![Alam Bawah Sadar atau Intelegensia tanpa batas seperti gunung es yang besar bagian bawahnya [Foto: Istimewa]](/images/stories/2010/Februari/Spiritual/PSIKOLOGI/ITB/alam-bawah-sadar.jpg) Alam Bawah Sadar atau Intelegensia tanpa batas seperti gunung es yang besar bagian bawahnya [Foto: Istimewa] Relaksasi adalah suatu aktivitas manusia dalam rangka mencapai suatu kondisi yang stabil baik fisik, mental, pikiran maupun emosi. Sebutan yang lebih mudah dipahami adalah meditasi. Dalam Islam lebih dikenal dengan istilah dzikrullah.
Relaksasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya memberdayakan kemampuan Intelegensi Tanpa batas. Tanpa relaksasi, rasanya sulit sekali seseorang akan berhasil mengaktifkan kerja Intelegensi Tanpa Batas. Mengapa demikian?
Kekuatan bawah sadar (Intelegensia Tanpa Batas) baru bisa diaktifkan bila kita berada dalam keadaan alpha. Saat kita menulis sesuatu sambil mendengarkan musik, lalu ada kendaraan berlalu di depan rumah, dan kita bisa mendengarkannya, itu pertanda bahwa kita bisa memikirkan dua hal atau lebih sekaligus, di antaranya; kita berpikir tentang sesuatu yang akan ditulis, menikmati musik (mendengar), dan sadar ada mobil yang lewat.
Setidaknya ada 3 hal yang bisa diingat oleh pikiran kita. Saat seseorang menjalankan pesawat terbang super modern, mungkin saja pikirannya harus memonitor 10-20 panel sekaligus. Belum lagi kondisi badannya, apakah sakit kepala, sakit perut atau tidak, apakah posisi duduk cukup nyaman atau tidak, dan seterusnnya. Semakin banyak yang dipikirkan otak secara simultan dalam waktu yang semakin lama, akan semakin meningkatkan ketegangan (stress) yang ada.
Dalam kondisi demikian, suara Intelegensi Tanpa Batas (ITB) sulit sekali tertangkap. Suara ITB kalah prioritas dibandingkan panel-panel kontrol tersebut. Masih ingat bukan, pikiran sadar bekerja karena ada informasi masuk yang berasal dari panca indra, terutama indra penglihatan dan pendengaran.
Suara ITB itu sendiri dapat terdengar bila pikiran sadar dinonaktifkan. Ini dapat dilakukan bila kita menonaktifkan kerja panca indra. Mata ditutup, telinga disumbat, kerja pikiran dan perasaan dihentikan bila mungkin. Ini adalah cara praktis memasuki kondisi alpha. Cara paling efektif menangkap suara ITB adalah kalau kita dapat memasuki kondisi alpha.
 Foto: Istimewa Dalam kondisi alpha hanya ada satu hal yang dapat dikerjakan oleh pikiran sadar. Kalau kita menyumbat pikiran sadar dan sedang menunggu jawaban ITB atas keinginan yang baru saja kita sampaikan, maka satu-satunya informasi yang berada di pikiran sadar adalah yang diberikan ITB.
Seperti disebutkan di atas, kondisi alpha dapat diperoleh bila kita mengistirahatkan semua panca indra, pikiran, dan perasaan kita. Begitu juga dengan organ-organ kita yang lain jika memungkinkan. Oleh sebab itu, saat memasuki kondisi aplha sangat dianjurkan kita berada di ruangan yang sejuk, remang-remang, sangat dianjurkan di waktu malam agar diperoleh suasana tenang dan hening. Semua ini dilakukan agar konsentrasi kita tidak terganggu, misalnya oleh suara bising, cahaya yang masuk, atau oleh bau-bauan yang tidak sedap. Adapun perut yang kosong bertujuan mengistirahatkan kerja organ-organ pencernaan makanan.
Relaksasi dimulai dengan menutup kedua mata kita seperti orang tidur. Saat relaksasi, kita diperintahkan mengabaikan semua lintasan pikiran yang masuk (jangan dilawan ataupun diikuti hal-hal yang tiba-tiba memasuki pikiran kita). Kita pun diperintahkan untuk mengambil posisi sesantai mungkin. Bila muncul rasa gatal di bagian tangan misalnya, kita dibolehkan menggaruk secara perlahan. Bila rasa gatal tidak digaruk dikhawatirkan akan memancing pikiran kita untuk memikirkannya. Hal yang sama juga berlaku jika kita ingin bersin dan batuk. Jangan ditahan. Lakukanlah sepelan mungkin.
Saat melakukan relaksasi, kita diminta mengucapkan kata 'rilis'* sepelan mungkin, selembut mungkin seolah-olah kita berbisik kepada seorang bayi. Itu pun dilakukan hanya dalam hati. Katakanlah kata-kata 'rilis; tanpa bersuara. Lakukanlah ucapan itu setiap 15-20 detik sekali. Nilai itu bukan harga mati, tetapi sekadar perkiraan saja. Melenceng pun tidak mengapa. Dan yang dimaksud dengan rilis adalah semacam kata yang ditujukan untuk melepaskan ketegangan-ketegangan, juga dimaksudkan untuk memusatkan perhatian kita pada satu titik. Kata ini bisa juga diganti dengan kata-kata seperti: Allahu Akbar, Alhamdulillah, Subhanallah, dan sebagainya.
 Foto: Istimewa Kita pun diminta untuk menghindari imajinasi apapun yang muncul dalam pikiran agar konsentrasi kita tidak terganggu. Pendek kata, semua hal dilakukan agar kondisi hening terpenuhi. Bila kondisi hening (alpha) ini tercapai, maka keinginan yang akan kita ajukan (disimpan pikiran sadar) akan menjadi satu-satunya infromasi yang sampai ke tangan ITB. Setelah menerima permintaan ini, ITB akan mengolah dan jawaban akan diberikan kepada pikiran sadar, bisa diberikan segera bisa juga setelah beberapa lama kemudian.
Selama proses relaksasi berlangsung, terjadilah apa yang disebut proses pelepasan ketegangan. Gelembung-gelembung udara terasa keluar dari kepala kita. Gejala yang muncul pada tiap orang tidak sama. Umumnya, orang merasa sangat mengantuk, muncul rasa gatal pada bagian-bagian tertentu pda tubuh, ada keinginan untuk bersin, batuk, atau pusing walau saat itu tidak sedang terkena influensa. Pusing pun ada yang berat dan ada pula yang ringan.
Semua itu bersifat sementara, karena pada akhirnya akan hilang dengan sendirinya. Usai relaksasi badan biasanya menjadi ringan, karena sebagian stress lepas dari diri kita. Ini proses pelepasan ketegangan yang paling efektif. Saat seseorang berada jauh dari ketegangan, keinginan-keinginannya mudah terdengar ITB dan direalisasikan.
Tidaklah terlalu mengherankan bila Islam menganjurkan dzikrullah agar diperoleh ketenangan. Ketenangan membuahkan keyakinan bahwa doa kita akan terkabul. Hanya dengan ingat kepada Allah (Dzikrullah) hati akan menjadi tenang (QS. 13:28). Relaksasi diakhiri dengan membuka mata secara perlahan-lahan, agar tidak muncul reaksi sakit kepala.
|