Tahun ini memang terasa cukup istimewa buat penduduk di Timur Tengah. Pasalnya, musim dinginnya beneran berasa dingin. Brrr....
Mungkin buat mereka yang terbiasa mandi salju, hawa dingin di sini jadi nggak istimewa-istimewa amat. Tapi, percaya nggak sih kalau suhu terendah di rata-rata tanah gurun UAE (United Arab Emirates, alias Timur Tengah – Red) saat ini tembus sampai 0 derajat? Di Kuwait dilaporkan pada malam hari malah sampai minus (-)3 derajat!
Memang sih di kota tempat saya tinggal, suhu terendahnya "hanya" 12 derajat Celsius saja. Tapi, dinginnya terasa sangat menusuk tulang. Mungkin karena efek gurun, hingga suhu 12 derajat pun jadi sesuatu banget.
Kenapa begitu?
Karena perbedaan suhu terpanas dan terdingin di sini bisa sampai 40 derajat. Kebayang nggak?
Di musim panas, yang dimulai sejak Juni sampai September – dan peak-nya biasanya di bulan Agustus – suhu udara bisa mencapai 55 derajat Celsius! Wah, gak usah ditanya lagi panasnya kayak apa....
Uniknya, ketika musim dingin, udara sangat kering. Yang ada, bibir jadi pecah-pecah. Dan, kalau nggak rajin pake cream, kulit beneran terasa perih.
Sebaliknya, saat musim panas, kelembaban sangat tinggi. Bahkan di puncak musim panas, pas ke luar gedung, kacamata yang kita pakai bener-bener berembun saking lembabnya; sehingga pengguna kacamata butuh wiper buat membersihkannya....
Bagaimana dengan hujan?
Meski musim dingin, tetap saja hujan terhitung langka. Paling banyak hanya 12 kali dalam setahun.
Eh, tapi jangan salah, di sini juga pernah banjir lho, sewaktu hujan turun mengguyur tiga hari berturut turut. Tapi, ya itu tadi, yang seperti itu sangat jarang terjadi. Tahun ini hujan yang agak deras malah belum pernah datang sama sekali.
***
Setelah tujuh tahun tinggal di Timur Tengah, akhirnya saya berani juga memberi gambaran mengenai negara-negara di sekeliling kami dengan beragam-macam suhunya. Siapa tahu berguna andai Anda berencana berkunjung ke Timur Tengah kelak.
Negara tetangga yang paling dekat dengan UAE, adalah Oman. Untuk mencapainya, kita bisa melintasi perbatasan dengan kendaraan.
Suhu di Oman tidak seekstrem di UAE. Bahkan di musim panas pun kadang masih hujan deras. Itu pernah kami alami, ketika akhir Juli silam kami berkendara dari Nizwa ke Muscat, ibukota Oman.
Di kota, musim dinginnya wajar-wajar saja; karena mereka punya beberapa gunung, antara lain Jebel Shams – yang pada musim panas di siang hari pun suhunya bisa 25 derajat.
Tapi, kalau malam hari, saat winter, jelas akan dingin sekali; bahkan bisa minus 0 derajat....
Negara tetangga lainnya adalah Qatar. Musim dingin di sini lebih dingin daripada UAE. Tapi, jangan khawatir, musim panasnya (justru) lebih galak dibanding UAE!
Sementara Kuwait atau Bahrain, beda lagi. Musim dinginnya memang lebih dingin, tapi musim panasnya lumayan saja; karena letak geografisnya lebih di utara dari UAE.
***
Di UAE sendiri, musim dingin dimulai bulan Oktober; hingga peak-nya Januari, dan Februari adalah yang terdingin. Lalu, memasuki akhir April, biasanya mulai hangat kembali, dan suhu pelan-pelan bertambah panas, hingga bulan Agustus harus siap-siap dengan segala aktivitas dalam rumah.
Eh, mau tahu bagaimana rasanya panas di bulan Agustus? Coba deh masuk ke dapur dengan oven besar sedang menyala dan dibuka pintunya.... Nah, seperti itu rasanya. Pipi pun langsung memerah!
Yang terasa membakar pipi adalah panas yang keluar dari tanah atau lantai trotoar. Jadi, meskipun kepala kita tertutup payung, tetep aja panasnya membakar pipi.
Malam hari kelihatannya cukup aman, karena si galak matahari sudah tidur. Tapi, jangan dikira sudah nggak panas lagi. Sebab, hangat yang datang dari bumi, masih terasa.
Yang aneh, kalau kita sudah tinggal di sana sejak bulan-bulan suhu mulai meningkat, maka saat masuk ke peak-nya, iya seh emang terasa panas. Tapi, it's okey-lah, we survived (meski tetep kipas-kipas juga kepanasan, hehe...).
Bagusnya, Pemerintah UAE sudah menetapkan, ketika musim panas tiba, para buruh yang bekerja outdoor, diizinkan berhenti bekerja saat adzan lohor. Barulah setelah adzan ashar, alias sore hari, kembali lanjut bekerja.
So, adalah pemandangan yang umum saat tengah hari kita melihat buruh-buruh tiduran di mana saja. Pokoknya, selama ada peneduhnya, bahkan di bawah pohon sekalipun, tidur!
Asyiknya, ketika berteduh, dan angin sepoi-sepoi datang menyapa, meski dalam suhu terpanas sekalipun, kita tetap bisa tertidur pulas....
|
Bersama d'ez balcony |
|
|
Jadi, seneng banget ketika akhirnya bisa bergabung di TNOL. Rencananya tiap akhir minggu saya akan post resep masakan hasil olahan saya, yang mudah-mudahan dapat Anda praktikkan di rumah. Saya juga akan menulis berbagai artikel mengenai Timur Tengah, termasuk suka-duka kehidupan di sini. Selain itu, oleh TNOL, saya diberi rubrik Q&A. Maksudnya sih agar Pembaca TNOL yang ingin pergi ke Timur Tengah bisa tanya-tanya – yang akan saya jawab berdasarkan pengalaman saya tujuh tahun tinggal di UAE. Ah ya, nama d'ez balcony (ini usulan suami tercinta lho, hehe...) saya pilih sebagai latar: Seolah-olah saya sedang duduk di balkon TNOL, lalu mengajak Anda, Pembaca, ikut duduk sambil ngupi bareng dan berbagi cerita; bahkan, kalau memungkinkan, masak bareng-bareng! Semoga rubrik yang saya tempati ini akan mendapat tempat juga di hati Anda. Salam, Ez |
Comments
silahkan pak... ditunggu...
Suami dan saya sendiri sering ke Qatar karena ananda kuliah S2nya di TAMUQ.
RSS feed for comments to this post