Afriyani Susanti dan mobil Xenia 'maut'-nya/ IstimewaInsiden mobil Daihatsu Xenia (B 2479 XI) yang menyeruduk para pejalan kaki dan menghancurkan halte bus di Jalan MI Ridwan Rais, arah Tugu Tani, persis di depan Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada Minggu (22/1), hingga menewaskan sembilan orang dan empat lainnya luka-luka, menjadi 'peristiwa kolosal' pekan ini yang memiliki news value sangat tinggi.
Pertama, mobil tersebut dikendarai Afriyani Susanti (29), yang terbukti sedang mabuk berat gara-gara menenggak narkoba.
Kedua, sebuah mobil menabrak belasan orang sekaligus, dan menewaskan 8 orang di tempat – satu orang lagi meninggal di rumah sakit – amat jarang terjadi. Bahkan, di film-film Hollywood yang kontroversial, atau di sinetron Indonesia yang tak masuk akal, adegan serupa itu rasanya belum pernah ada.
Ketiga, selain sedang mabuk, Afriyani Susanti juga tak memiliki SIM (alias, SIM-nya sudah lama mati); sementara Xenia yang dikendarainya tak dibekali STNK. Fakta ini secara langsung melemparkan realita, bahwa banyak orang (bisa dipastikan Afriyani Susanti tak sendirian) ternyata berani mengendarai mobil meskipun sedang mabuk, tak punya SIM, dan tak membawa STNK.
'Kenekatan' itu, boleh jadi, karena mereka tahu, hukum dan aparat (polisi) yang bertugas di lapangan tak pernah sungguh-sungguh berfungsi. Asumsi gampangnya (dan ini sudah dibuktikan dengan banyak fakta) kalaupun tertangkap di jalan, mereka tetap bisa lolos. Mudah saja, hanya dengan memberikan 'tips' Rp 50 ribu, atau bahkan Rp 20.000.
Ironisnya, terkait Afriyani Susanti, menurut Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution, ia dijerat dengan pasal berlapis; yakni Pasal 283, Pasal 288 ayat 1 dan 2 , Pasal 310 Undang-undang (UU) no 22/2010 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan; plus Pasal 127 UU No 35/2009 tentang Narkotika. Terhadap pelanggar pasal-pasal dalam undang-undang lalu-lintas tersebut, tambah Saud, "Terancam dengan hukuman pidana maksimal enam tahun penjara."
Jadi, Afriyani Susanti, yang sudah 'membunuh' sembilan orang sekaligus itu, hanya bakal diganjar enam tahun penjara?
“Tuh, kan, satu bukti lagi betapa hukum di Indonesia demikian 'uenak tenan' dan seringkali mencabik-cabik rasa keadilan publik….!”
Keempat, sebelum insiden terjadi, Afriyani Susanti –dan ketiga rekannya yang ikut dalam mobil– ditengarai sempat mendatangi tiga tempat (Hotel Borobudur, sebuah klub malam di kawasan Kemang, Stadium Discotheque di kawasan Kota) dan berganti-ganti mengonsumsi narkoba disitu. Fakta ini kembali membuktikan bahwa narkoba kian gampang diperoleh di Indonesia, khususnya di Jakarta.
Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pemakai narkoba sepanjang tahun 2011 mencapai 3,6 juta jiwa (itu yang terdata, lho. Kalau ditambah dengan yang tidak terdata, pasti lebih banyak lagi….). Sementara jumlah kasus narkoba meningkat pesat –dari 23.531 kasus pada 2010, menjadi 26.500 kasus di 2011.
Paralel dengan itu, peredaran ekstasi melonjak 110%; dari 371.197 tablet (2010), menjadi 780.885 (2011). Sedangkan sabu, naik dari 283 kg (2010), jadi 433 kg pada 2011. Itu pun ditambah 15.000 jiwa yang melayang sia-sia.
Sementara itu, menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyelidikan Kantor Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Gatot Sugeng, dalam kurun waktu dua minggu (sejak 1 s/d 16 Januari 2012), sudah ada tiga kasus penangkapan penyelundupan narkoba, dengan barang bukti 1,3 kg sabu senilai Rp 12,6 miliar. Jumlah itu, pasti membengkak kalau digabungkan dengan kasus tangkapan serupa sepanjang 2011.
Komisi Perlindungan Anak juga mencatat, pasien ketergantungan narkoba di rumah sakit spesialis meningkat pesat. Dari 2.090 jiwa pada 2009, menjadi 8.017 tahun 2011.
Maka, kalau saja Pemerintah mau, kasus 'tabrakan maut' di Tugu Tani ini bisa dijadikan 'momentum' untuk memberantas narkoba di Indonesia sampai ke akar-akarnya. (Kalaupun Pemerintah ogah, yok, TNOL aja deh yang bikin momentumnya, haha....)
Kelima, suka tak suka, tentu harus meninjau-ulang kondisi mobil Xenia, plus 'saudara kembarnya', Avanza. Pertanyaan yang sejak lama beredar di masyarakat adalah: Benarkah kedua mobil itu sudah melalui uji kelaikan, dan dipastikan aman? Mengapa selama ini ada julukan pada keduanya sebagai 'mobil samber nyawa'? Apakah karena kebetulan 'mereka' paling sering mengalami kecelakaan (sengaja atau tidak), atau memang kualitas (bodi Avanza/Xenia yang terbuat dari kaleng, misalnya) dan teknologinya sangat buruk?
Bukan bermaksud menjadikan Xenia, atau Avanza, sebagai kambing hitam. Namun, sebelumnya, dan nyaris setiap hari, konon, selalu ada saja Avanza/Xenia yang mengalami kecelakaan lalu-lintas di jalan raya di seluruh Indonesia. Bahkan, kabarnya, angka kecelakaan kedua kendaraan ini beda-beda tipis dengan kecelakaan sepeda motor (data soal ini sedang dicari; mungkin ada yang bisa membantu?).
