Berkeliling dunia bukanlah hal sulit bagi Rijanto, hanya dengan 'bermodalkan' perangko kegiatan itu pun didapatnya secara gratis...
Rijanto berkeliling dunia berkat koleksi perangkonya/ Foto-foto: Safari TNOL
SEPINTAS apa yang dilakukan pria ini memang terlihat sepele. Terlebih, apa yang dikoleksinya hanya berupa lembaran benda-benda filateli seperti perangko, kartu pos, sampul hari pertama (SHP) dan carik kenangan (souvenir sheet).
Tapi, siapa yang menyangka dari berbagai perangko yang dikoleksi, justru membuatnya bisa berkeliling dunia. Bahkan, rumah dan peralatan yang ada di dalamnya, seperti kulkas, juga didapat dari kegemarannya mengoleksi perangko.
Dialah Rijanto, SE (60 tahun) yang telah mengunjungi negara-negara Asia Pasifik untuk mengikuti berbagai kegiatan pameran perangko atau filateli. Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan adalah negera-negara yang pernah dikunjunginya secara gratis.
Perangko koleksi RijantoTahun depan, ia kembali berangkat ke Thailand dari tiga negara pilihan yakni Australia dan Brazil yang akan menggelar pameran filateli dunia.
“Hotel dan uang saku ditanggung pihak sana,” kata Rijanto, pengurus Perkumpulan Filateli Indonesia (PFI) saat menjadi pembimbing para siswa SMPN 8 Depok untuk menuju World Stamp Championship and Exhibition 2012, kepada TNOL belum lama ini.
Menurutnya, mengoleksi benda-benda filateli memiliki banyak manfaat. Pertama, mengoleksi filateli sebagai ajang hobi atau kesenangan. Karena kalau sudah hobi, maka apapun akan dilakukan demi mendapatkannya. Kedua, mengoleksi filateli juga sebagai sarana belajar karena didalamnya terkandung berbagai hal penting tentang ilmu pengetahuan, sosial dan budaya.
Banyak diantara kolektor filateli yang sangat paham tentang kondisi suatu budaya atau bidang ilmu ketika mengoleksi benda-benda pos tersebut.
Tidak heran, mengoleksi benda-benda filateli seperti menyusun skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana. Karena, kolektor harus mampu mendeskripsikan suatu frame filateli yang telah dikoleksinya. Kolektor yang masih berusia pelajar sekolah menengah pertama pun, harus mampu menjelaskan setiap benda filateli yang dikoleksinya.
Ilmu bumi, geografi, biologi, atau ilmu lainnya dapat diketahui hanya dengan mengamati perangko atau kartu pos. Hal lain, siapa pun bisa mengetahui alat musik tradisional Pulau Rote, lukisan Monet, negara terpencil di utara Inggris, tokoh Looney Tunes, Bugs Bunny, hingga mengenal berbagai spesies kupu-kupu, macam Troides hypolitus dan Ornithoptera croesus dari benda filateli.
Ketiga, mengoleksi filateli bisa sebagai sarana bisnis karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Apalagi benda-benda filateli tersebut tidak akan dicetak ulang sehingga harganya selalu melonjak. Ketika suatu benda filateli sudah masuk dalam kategori langka dan sulit didapat.
RijantoMaka, harganya akan melonjak dan otomatis akan diburu para kolektor dari berbagai negara. Oleh karena itu, kolektor perangko juga mempunyai peran sebagai pihak yang mendatangkan devisa bagi negara.
Lebih dari itu, filateli juga mengajarkan perdamaian serta toleransi antar penduduk di dunia. Sebab, tak jarang sebuah negara menerbitkan suatu karya seni atau nilai budaya negara lainnya. Akan terjadi pertukaran budaya dan hubungan persahabatan antarnegara dapat terjalin melalui filateli. Melalui perangko, banyak orang tersentuh hatinya tanpa harus mengetahui bumbu-bumbu berita mengenai hubungan kedua negara tersebut.
Lelaki kelahiran Yogyakarta, 10 Juli 1952 ini telah mengoleksi benda-benda pos sejak tahun 1976, atau tepatnya ketika pertama kali menjadi karyawan PT Pos Indonesia. Hingga saat ini koleksi benda-benda filateli tersebut telah memenuhi satu kamar di kediamannya di Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Tema filateli yang dikoleksinya beragam, mulai dari pengetahuan, sosial dan budaya. Semua koleksinya juga tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari berbagai negara di dunia.
Satu koleksinya yang bertema revolusi di Indonesia terbitan tahun 1942–1947, bahkan, telah membuatnya bisa memiliki rumah di kawasan Pondok Kopi Jakarta Timur. Kala itu, satu koleksinya dihargai Rp 40 juta yang digunakan untuk pembayaran uang muka kediamannya yang ditempati saat ini.
“Saat itu, ada kolektor yang sangat tertarik dengan koleksi itu, sehingga ketika saya butuh uang untuk DP rumah langsung membayarnya secara cash,” kenang ayah dua anak ini.
Sementara, pada tahun 1997 ketika alat pendingin makanannya rusak dan harus diganti, ia menjual satu koleksi perangkonya dari Belanda terbitan tahun 1864. Perangko langka tersebut dihargai senilai Rp 3 juta oleh satu kolektor di daerah Pasar Baru, Jakarta. Dengan uang itu pula, Rijanto langsung membelikan satu perangkat kulkas.
Ditentang Keluarga
Rijanto dengan koleksinyaMeski telah mendapatkan berkah dari koleksinya, namun pada awalnya, Rijanto sempat mendapat tentangan dari keluarga saat mengoleksi benda-benda filateli. Apalagi, ketika awal-awal bekerja sebagai pegawai PT Pos Indonesia dengan gaji bulanan yang kecil. Kala itu, hampir sebagian gajinya dibelikan buat benda-benda pos untuk dikoleksi, sehingga mempengaruhi kebutuhan lainnya.
Selama lima tahun lelaki yang pernah menjabat sebagai Sekjen PFI ini mendapat tentangan dari keluarga. Namun, setelah dijelaskan tentang berbagai manfaat mengoleksi benda-benda filateli akhirnya keluarga pun memahami. Ia sangat mencintai benda-benda pos sehingga sangat sulit untuk meninggalkannya. Beruntung, sang istri juga bekerja sehingga bisa menopang kehidupan dapurnya.
Rijanto mengakui, jika sudah terlanjur hobi terkadang kerap dianggap 'gila' karena sulit meninggalkannya. Jadi, berapapun uang yang dikeluarkan untuk membeli benda yang disukai bukanlah menjadi masalah.
“Mengoleksi benda-benda filateli juga sebagai bentuk dedikasi kepada negara. Karena semua yang diangkat di perangko bagian dari promosi negara,” ungkap Rijanto meyakinkan, sembari menyatakan hobinya ini tak diikuti kedua anaknya, Kartika Maharani dan Gema Satria Buana. (Sbh)
Comments
ingat jembatan ampera jd nya ..he..he..
ananda
Hal ini menyadarkan kita bahwa berfilateli tidak hanya sekedar barang untuk dikoleksi tapi juga bisa menjadi bahan pembelajaran materi tematik
RSS feed for comments to this post