Banyak fakta dan bukti sejarah yang didapat ketika mengunjungi Museum Jenderal Besar AH Nasution. Selain itu, kisah kehidupannya yang menyayat juga terungkap cukup detail...
Diorama Jenderal Nasution melompat tembok disaksikan istri dan anaknya Ade Irma Suryani yang berlumuran darah/ Foto-foto: Nopi TNOL
BERWISATA tak hanya bisa dilakukan ke daerah-daerah yang memiliki pemandangan menarik saja. Karena, bisa juga dilakukan ke tempat-tempat bersejarah, salah satunya ke Museum Jenderal Besar A.H. Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40.
A.H. Nasution merupakan salah satu Jenderal Besar yang dimiliki Indonesia. Sangat berperan dalam pergerakan kemerdekaan dan salah satu jenderal yang hampir terbunuh dalam pemberontakan G 30S PKI tahun 1965 bersama putrinya Ade Irma Suryani.
Ibu Nasution ingin menelpon...Nah, pada 17 Juli kemarin, salah satu anggota komunitas pecinta seni, budaya dan sejarah Love Our Heritage (LOH) Graece Tanus mengajak TNOL dan tiga orang peserta jelajah tempat ibadah di sekitar Pasar Baru yaitu Ina, Dian serta Vanda menyambangi museum tersebut. Kami menelusuri museum setelah menjelajahi tempat ibadah di Pasar Baru dengan menggunakan dua buah kendaraan.
Tidak memerlukan waktu lama mencapai museum lantaran lokasi tidak terlalu jauh dari Pasar Baru. Di museum, kami disambut dengan ramah oleh sang penjaga museum bernama Royen. Royen pula yang menemani kami mengelilingi serta menjelaskan tentang museum. Di museum, pengunjung wajib mengisi buku tamu. Museum merupakan kediaman A.H. Nasution sejak menjadi KSAD tahun 1949 sampai wafatnya 6 September 2000.
Pasukan Tjakrabirawa mendobrak pintu...Di sana, Nasution menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negera. Tercatat sudah 70 judul buku yang dihasilkan. Selain tempat menuangkan ide-ide kreatif, lokasi itupula menjadi saksi bisu kegaganasan Gerakan 30 September 1965, dimana Nasution menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan. Namun, ia lolos dari peristiwa dramatis tersebut. Sayang anak keduanya, Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu Czi Pierre Tendean gugur.
Semua peristiwa penculikan dan penembakan tergambarkan dalam diorama. Diorama baru terlihat ketika pengunjung masuk kedalam museum. Di depan museum sendiri terdapat patung Jenderal Besar Nasution dan bendera Merah Putih. Di bawahnya terdapat taman kecil yang melambangkan tanggal lahir Nasution 3 Desember 1918. Masuk ke ruang utama, pengunjung bisa menyaksikan ruang tamu kediaman keluarga.
Dipan dan tongkat saat jenderal Nasution sakitLebih ke dalam lagi, terdapat ruang kerja Nasution. Di ruang kerja ini, pengunjung bisa melihat diorama Nasution sedang menulis, karya-karya yang dihasilkan serta penghargaan yang pernah didapatkannya.
Di sisi kiri terdapat ruang Kuning merupakan tempat penerima tamu VIP baik dalam dan luar negeri. Dikatakan ruang kuning lantaran seluruh lokasi lebih dominan berwarna kuning baik dari tembok, tirai dan tempat duduk.
Diantara ruang kuning dan ruang kerja itulah, terdapat sebuah jalan menuju kamar Nasution dan anak-anak, Hendrianti Sahara dan Ade Irma Suryani. Nah, di lorong tersebut pengunjung bisa melihat diorama tentara yang akan menculiknya. Lalu bekas peluru-peluru tembakan juga masih bisa dilihat di depan pintu kamar Nasution. Di dalam kamar tersebut, juga ditampilkan beberapa koleksi pakaian dan alat kesehatan yang digunakan Nasution.
Ruang kuningSelanjutnya, pengunjung bisa melihat bagaimana Nasution menyelamatkan diri dari penculikan. Nasution melompati tembok kediaman Duta Besar Irak disaksikan sang istri dan anaknya Ade Irma Suryani yang sudah berlumuran darah. Diorama berada di ruangan seragam Angkatan Darat atau ruang Gamad. Tak hanya itu, diorama istri Nasution, Johanna Sunarti yang akan menghubungi Pangdam Jaya Umar Wirahadikusuma sambil menggendong Ade Irma Suryani juga ada di ruang makan.
Ruang kerja NasutionBahkan, telepon yang akan dipakai masih tetap berada di tempatnya. Lengkap dengan pasukan Tjakrabirawa menenteng senjata mengarah ke istri sang Jenderal. Sementara kamar Ade Irma Suryani, pengunjung dapat melihat benda-benda kesayangannya. Benda bersejarah lain seperti pakaian yang dikenakan Ade Irma Suryani saat tertembak juga ada. Di kamar itupula, terdapat tongkat yang digunakan Nasution saat melepas pahlawan Revolusi.
Lalu tongkat serta dipan yang dipakai ketika dirinya menjalani perawatan di Makostrad. Sementara kamar Hendrianti Sahara menjadi ruang yang menyajikan koleksi senjata tradisional maupun senjata api kepunyaan Nasution. Di luar bangunan utama, terdapat relief perjalanan hidup Nasution. Di belakang relief, ada bangunan tempat para ajudan. Lokasi tersebut berada di sisi kiri.
Mobil Nasution berplat bintang limaDi sana, terdapat diorama pasukan Tjakrabirawa melumpuhkan para penjaga rumah Nasution serta penangkapan Pierre Tendean yang mengaku sebagai Nasution. Tendean mengaku sebagai Nasution untuk menyelamatkan atasannya dari penculikan. Di belakang diorama tersebut, pengunjung dapat melihat diorama Bandung Lautan Api, Hijrah Siliwangi, MBKD di Kepurun dan sidang MPRS.
Museum dilengkapi ruang perpustakaan yang menyimpan buku-buku karya Nasution maupun buku umum. Pengunjung bisa membaca buku-buku sebagai bahan refrensi. Di halaman rumah, pengunjung dapat menyaksikan mobil Volvo Nasution. Di depan dan belakang mobil itu terdapat tanda bintang lima. Mobil merupakan pemberian B.J. Habibie ketika Nasution dianugerahi sebagai Jenderal Besar pada 5 Oktober 2007. Tak jauh dari mobil, ada sebuah kolam ikan.
Benda-benda kesayangan Ade Irma SuryaniMenurut Royen, kolam sempat ditutup oleh keluarga Nasution lantaran mengingatkan mereka kepada Ade Irma Suryani. “Ade Irma Suryani sangat suka dengan kolam ini dan dia sering bermain di sana,” imbuh Royen.
Pasca meninggalnya Nasution sendiri, keluarga masih tinggal di sana. Pada 29 Juli 2008, keluarga pindah karena lokasi akan direnovasi menjadi pembangunan museum.
Museum diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Desember 2008 silam. Museum terbuka bagi kalangan umum dan tidak dikenakan biaya. Museum buka dari pukul 08.00-14.00 WIB. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post