Tahun lalu (3/9/ 2011), kasus kecelakaan Avanza yang sempat bikin heboh adalah ketika artis dangdut, Saipul Jamil, hilang kendali di ruas Tol Cipularang, Jawa Barat, hingga mobilnya terguling-guling. Dalam kecelakaan tunggal tersebut, istri Saipul Jamil, Virginia Anggraeni, tewas di tempat.
Dan, tak lama setelah Saipul kecelakaan, Menteri Perhubungan, Freddy Numberi, pada September 2011, berjanji akan mengevaluasi kelaikan mobil Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. "Ada yang bilang, mobil Avanza (juga Xenia) itu harus dievaluasi, karena yang kecelakaan semua itu kan Avanza dan Xenia," kata Fredy.
Entah janji evaluasi itu benar jadi dilakukan Pak Menteri atau tidak, namun, yang pasti, banyak orang memang sudah lama pula mempertanyakan sistem dan fitur keselamatan dari mobil Avanza-Xenia; terutama dalam hal uji tabrak berskala internasional yang, konon, belum pernah mereka lakukan.
Sekadar informasi, Avanza-Xenia saat ini memang masih menjadi mobil jenis MPV paling laku di Indonesia. Sepanjang tahun 2011 saja, Avanza terjual 162 ribuan unit (sekitar 61,04% dari pasar Low MPV di Indonesia), sedangkan Xenia terjual 66 ribuan unit (25,13%).
Harganya yang murah-meriah (Avanza terbaru, misalnya, 'cuma' dibandrol antara Rp 145,75 juta s/d Rp 182,9 juta per unit; sementara Xenia berkisar Rp 115,4 juta s/d 150,2 juta per unit), pada akhirnya membuat orang-orang yang semula terbiasa membawa sepeda motor, kini (setelah rajin menabung dan punya duit lebih) beralih mengendarai Avanza-Xenia.
Bukan, ini bukan bermaksud 'mengecilkan' masyarakat pengendara motor, tapi kecenderungannya memang begitu. Berdasarkan riset sebuah majalah otomotif, orang Indonesia membeli Avanza-Xenia karena dua alasan: memang sangat membutuhkan sebagai kendaraan keluarga, atau, yang kedua, ingin 'naik status' –dari pemilik sepeda motor jadi pemilik mobil.
Boleh jadi karena kurang berpengalaman menyetir mobil, orang-orang ini sering 'seenaknya' berkendara di jalan. Ditambah jumlahnya yang memang amat banyak (sejak diluncurkan tahun 2004 s/d Oktober 2011, sudah terjual 981.230 unit Avanza-Xenia –dan melewati angka 1 juta unit pada awal 2012), masuk akal jika ada yang menyimpulkan bahwa kecelakaan mobil tertinggi di Indonesia saat ini kalau tidak Avanza, ya, Xenia. Disamping itu, karena harga purna jualnya juga sangat bagus, membuat kedua mobil ini juga paling banyak 'diincar' maling.
Mobil rakyat hasil kolaborasi Toyota dan Daihatsu Indonesia di bawah payung induk perusahaan PT Astra International Tbk –yang juga sering dijuluki sebagai 'mobil sejuta umat'– ini, memang dianggap sebagai kendaraan yang paling mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Selain harganya murah karena sudah menggunakan komponen lokal Indonesia sampai 85%, keduanya pun 'mampu' melebarkan lapangan kerja, dengan menyedot 55.730 tenaga dari Astra saja.
"Kalau ditambah pengerjaan komponen tier 2 dan tier 3, ditotal-total kami sudah memperkerjakan 500.000 tenaga kerja," ujar Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk.
Selain menggarap pasar domestik, Avanza-Xenia juga dikirim ke 27 negara di seluruh dunia; antara lain, kawasan ASEAN, Timur Tengah dan Amerika Selatan. Sejak 7 tahun lalu, total ekspor mereka sudah mencapai 113.000 unit.
Pada November 2011, PT Astra International Tbk meluncurkan-ulang generasi kedua Avanza-Xenia; yang dihadiri Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan; dan disaksikan Managing Officer Toyota Motor Corporation, Hiroji Onishi, serta President Daihatsu Motor Company, Koichi Ina –keduanya prinsipal dari Jepang. Dengan penampilan luar yang lebih fresh dan aerodinamis, diprediksi, Avanza-Xenia akan kian diburu masyarakat Indonesia.
Sayangnya, penampilan luar Avanza-Xenia versi baru itu tak dibarengi dengan penyempurnaan teknologi dan faktor keamanan. Masih menggunakan mesin 1.000 cc, 1.300 cc untuk Xenia; dan 1.300 cc, 1.500 cc untuk Avanza, mobil MPV berpenumpang tujuh orang ini hanya diperbarui pada berbagai fitur interior-eksterior dan, tentu saja, tetap dibandrol dengan 'harga termurah di kelasnya.'
Comments
Selama sistem dan penegak hukum negeri ini masih korup...TAK AKAN ada keadilan.
@Tedi
Judulnye pan lo bs baca FAKTA DIBALIK ...bla..bla...keliatan blm kuliah ye? baca artikel blm ngerti neh...
@Debby, jawaban nye mirip anak dua neh...kan "HASIL RISET MAJALAH OTOMOTIF"...berarti mayoritas responden getoohh...kalo lo akhirnya beli HONDA, BMW atau AUDI apakah latar belakang mu bkn naik status secara ekonomi neng?...
pizzz de ahhh...
RSS feed for comments to this post