tnol.co.id > Liputan > Sakit Paru-paru, Leo Waldy Ingin Bertemu Basofi Sudirman

Sakit Paru-paru, Leo Waldy Ingin Bertemu Basofi Sudirman

Written by Safari Sidakaton

Friday, 08 June 2012

Seminggu tiga kali, Leo Waldy harus datang ke klinik flek paru-paru.

Leo Waldy, berjuang atasi sakit flek paru-parunya./ Foto: Safari TNOLLeo Waldy, berjuang atasi sakit flek paru-parunya./ Foto: Safari TNOL"Tidak semua
laki-laki
bersalah padamu

Contohnya aku
mau mencintaimu
Tapi mengapa
engkau masih ragu...."

Bait lagu dangdut berjudul Tidak Semua Laki-laki yang dinyanyikan Basofi Sudirman, kala itu Wakil Gubernur DKI, pernah sangat populer pada era tahun 1992-an. Dari lagu itu pula, mengantarkan Basofi Sudirman menjadi Gubernur Jawa Timur. Nah, si pencipta lagu yang meraih berbagai penghargaan tersebut adalah Leo Waldy.

Nama Leo Waldy memang identik dengan musik dangdut. Hingga saat ini sudah ratusan judul lagu dangdut yang telah diciptakannya. Selain Tidak Semua Laki-laki, lagu dangdut yang telah diciptakannya antara lain berjudul Pasrah, Tak Sebening, Pengadilan Cinta, Nurlela, Rela dan Bukan yang Pertama. Banyak penyanyi dangdut pun telah meraih sukses ketika menyanyikan lagu ciptaan Leo Waldy, seperti Muchsin Alatas dan Yus Yunus.

Leo Waldy saat masih muda./ Foto: IstimewaLeo Waldy saat masih muda./ Foto: IstimewaKini, Leo Waldy (54) tengah terkulai lemah akibat penyakit liver dan flek paru-paru yang telah dideritanya sejak tahun 2004. Saat ini ia juga menempati kamar kos-kosan berukuran 4 x 4 meter di The Orange Residence yang terletak di  Jl Pembangunan 3 Petojo Utara, Jakarta Pusat (belakang Gajah Madah Plaza).  Di kos-kosan tersebut, Leo Waldy menempati kamar bernomor 22 bersama dengan istri dan tiga anaknya. Sudah tiga bulan Leo Waldy dan keluarganya menempati kamar kos-kosan yang harga sewanya  Rp 2,5 juta perbulan tersebut.

Sehari-hari ia hanya mampu berbaring di tempat tidur yang berukuran 2 x 2 meter. Tidak ada aktivitas lainnya yang dilakukan selain tidur. Mengingat ukuran tempat tidur tersebut yang tak terlalu besar bagi mereka berempat, maka mereka pun harus berbagi. Jika tidak ada ruang di tempat tidur tersebut maka ada diantaranya yang harus tidur di lantai. Saat TNOL berkunjung ke kamar kosnya,  Kamis (7/6) kemarin, Leo baru saja terbangun dari tidurnya. Penampilannya agak pucat, bobot badannya juga menurun drastis.

"Sekarang beratnya 40 kg. Kalau dulu 53 kg," kata Natalia, istri Leo Waldy yang dengan setia menemani dan mengantarkannya ke klinik pengobatan flek paru-paru.

Harus berobat tiga kali seminggu ke klinik flek paru-paru./ Foto: Safari TNOLHarus berobat tiga kali seminggu ke klinik flek paru-paru./ Foto: Safari TNOLMenurut Natalia, sebelum berobat jalan ke klinik flek paru-paru, Leo Waldy berobat di RS Husada. Namun karena biaya di RS tersebut sangat mahal maka Leo memilih berobat jalan di klinik yang berada tidak jauh dari kos-kosannya tersebut. Leo Waldy harus rutin dan tidak boleh telat berobat untuk mengobati penyakit flek paru-parunya tersebut.

Seminggu tiga kali, Leo Waldy harus datang ke klinik flek paru-paru. Jika kondisi Leo Waldy tidak mampu untuk berjalan, maka dokter yang datang ke kos-kosannya. Setiap satu kali suntik sedikitnya ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 600 ribu. Biaya tersebut belum termasuk harga obat dan lain-lainnya. Untuk membiayai pengobatan dan sewa kos-kosannya tersebut, lelaki kelahiran Jakarta, 31 Juli 1958 ini hanya mengandalkan dari penjualan lagu-lagunya ke sejumlah perusahaan rekaman.  

Menggantungkan hidup hanya dari penjualan lagu-lagunya./ Foto: IstimewaMenggantungkan hidup hanya dari penjualan lagu-lagunya./ Foto: IstimewaSelain itu ada juga bantuan dari teman-temannya. Diantaranya yang sudah datang menjenguk adalah Dina Mariana, Jelly Tobing, Yus Yunus dan Maya Angela. Selain itu ada juga perwakilan dari Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI). "Saya tidak punya usaha lain selain menjual lagu. Jadi dari lagu itu saya mengandalkan untuk membiayai pengobatan dan sewa kos," kata Leo Waldy lirih.

Ingin Bertemu Basofi Sudirman

Saat ini ada satu keinginan dari Leo Waldy dan keluarga yang sudah lama ingin dicapainya. Keinginan tersebut adalah bertemu dengan Basofi Sudirman. Natalia menilai, sosok Basofi Sudirman sangat bijaksana sehingga ketika mengetahui kondisi Leo Waldy saat ini pasti akan membantunya. Apalagi ketika lagu Tidak Semua Laki-laki yang dibawakan Basofi Sudirman, Leo Waldy dan keluarganya tidak pernah meminta apapun dari kesuksesan lagu tersebut.

"Terakhir kita ketemu tahun 1997, saat syuting lagu Hanya Kau Kupilih di Malang, Jawa Timur," ujar Natalia. **MS

Artikel Lainnya

Kamis 24/07/2014 12:00 WIB

Gunakan Bom Panah, Israel Sengaja Habisi Warga Gaza

Kamis 24/07/2014 10:20 WIB

Ketua KPU Bantah Tudingan Bahwa Istrinya Adik Istri JK

 

Add comment


Security code
Refresh