SABTU 19 November kemarin, TNOL kembali menggelar agenda bulanan berupa silaturahmi bersama komunitas. Gelaran itu, tak lain untuk saling menyapa dan berinteraksi, karena sejatinya TNOL adalah 'Portalnya Komunitas'...
Koskas kembali menjadi member 'paling sibuk' di TNOL/ Foto-foto: Safari TNOLPada gathering tersebut, berbagai komunitas pun diundang, mulai dari Depok Heritage Community, Klub Pecinta Sugar Glider Indonesia (KPSGI), Komunitas Facebookers Penggemar Benyamin Sueb (KFPBS), Komunitas Remaja Batik Indonesia (KRBI), Komunitas Bikepacker Indonesia serta Koskas Jakarta Selatan yang saat itu kembali menjadi member teraktif dan paling sibuk di TNOL. Yupss, selamat untuk ‘genjoters’ Koskas..!
Acara yang berlangsung di Museum Bank Mandiri di kawasan Kota Tua Jakarta ini tak pelak riuh dan heboh oleh komunitas. Gathering kali ini, memang didesain berbeda dari gathering TNOL sebelumnya agar terasa lebih segar. Ditambah lagi sangat pas dengan suasana Hari Pahlawan yang baru beberapa hari diperingati seluruh masyarakat Indonesia.
Karenanya, komunitas yang datang pun diajak sejenak berkeliling di sekitar museum untuk mengetahui sejarah perbankan Indonesia.
AkrabAcara silaturahmi berjalan mulus dan masing-masing komunitas pun 'buka-bukaan' tentang komunitas mereka. Mereka memaparkan tentang apa yang dilakukan komunitas mereka, kapan terbentuknya, dimana 'markas' mereka serta berapa orang jumlah anggotanya. Nah, saat pemaparan inilah terjalin interaksi antara komunitas.
Mereka saling bertanya dan menggali lebih dalam lagi tentang komunitas yang sedang ‘berpidato.’ Mereka pun tak sungkan-sungkan mengajak komunitas lain untuk bergabung. Masing-masing komunitas menampilkan juru bicara seperti Depok Heritage Community yang menghadirkan Ratu Farah Diba.
Klub Pecinta Sugar Glider Indonesia (KPSGI) menunjuk Jully, Komunitas Facebookers Penggemar Benyamin Sueb (KFPBS) menampilkan Iwan, KRBI menghadirkan divisi Event & Publicity-nya Gian Hawk, serta Koskas Jakarta Selatan mempercayakannya kepada Hori. Mereka tampil dengan ciri khas masing-masing. Tak lupa menggunakan ‘uniform’ kebesaran komunitas mereka.
Antusias...Situasi saat itu sangat 'cair'. Tak terlihat perbedaan, karena mereka menyatu dan terlihat akrab. Lihat saja ketika salah satu komunitas menampilkan video aktivitas mereka, komunitas lainnya berdecak kagum. Mereka pun tak sungkan bertanya ketika melihat sesuatu yang menarik perhatian.
Maklum, beberapa komunitas memutar videonya seperti Koskas Jakarta Selatan, Klub Pecinta Sugar Glider Indonesia dan Bikepacker Indonesia, yang menampilkan video tentang aksi mereka saat sedang touring ke beberapa wilayah Nusantara. Pun menghadirkan rider-nya yang telah menyambangi daerah-daerah pedalaman.
"Kita punya rider yang sudah sampai Aceh, Bali, Yogya, Trans-Kalimantan dan daerah lainnya," ucap juru bicara Bikepacker Indonesia. Koskas Jakarta Selatan juga tidak berbeda jauh dengan Bikepacker Indonesia. Mereka menyiarkan video ketika touring ke beberapa tempat. Tak ketinggalan, menampilkan atraksi dengan sepeda.
Klub Pecinta Sugar Glider Indonesia membawa serta hewan kecil yang menjadi ciri khas mereka. Tentu saja hewan marsupial yang imut itu menarik perhatian komunitas lainnya untuk melihat dan memegangnya. Sedangkan KRBI, menjelaskan tentang anak-anak muda yang menyukai batik. Tak heran para anggotanya mengenakan batik pula. Mereka pun memberi cendera mata kepada TNOL berupa syal batik.
Sang 'komandan' TNOL yang kebagian cinderamataSyal batik diterima langsung oleh ‘Komandan’ TNOL Djoenaedy Siswo Pratikno. Bikepacker Indonesia tak mau ketinggalan, mereka menyerahkan topi khas berwarna merah. Komunitas Facebookers Penggemar Benyamin Sueb menerangkan mengenai kesukaan mereka terhadap lagu-lagu almarhum Benyamin S. Bagi mereka karya Benyamin S masih tetap enak dinikmati meski sudah tiada.
Sementara Depok Heritage Community (DHC) menjelaskan tentang warisan sejarah yang berada di Kota Depok. Disamping itu, meluruskan tentang istilah 'Belanda Depok'. Menurut Ratu Farah Diba dari DHC, 'Belanda Depok' bukanlah orang-orang keturunan Belanda. Melainkan, mereka adalah budak-budak yang dibebaskan.
Di kesempatan itu, Ratu Farah Diba juga menyarankan agar pertemuan selanjutnya berdasarkan komunitas. "Kalau bisa sesama (komunitas) heritage dikumpulkan agar bisa saling memberi informasi," imbuh Ratu Farah Diba.
Pemred TNOL, Djoenaedy Siswo Pratikno menuturkan, permintaan seperti itu telah banyak diterima. Seperti komunitas sepeda ingin gathering dengan komunitas sepeda lainnya, dan otomotif dengan otomotif.
"Tapi saya mau membuat konsep seperti seminar, workshop dan pelatihan. Nantinya bikers bisa membuat pelatihan tentang safety riding," terangnya memberi apresiasi. (Sbh)
Comments
kapan ada gathering lagiiii
Ditunggu undangannya nih sampai ke TMC dan TPC
bikin jadi 3 berturut2 aaaahh...
RSS feed for comments to this post