Seks

Si Pria Mirip Ariel itu Pasti “Scopophilia”

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Pratimiranti

Kamis, 10 Juni 2010

IstimewaIstimewa Sas-sus siapa sesungguhnya (pria mirip) Ariel Peterpan di dua video berbeda yang berasyik-masyuk dengan wanita (seperti) Luna Maya dan (kayak) Cut Tari itu, masih terus jadi diskusi publik.

Namun, selagi debat sengit berlangsung – hingga membuat situs jejaring twitter “hang” –  dr Boyke Dian Nugraha SpOG, si pakar seksologi itu, sudah memastikan, jika pria dalam kedua rekaman video porno tadi mengalami penyimpangan seksual kategori scopophilia.

Walah, apa pula nih?

Kata Boyke, "Dari adegan yang saya lihat, pria yang katanya mirip Ariel ini mengalami kelainan seksual scopophilia, yaitu seseorang yang akan mendapatkan kepuasan apabila melihat dan merekam atau memotret adegan dirinya saat berhubungan seksual dengan pasangannya.”

***

Dalam bahasa Yunani, scopophilia atau scoptophilia, secara harfiah, berarti  "mencari cinta" – yang dikonotasikan “berasal dari cari kesenangan”.

Scopophilia biasanya sebagai ekspresi seksualitas, mengacu pada kenikmatan seksual yang berasal dari melihat benda-benda erotis: foto-foto menggoda, pornografi, tubuh telanjang, dan sejenisnya.iIstimewaiIstimewa

Tapi, scopophilia bisa juga didefinisikan dengan memenggal kata scopos, yang berarti melihat; dan phillia, bermakna kesenangan. Sehingga, scopophilia bisa diartikan sebagai kesenangan (yang dirasakan si pria mirip Ariel itu) untuk menyaksikan (adegan intim yang ia lakoni bersama pasangannya).

Makna “kesenangan untuk melihat”, bukan semata karena ada obyek yang menarik untuk disaksikan. Tapi, lebih karena ada kenikmatan seksual (sexual pleasure) ketika subyek (si mirip Ariel tadi) menyaksikan obyek (adegan intim bersama pasangannya) yang sedang berlangsung.

Sebagai medium untuk menyaksikan (ulang), biasanya si penderita memilih alat rekam berupa video, atau memotret dengan tustel. Awalnya mungkin hanya untuk memuaskan diri sndiri, tapi

Tentu, tak ada “keharusan” jika kemudian hasil-rekam itu tetap akan memuaskan dirinya saat ikut ditonton  publik. Justru, umumnya, penderita Scopophilia hanya berpikir hasil rekam tersebut sebagai koleksi dirinya sendiri.

***

IstimewaIstimewaBoyke menyebutkan, indikasi scopophilia pada si aktor mirip Ariel terlihat ketika ia memfilmkan adegan seks dengan dua wanita bebeda. “Bisa jadi ada unsur narsisme, atau kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri, apalagi jika benar kedua wanita itu dari kalangan selebritis."

Boyke pun menganalisis, si laki-laki sebenarnya rendah diri. Makanya ia  merekam adegan seks dengan perempuan-perempuan cantik untuk dipamerkan ke rekan-rekannya.

"Tapi, gayanya oke banget, seperti sudah terbiasa. Mulai dari gaya misionary (gaya lazimnya), doggy style, sampai women on top. Mungkin karena kemahirannya inilah yang membuat perempuan jadi suka," katanya.

Indikasi lainnya: daya tahan si pria mirip Ariel itu cukup lama. Seperti kebanyakan penderita scopophilia, Boyke menduga, dia memakai obat kuat. Pasalnya, melihat adegan-adegan seks yang dipertontonkan, si pria tampak mahir, layaknya pemeran film porno.

"Setahu saya, di Barat sana, kalau main film porno kebanyakan memakai obat kuat. Melihat variasi-variasi adegan seksual yang dilakukan, perlu tenaga ekstra," tambah Boyke.

Perilaku seksual seperti ini, masih menurut Boyke, bisa disebabkan beberapa hal. Dua diantaranya karena trauma masa kecil, atau memang kecanduan menonton DVD porno.

Penyebab lain adalah pemerasan. Boyke bercerita punya pasien perempuan yang diancam akan disebarkan video intimnya jika menolak berhubungan badan dan memberikan uang.IstimewaIstimewa

Jadi, jika si perekam mendapat keuntungan, pasangannya yang direkam biasanya buntung. "Dan, kebanyakan mereka pihak perempuan," terusnya.

Lalu, kenapa si perempuan mau-mauan direkam?

Awalnya, menurut Boyke, kebanyakan perempuan menolak, tapi kemudian luluh karena rayuan yang bertubi-tubi. "Mungkin juga karena sudah sangat terangsang, jadi tidak bisa menolak," katanya.

Di tahun 1970-an, istilah scopophilia digunakan oleh bioskop psikoanalis untuk menggambarkan kesenangan (sering juga dianggap patologis). Saat menonton  film,  seringkali penonton terhanyut dan melwati proses tak sadar dengan apa yang terjadi di hadapnnya/tak menyadari sekelilingnya.

Di video heboh itu, pemain mirip Cut Tari memang seperti tidak sadar ketika kamera di samping tempat tidurnya menyala. Saat pemain pria mengarahkan lensa kamera ke wajahnya, dia sempat menolak dan memalingkan wajah.

Tapi, kamera tetap berputar, diiringi rayuan si pria: "Ada aku juga kok...." And, the show must goes on....
 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh