Who's who - Old School
Kehidupan Kedua Rita Dinah Kandi
Written by Djoened   
Friday, 26 February 2010 09:02
Rita Dinah Kandi

Rita Dinah Kandi

Tak perlulah Anda menjadi Rita Dinah Kandi. Tapi, bayangkan begini saja: Suatu kali Anda harus berbaring di kamar operasi yang senyap dengan satu regu dokter bedah yang mengacung-acungkan berbagai alat, dan siap membelah otak Anda.

Reaksi Anda adalah: a) Spontan semaput; b) Berontak dan kabur; c) Terbangun dengan keringat dingin sambil mendesah, “Untung cuma mimpi....”

Tapi, ini bukan mimpi, Boss, juga bukan cerita sahibulhikayat yang konon-katanya. Ini sungguhan; si pasien malang di meja operasi itu pun betulan ada. Mau dengar apa reaksinya ketika tim dokter benar-benar merejam otaknya?

”Aku pasrah, mau apa lagi?”

Dan, masih ada kelanjutannya: ”Aku pikir hidup kita, nasib kita, sudah diatur Allah. Tapi, aku punya keyakinan untuk sembuh. Kalau kita sudah berusaha, ya, Insya Allah pasti sembuh....”

Rita Tentang ”Rita"

Oktober 2007, dunia selebritas Indonesia berduka – taelaaahhh.... Kabar pasti melejit dari balik tembok putih Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta; yang langsung menghiasi segala berita infotainment di media cetak, elektronik maupun internet: Rita Dinah Kandi, penyanyi senior di era 1980-an itu, menderita tumor otak dan dalam kondisi kritis....”

Rita setelah "dibelah". (Foto: Dok. Pribadi)

Rita setelah "dibelah". (Foto: Dok. Pribadi)

Alkisah, beberapa hari usai lebaran, Rita terjatuh dari lantai atas rumahnya saat menuruni tangga, lalu terguling-guling sampai lantai bawah. Bagian kepalanya mengalami pendarahan.

Ketika siuman, diagnosa dokter justru menyengat kalbu: Rita menderita tumor otak akut. Pilihan yang ada sama-sama sulit untuk dipilih: operasi, atau meninggal pelan-pelan....

Reaksi Rita? ”Aku tanya, ’Nggak ada jalan lain, Dok?’ Dokter bilang, ’Nggak ada, karena nih tumor udah besar, nggak ada cara lain’.”

Maka, scan demi scan menembus otak Rita. ”Tadinya cuma gambar-gambar awan. Pas di-scan kesekian kali, baru terlihat. Teman-teman aku sampai heran, ’Kok lo pe-de banget sih, Rit? Itu kan kepala!’ Waktu dibotakin sebelum operasi, aku malah ketawa....”

Seberani itukah dia? Menghadapi bedah kepala tanpa persiapan?

Lolos dari maut. (Foto: Dok. Pribadi)

Lolos dari maut. (Foto: Dok. Pribadi)

Biarkan Rita sendiri yang bercerita: ”Aku sudah sekarat. Peluang hidupku tinggal 25%. Akhirnya aku shalat tobat. Saking khusuknya, masih pakai mukenah aku sering ketiduran. Tapi, itulah mukjizat. Aku bisa pasrah. Waktu dianastesi, aku udah nggak sadar.”

Dan, operasi berlangsung hening. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan. Kasus ini tergolong langka. Konon, hanya satu banding seribu pasien bedah otak bisa pulih sempurna.

“Kepalaku dibelah. Ada sembilan belas jahitan. Operasi yang tadinya tiga jam, jadi lima jam, karena ternyata banyak pendarahan. Kata dokter, itu gara-gara aku sering minum obat China. Aku koma sampai dua hari.

”Selama koma, Ibuku terus membacakanku Surat Yassin, dengan sepenuh hati. Tapi, doa Ibu memang nggak ada duanya. Begitu sadar, aku cuci kaki Ibu, aku minum airnya, aku basuh ke mukaku....”

Rita menebarkan pandang ke kejauhan. Berkaca-kaca, me-review jauh ke belakang.

”Dulu aku sering pusing. Tiap kali ke dokter, nggak pernah dapat jawaban pasti. Waktu sebelum operasi, gejalanya seperti stroke, tangan nggak bisa digerakin. Dengan fisioterapi, bisa balik lagi, tapi memang nggak bisa seratus persen. Harus fisioterapi terus. Baru sehabis jatuh, ketahuan, kalau aku punya tumor otak."

”Ini pasti ada hubungannya dengan kehidupan masa laluku. Pola makan yang nggak bener. Kalau kerja, maunya semua dikerjain sendiri. Terbang pake pesawat kecil nggak ada takutnya. Ikut-ikutan bisnis batubara. Sampai-sampai ada yang bilang, dokter gigi kok pegang-pegang batubara....”

Satu Rita, Tiga Profesi

Eh, jangan salah, Rita memang dokter gigi, jebolan FKG Universitas Trisakti Jakarta, tahun 1987. Ia malah sempat buka praktek sendiri. Di sebuah perusahaan kontraktor, konstruksi, dan jasa ekspor-impor, ia pun pernah tercatat sebagai salah satu staf.

Amboi....

Toh, begitu, ia masih sempat-sempatnya menyanyi. Kalau Anda menghabiskan masa ABG di tahun 1980-an, bohonglah jika tak pernah mendengar Duri-Duri Cinta (karya Dadang S Manaf, 1979), atau Dua Hati Satu Asa (David Messakh, 1987), Kisah Cinta di Kota Kecil (Dadang S Manaf, 1997), Aku Masih Sayang (Rudy Loho, 1998), apalagi Jalan Terbaik (Melly Goeslaw, 2000).

Kelimanya album Rita Dinah Kandi yang, ketika itu, bersaing lumayan ketat dengan Rafika Duri, Harvey Malaihollo, sampai Iis Sugianto.

”Dari kecil aku udah suka nyanyi, tapi baru serius pas SMA,” ceritanya. Bakat yang tak jauh-jauh sebetulnya, sebab sang ibu, Sri Safardina, adalah satu dari personil Tiga Dara, grup vokal asal Solo yang sempat kondang di eranya.

Nah, ketika di SMA itulah wajah Rita mulai muncul di TVRI. ”Tapi, waku itu aku belum punya album. Pernah juga ikut Bintang Radio/TV Remaja bareng Rafika Duri dan Harvey Malaihollo. Tapi, aku masih di bawah mereka.”

Definisi ”di bawah” itu tak mutlak sungguhan. Karena, setelah mendapat penghargaan Juara II Bintang Radio/TV Remaja 1977 se-Sumatera Selatan, di tahun 1980 ia justru terpilih sebagai Juara Harapan Bintang Radio/TV Tingkat Nasional.

Live History of Rita

Tapi, dasar penyanyi, setelah sukses melewati masa kritis operasi otaknya, hal pertama yang langsung ia lakukan adalah mendatangi dua musisi yang sedang naik daun: Beby Romeo dan Tohpati.

“Aku ingin buat album, yang menceritakan live history aku,” katanya. “Bukan mau pamer; ngapain juga sakit dipamer-pamerin? Tapi, aku ingin berbagi, biar orang lain nggak mengikuti kebiasaanku dulu; kerja nggak ada aturan, makan suka telat, makan junkfood, goreng-gorengan. Aku yang dulu itu ngaco. Tiap hari makan bakso, tidur cuma dua jam; jangan diikutin! Karena, kalo kita sudah sakit, nggak bisa ngapa-ngapin....”

Maka, Beby Romeo, yang emang gape membuat lagu-lagu mellow, segera bekerja. Tohpati, dengan sentuhan gitarnya, memoles lagu itu hingga berbau kekinian.

Dan, berdendanglah Rita: Tuhan... jangan ambil nyawaku, yang belum ingin mati, meninggalkan dia yang aku cinta... selama hidupku....

Rita dan Wawancara

TNOL:
Jadi, apa persisnya judul dari lagu live history itu?

Rita Dinah Kandi (RDK):
Pedih.

TNOL:
Siapa yang pedih..., ups, kenapa Pedih? Kok bukan Perih?

RDK:
Kalau aku buat Perih, ya, cuma perih. Kalau pedih, kan sampai ke dalem.

