Tak hanya akrab, Komunitas Remaja Batik Indonesia yang sempat berkunjung ke TNOL juga berbagi banyak hal tentang batik...
KRBI berkunjung ke TNOL/ Foto-foto: Nopi TNOL
Sebagai sebuah portal yang selalu mengangkat berbagai hal tentang komunitas, TNOL kedatangan tamu dari Komunitas Remaja Batik Indonesia (KRBI) pada Kamis, 12 Januari kemarin. Sebanyak 11 orang anggota KRBI mampir ke redaksi TNOL untuk bersilaturahmi. Mereka adalah Aam, Hafiz, Moel, Moey, Radit, Kiki, Lingga, Bima, Wiwik, Dimaz dan sang Director KRBI Borzaq Thiar Taurus.
"Kedatangan kita kemari mau sowan biar kenal dengan seluruh teman-teman TNOL, sekaligus melihat 'dapur' redaksi TNOL," ujar Director KRBI, Borzaq Thiar Taurus memakili teman-temannya. Berhubung mereka dari komunitas pecinta batik, mereka pun mengenakan batik serta selempang bertuliskan 'Remaja Batik Indonesia'. Mereka pun mendapat sambutan hangat dari seluruh jajaran redaksi TNOL.
KRBI diajak lesehan sehingga suasana akrabKRBI mengenalkan diri satu persatu anggotanya. Mereka juga menceritakan berbagai macam kegiatan yang dilakukan seperti memberikan workshop gratis kepada masyarakat di Museum Tekstil Jakarta maupun di pusat perbelanjaan bergengsi seperti Pejaten Village, Jakarta Selatan. Usai mereka memperkenalkan diri, TNOL melalui Pemimpin Redaksinya, Djoenaedy Siswo Pratikno mengenalkan seluruh kru kepada KRBI.
Perbincangan berlanjut lebih mendalam, namun santai dan kekeluargaan. Sebagai ketua, Thiar menjelaskan kalau komunitasnya sudah merambah ke beberapa daerah. Di grup jejaring sosial anggotanya sudah mencapai ribuan orang, namun yang aktif di Jakarta sekitar ratusan orang.
Rata-rata anggota KRBI adalah pekerja dan mahasiswa. Mereka memiliki basecamp di Museum Tekstil Jakarta lantaran sang kepala museum adalah penasihat mereka.
KRBI berpose ceria di kantor redaksi TNOLTak ayal KRBI sering menjadi pelaksana kegiatan yang kerap dilakukan Museum Tekstil Jakarta. Mereka pun mengenal berbagai macam motif batik dari berbagai daerah. Menurut Thiar, masing-masing daerah punya ciri khas batik tersendiri seperti Papua. Papua memang bukan daerah khusus penghasil batik, namun mereka mengirim orang-orangnya belajar di pusat batik.
"Nah, mereka membuat motif khas Papua berupa patung suku Asmat. Batik ini sedang in dan banyak dicari orang karena unik," jelas Thiar.
Batik, kata Thiar, saat ini sudah tidak dianggap sebagai pakaian untuk orangtua. Terlebih, batik telah disahkan menjadi warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu, sehingga pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Batik Nasional. Momen itu menjadi cikal bakal bermunculannya model-model batik menarik dengan warna-warna cerah yang bisa digunakan oleh berbagai usia.
"Setelah batik menjadi warisan budaya dunia, saya melihat perkembangannya cukup signifikan. Orang tidak malu lagi memakai batik, terutama anak-anak muda memakai batik warna cerah dan body fit. Kantor-kantor menetapkan pakai batik setiap Jumat," imbuh Thiar.
Novri, Thiar dan Thamrin MahesaraniPerancang juga sudah mulai merancang pakaian batik. Perajin-perajin batik merambah ke pusat perbelanjaan seperti di Thamrin City. Di sana orang-orang banyak mencari batik lantaran sangat lengkap baik batik printing, cap dan tulis.
Mengenai berbagai macam motif batik, kebanyakan tidak diketahui oleh masyarakat. Mereka hanya mengetahui batik, tanpa tahu bagaimana membuatnya. Sebagai komunitas pecinta batik, KRBI pun berusaha mengenalkannya kepada masyarakat. Mereka juga mewajibkan anggotanya bisa membuat batik tulis.
Hal ini menarik komunitas batik lainnya untuk bergabung dengan mereka. Sebab, di komunitas ini tidak sekedar menggunakan batik saja. Melainkan, anggota-anggotanya bisa membatik pula. KRBI pun memfokuskan kepada kaum remaja agar tertarik terhadap batik.
Anggota KRBI berbincang dengan Bakr Aloussi"Kita pengenalan ke remajanya dulu. Respon remaja bagus cuma fasilitas dan sarananya mereka tidak ada. Nah, kita memberikan lewat workshop agar mereka kenal dan mengetahui filosofi batik. Kita juga sering berbagi informasi mengenai batik sehingga menambah pengetahuan tentang beragam motif batik," jelas Sekretaris KBRI, Wiwiek.
Sementara tentang serbuan batik dari negara lain, terutama China yang menjualnya secara murah, KRBI berpendapat batik buatan 'Negeri Tirai Bambu' ini lebih banyak printing. "Kalau seseorang suka yang asli tidak akan terpengaruh karena menggunakan batik itu sesuai selera seseorang," ucap Aam, anggota KRBI.
Tak terasa perbincangan telah berjalan lama. KRBI pun pamitan untuk pulang. Sebelum meninggalkan 'dapur' TNOL, mereka memberikan cinderamata berupa alat musik tradisional khas Jawa Barat, angklung yang dibalut dengan kain songket Palembang. Angklung tersebut Thiar serahkan langsung kepada CEO TNOL, Bakr Alousi. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post