Menikmati malam tahun baru di Malioboro, ternyata seru juga dan pastinya murah pula....
Jalan Malioboro. (Foto: Rudi Rachmat)Adalah wajar kalau Jalan Malioboro akhirnya menjadi 'kembang' Kota Yogyakarta, mengingat kata 'malioboro' berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'karangan bunga'. Kini, Jalan Malioboro telah menjadi ikon ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X itu, yang pesonanya sangat menarik wisatawan domestik dan mancanegara mengingat Malioboro juga menjadi 'surganya' cinderamata.
Bukan cuma cinderamata yang unik dan cantik, di Malioboro kita juga dapat berburu berbagai barang lainnya, mulai dari batik klasik, emas dan permata, hingga peralatan rumah tangga. Merupakan kenikmatan tersendiri apabila kita bisa berjalan kaki di bahu jalan, sambil menawar beraneka barang yang dijajakan oleh pedagang kaki lima. Begitu juga saat kita menyusuri lorong-lorong di Pasar Beringharjo. Di Malioboro kita juga dapat menikmati makan malam yang romantis di warung-warung lesehan, sembari mendengarkan nyanyian pengamen jalanan. Maka, tak salah kalau ada yang mengatakan; jalan-jalan ke Yogyakarta tanpa mengunjungi Malioboro serasa 'makan nasi tanpa garam'.
Penjual terompet. (Foto: Rudi Rachmat)Menikmati suasana malam di Maliobo terasa sangat mengasyikkan. Selain berbelanja dan makan lesehan, kita juga dapat menikmati ronde jahe yang hangat, sate ayam yang digendong, serta grup pengamen musik tradisional dari bambu dan kendang. Sayangnya, di malam pergantian tahun 2011-2012, grup musik pengamen itu tak terlihat turut menghibur massa, mungkin dikhawatirkan akan menimbulkan kemacetan, mengingat sejak pukul 18.00 hingga pukul 01.00 WIB jalanan sepanjang Malioboro dan Ahmad Yani sudah ditutup untuk kendaraan roda empat. Dan itu terbukti dengan berdatangannya masyarakat, baik berjalan kaki, menggunakan sepeda ataupun sepeda motor, becak maupun andong, menuju Malioboro sejak pukul 19.00 sehingga mulai menimbulkan kemacetan.
Kemacetan lalu lintas. (Foto: Rudi Rachmat)Tak ayal, kemacetan telah membuat banyak kendaraan roda empat terjebak, sehingga stuck di Jalan Ahmad Dahlan dan Jalan Senopati, mengingat sepanjang daerah letter T: Malioboro, Jalan Ahmad Yani, Jalan Ahmad Dahlan, serta Jalan Senopati, telah menjadi lautan manusia sejak pukul 20.00 WIB. Apalagi, terdapat panggung kesenian rakyat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, yang menampilkan karawitan serta wayang kulit. Selain itu, pertunjukan jalanan di seberang Benteng Vredeburg, berupa kuda lumping, juga menambah kemeriahan malam pergantian tahun. Sepeda serta sepeda motor, yang berhenti dan diduduki oleh pengemudinya, yang malang-melintang di sepanjang jalan-jalan, turut membuat kemacetan yang juga melanda pejalan kaki. Suasana benar-benar semakin ramai dan padat, namun kian meriah.
'Lautan' manusia. (Foto: Rudi Rachmat)Selain Malioboro, sekaten (pasar malam) yang berlangsung di Alun-alun Utara, juga menjadi tujuan masyarakat yang berbondong-bondong menyambanginya. Begitu pula Alun-alun Selatan, yang terkenal dengan pohon beringin kembar yang besar dan tua serta permainan tutup mata melewatinya. Maka wajarlah kalau masyarakat tumpah-ruah di daerah tersebut. Apalagi pesta kembang api rencananya juga akan berlangsung di situ.
Pesta kembang api juga berlangsung di Simpang Empat Tugu Yogyakarta, yakni di Jalan Sudirman, Jalan Diponegoro, dan Jalan AM Sangaji, serta di Simpang Tiga Terban, Jalan Cornel Simanjuntak.
Panggung organ tunggal polisi. (Foto: Rudi Rachmat)Pos Polisi Pospam Teteg, di selatan pintu kereta api Stasiun Tugu menuju jalan masuk Malioboro, yang sedang mengadakan Operasi Lilin Progo 2011 di malam itu, tak kalah simpatiknya. Mereka membuat panggung sederhana di samping pos tersebut, yang dilengkapi dengan organ tunggal, di mana satu-persatu anggota kepolisian bernyanyi secara bergantian menghibur masyarakat, di tengah kesibukan mereka melakukan pengamanan serta mengatur lalu-lintas. Benar-benar suatu pertunjukan yang menarik dan cukup menghibur.
Pedagang-pedagang kali lima, yang biasanya tutup mulai pukul 22.00 di malam itu banyak yang baru bisa tutup pada pukul 23.00 WIB, mengingat masih ramainya masyarakat yang hendak berbelanja. Jadilah malam itu teramat istimewa bagi para pedagang kakli lima. Senyum tampak menghiasi wajah mereka, karena menangguk untung yang berlebih dari malam biasanya.
Penjual ronde jahe. (Foto: Rudi Rachmat)Tepat pada pukul 00.00 kembang api yang dinyalakan oleh masyarakatpun memenuhi langit Malioboro, cercahan api itu sangat kontras dengan gelapnya angkasa. Bunyi petasan serta nyala kembang api membangunkan burung-burung walet yang bertengger di gedung-gedung tua di jalan itu, sehingga membuat mereka berterbangan di malam buta, menambah meriahnya suasana bermalam Tahun Baru 2012 di jalan yang telah melegenda itu. Suara terompet ditiup bersahut-sahutan. Beberapa kelompok massa tampak saling bersalaman untuk mengucapkan 'selamat tahun baru'. Banyak wisatawan yang juga memenuhi tempat itu mengabadikan peristiwa itu dengan kamera.
Melewati pergantian tahun 2012 dengan semangkok ronde jahe yang hangat di Malioboro, memang terasa sungguh mengesankan!