TNOL:
Ini single?

RDK:
Bukan, album. Titelnya Mukjizat Hidup.

TNOL:
Kok ujug-ujug bikin album?

RDK:
Sebetulnya udah lama. Udah sempat terkumpul empat lagu, terus aku masuk rumah sakit. Sekarang dilanjutkan dengan tambahan Pedih.

TNOL:
Jadi bukan aji mumpung?

RDK:
Aku mau bikin image baru. Aku mau bangkit lagi. Produksinya juga aku bikin sendiri, tapi distribusinya lewat Aquarius.

TNOL:
Siap bersaing dengan penyanyi muda?

RDK:
Siap-siap ajalah. Biar masyarakat yang menilai. Kalau musik ini berkualitas, dan suara aku juga bagus, pasti bakal diterima. Terus, kalau aku suskes, teman-teman seangkatan aku pasti bakal ikutan.

TNOL:
Kayak pepatah: ”Makin tua makin bersantan”?

RDK:
Kita harus bermusik kayak orang bule. Lihat Madonna. Usianya udah 55 tahun, tapi masih eksis. Itu kan bisa jadi motivator. Kita juga ingin karya-karya kita dihargai oleh pecinta lagu lama maupun baru. Kadang-kadang penyanyi baru juga modal muka aja, kan? Coba kalo disuruh nyanyi live, belum tentu lebih bagus dari penyanyi dulu.

TNOL:
Ceritanya, ingin mengulang kejayaan masa lalu nih?

RDK:
Ingin eksis aja. Nanti juga aku mau orbitin penyanyi-penyanyi baru. Kita kan punya market sendiri-sendiri. Rezeki nggak ke mana-mana kok. Tapi, aku juga nggak keukeuh dengan musik aku zaman dulu. Makanya aku ajak Tohpati, karena menurut aku musiknya kaya dan bisa dijual. Beby juga langsung dapat jiwanya.

TNOL:
Album baru ini untuk kalangan mana?

RDK:
Segmennya 30 tahun ke atas; ABG nggak masuk. Tapi, waktu aku diwawancara di radio, yang banyak nelepon malah ABG. Di facebook-ku yang nge-add juga kebanyakan anak muda.

TNOL:
Dan, seluruh lagu di album ini bernada mellow?

RDK:
Sekarang kan banyak lagu (bernada) gembira, yang mellow jarang. Nah, aku keluarin yang sesuai keadaan. Kalau keluarin lagu gembira, momennya habis, karena kan aku baru sembuh. Jadi, laguku buat penyemangat hidup orang sakit. Intinya, sebagai  motivator. Sekarang ini banyak orang muda yang sakit. Nah, mendengar lagu ini, mereka jadi semangat. Kalau kita minta, mukjizat itu pasti ada kok.

TNOL:
Tapi, tetap punya target, kan?

RDK:
Target pertama sih naik di radiolah. Di (radio) daerah, Pedih sudah masuk top chart. Nggak apa-apa kalau chart aku naiknya pelan-pelan. Daripada cepet, terus turunnya cepet juga? Dari situ baru aku bawa ke TV. Mungkin Maret video klip-nya tayang. Kalau RBT-nya sih udah dari bulan lalu.

TNOL:
Juga masih intensif latihan?

RDK:
Masih dong. Latihan satu jam sendirian di rumah. Kadang-kadang berenang sambil nyanyi. Pas menyelam, kita nyanyi; itu kan susah. Tapi, di situ kita latihan pernapasan. Juga masih sering minum kencur.

TNOL:
Apa yang Anda syukuri pasca operasi?

RDK:
Aku bersyukur banget bisa praktek (dokter gigi) lagi. Tapi, sekarang jumlah pasien aku batasi. Sehari paling 10 orang.

RDK praktek di Tooth Fairy, Jalan Martimbang VI/27, Kebayoran Baru. Telp.: 021-7237024. Selain itu, RDK juga masih mengendalikan perusahaannya, PT. KANDIPA (Kandi Permata Agung), yang bergerak di bidang trading, IT, property, dan interior design.

TNOL:
Ada lagi?

