoleum O.G Khouw melebihi makam milyader dari Amerika Serikat, Rockefeller. Bangunan makam Khouw sendiri, terbuat dari marmer yang langsung didatangkan dari Italia. Sayang, Khouw tidak memiliki keturunan sehingga makamnya terbengkalai. LOH sebagai komunitas yang peduli terhadap warisan budaya pun berusaha merawat dan menjaganya.
Di Pemakaman Yahudi ( Foto : Nopi)Melalui kerjasama dengan Azanaya ini, LOH berhasil mengumpulkan dana lantaran sebagian dana hasil lelang USD diperuntukkan untuk kegiatan mereka “Kami melelang acara ini, bagi yang melakukan penawaran tertinggi bisa mengikuti. Sebab, sebagian dari dana lelang akan disumbangkan ke LOH,” imbuh Strategic Communication Lisa Virgiano kepada TNOL, Sabtu (11/12).
Ratna menjelaskan tentang teh ( Foto : Nopi)Menurut Lisa, ada sekitar 49 orang yang melakukan penawaran tertinggi. Namun, yang hadir hanya 20 orang. Harga lelang dimulai dari Rp. 148 ribu, penawaran mencapai Rp. 350 ribu. Peserta yang mengikuti USD, tak hanya menikmati minum teh dengan cemilan-cemilan yang tersedia. Mereka disuguhkan pula informasi mengenai sejarah teh, jenis-jenis teh dan bagaimana menyeduh teh yang baik oleh pakar teh Ratna Somantri dan Alexander Halim.
Sebelum acara dibuka, para peserta mendapat sambutan hangat dari LOH. Komunitas LOH pun, tak lupa memberikan cendera mata berupa PIN. Tak ketinggalan Lisa Virgiano juga memberikan sepatah dua patah kalimat. Begitupula, dengan kordinator LOH Amelia Devina. Perempuan yang biasa disapa Amel ini pun, berbagi informasi mengenai komunitasnya dan apa saja yang telah mereka lakukan.
Ngeteh_ rame-rame ( Foto : Nopi)Sementara mengenai ngeteh di makam, kata Amel, ini merupakan suatu pengalaman spektakuler. Kemudian anggota LOH, Adjie Hadipriawan menjelaskan tentang mausoleum O.G. Khouw. Agar peserta bisa melihat kondisi langsung, LOH mengajak mereka menyusuri makam O.G. Khouw maupun makam-makam lain seperti, makam sepupu Khouw, tempat penyimpanan abu jenazah tentara Jepang dan makam orang Yahudi.
Natalie (Foto : Nopi)Usai menjelajahi makam di tengah-tengah rintik hujan, mereka kembali ke mausoleum untuk mendengarkan pemaparan tentang teh. Puncak acara, mereka menikmati secangkir teh. Menurut salah satu peserta USD Natalie, minum teh di pemakaman baru pertama kali ia lakukan. Ia mengikuti event tersebut, lantaran tertarik dengan mausoleum O.G. Khouw. Baginya, ngeteh di pemakaman memberikan suasana berbeda. “Kalau ngeteh kayak ini, seperti tidak berada di pemakaman,” imbuh Natalie seraya tersenyum.
Comments
RSS feed for comments to this post