Candi Kalasan yang terlihat lapuk termakan usia/ Foto-foto: Novri TNOLPernah mendengar Candi Kalasan? Nah, bagi Anda yang kebetulan berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa mengunjungi candi ini! Karena, selain dikenal sebagai candi Buddha tertua di Yogyakarta, candi ini juga memiliki beragam keunikan dan sejarah dibandingkan candi-candi yang ada di wilayah Yogyakarta.
Candi ini terletak di Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, yaitu sekitar 2 km di sebelah barat dari Candi Prambanan. Candi ini dibangun sebagai persembahan untuk Dewi Tara dan biara bagi para pendeta. Dibangun tahun 778 M, candi ini merupakan candi tertua yang ada di Yogyakarta.
Candi KalasanCandi Kalasan dibangun atas perintah Rakai Panangkaran; hal ini dapat diketahui dari prasasti kuno yang ditemukan tidak jauh dari candi. Dengan huruf bercorak Pranagari dan Sansekerta, disebutkan bahwa candi ini didirikan oleh Raja Tejahpurna Parapkarana (Kariyana Panangkaran), dari wangsa Syailendra (Syailendra Wangsatikala).
Candi Kalasan terkenal sebagai candi yang indah hiasannya dan sangat halus pahatan batunya. Ada keistimewaan lain dari Candi Kalasan ini, yakni pelapis ornamen-ornamen pada dinding luarnya yang biasa disebut bajralepa, suatu bahan berwarna kuning yang terbuat dari getah beberapa tanaman.
Fungsinya, sebagai perekat dan pelindung terhadap kerusakan dan menjaga ukiran serta memperindah relief dindingnya.
Bangunan Candi Kalasan atau Candi Tara mempunyai tinggi 34 meter, panjang dan lebar 45 meter. Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Bagian terbawah candi merupakan kaki candi yang berdiri di sebuah alas batu yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45 meter dan sebuah batu lebar.
Patung arca yang rusakCandi Kalasan ini memiliki stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 meter, berjumlah 52 buah di sekelilingnya. Namun, sayangnya kondisi Candi Kalasan saat ini terbilang sangat rusak termakan zaman. Saat TNOL berkunjung, tangga masuk yang menghubungkan kedalam pintu utama candi, rusak total. Sehingga, mengharuskan pengunjung untuk memanjat batu-batu besar untuk bisa masuk ke dalam candi ini.
Di beberapa sisi dinding bangunan ini, juga terlihat sangat rusak. Banyak batu-batunya hancur sehingga candi ini tidak lagi menunjukkan wujud aslinya seperti dahulu kala.
“Sampai saat ini belum ada upaya perbaikan dari pemerintah dan badan internasional untuk merenovasi candi ini,” jelas salah satu penjaga candi yang tak mau disebut namanya.
Begitu juga dengan fasilitas kenyamanannya terbilang sangat minim, seperti kecilnya lahan parkir, tidak ada fasilitas toilet, atau pun tempat sampah. Candi ini memang masih kalah pamor dengan Candi Prambanan dan Candi Borobudur di Yogyakarta; mungkin masih kurang megah dibandingkan dengan dua candi tersebut.
Sehingga, pengunjung yang datang ketempat ini terbilang jarang sekali. Sungguh sangat disayangkan, jangan sampai bangunan bersejarah ini terlupakan dan hancur termakan zaman! (Sbh)