RDK:
Pola makan harus dibenerin, kerja secukupnya, olahraga harus cukup. Sekarang kalo tangan mulai cape, ya, aku berhenti kerja, terus panggil asisten. Kalau dulu, mau dikerjain semua!

TNOL:
Ada yang terasa berubah dalam diri Anda?

RDK:
Setelah berhasil dioperasi, aku seperti punya kehidupan baru. Lebih fresh, lebih ikhlas, nggak mau mikirin yang rumit-rumit. Bisa sehat dan bekerja lagi, sudah alhamdulillah. Mukjizat ini seperti kehidupan kedua yang nggak boleh disia-siakan.

TNOL:
Memang Anda yang dulu seperti apa sih?

RDK:
Aku dulu tuh suka maksain kehendak. Suka marah kalau lihat tim kerjaku lelet. Kalau ada karyawan yang minta izin karena sakit, aku selalu mikir: Kenapa sih sakit-sakit melulu? Tapi, sekarang aku bisa ngerti. Aku jadi berpikir, kalo orang aku gituin, nah, sekarang gantian aku dibalikin: Oh, seperti ini ya rasanya. Jadi, dengan menerima semua apa yang nggak enak, aku bisa merasakan perasaan orang lain.

TNOL:
Dan, kondisi fisik Anda sekarang?

RDK:
Sehabis sakit, berat badanku naik 10 kilogram, karena harus makan banyak protein, belum lagi snacks, dan itu nggak boleh kutolak. Sekarang kalo telat makan atau olahraga kebanyakan, aku masih suka pusing.

Waktu habis koma, aku langsung mens, karena sebelumnya sempat tertahan. Soalnya tumor aku ada hubungannya dengan hormon, dan setelah diangkat jadi normal lagi. Dulu cuma 2 atau 3 bulan sekali.

TNOL:
Setelah operasi, apakah ada yang terasa berubah dengan sitem saraf otak Anda?

RDK:
Justru sekarang aku jadi ingetan banget. Peristiwa-peristiwa yang udah lewat, masih aku inget. Nggak ada memori lama yang ilang.

TNOL:
Adakah sesuatu yang menggelisahkan Anda yang masih ingin Anda lakukan?

RDK:
Aku ingin punya rumah sakit internasional buat mereka yang nggak mampu. Karena kalo nggak ada biaya, nggak ada rumah sakit yang mau menerima. Aku juga ingin membantu anak-anak yatim. Sebetulnya aku sudah punya tempat rehabilitasi kecil-kecilan di Bogor, tapi sempat berhenti. Sekarang mau aku selesaiin bagunannya, biar bisa menampung lebih banyak anak-anak.

TNOL:
Yang terkait dengan spiritual?

RDK:
Aku ingin tiap malam bisa shalat tahajud. Sekarang masih bolong-bolong....

***

Yudhi, Ketua Terano Club Indonesia (TCI)

“Saya pertama kali mendengar lagu-lagu Rita waktu masih remaja lewat TVRI, dan suaranya sangat merdu. Terakhir saya dengar dia mengidap kanker otak, dan saya sangat prihatin.

“Tapi, saya salut mendengar perjuangan hidupnya. Karena, kita tahu, jika seseorang sudah divonis kanker otak, maka kesempatan hidupnya kecil. Namun,  tampaknya Rita dapat menjalankan hidupnya dengan sabar.”

Dicky, Anggota Sabhawana

“Saya masih ingat dengan wajah cantik Rita Dinah Kandi. Dan, saya berharap Rita bisa sembuh, lalu kembali bernyanyi.

”Saya sangat suka dengan jenis musik pop yang seperti Rita bawakan. Tidak seperti musik zaman sekarang yang nggak jelas juntrungannya.”

A. Judiarto, Ketua Ikatan Motor Indonesia IMI (DKI Jakarta)

“Rita Dinah Kandi adalah artis yang sangat populer di masanya. Saya melihatnya pertama kali di TV. Dia membawakan lagu-lagu pop melankolis.

“Saya sangat senang dengan musik-musik pop. Saya ingin Rita kembali aktif bermusik seperti dulu, dan melahirkan album-album baru yang dapat mewarnai belantika musik Indonesia.”


Laporan: Novriyadi, Yesi