Kesra

Yayasan La-Tansa ‘Jembatan’ Ekonomi Kaum Dhuafa

Penilaian Pembaca: / 1
JelekBagus 

Fitryan G.Dennis/Firmansyah

Rabu, 01 Desember 2010

Foto : IstimewaFoto : IstimewaYAYASAN La-Tansa, merupakan satu dari sekian banyak yayasan yang terletak dikawasan kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, atau tepatnya di Jl Kebon Pala II Tanah Rendah Gg. XX, RT15/08 No 50 Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaBayangkan saja, untuk mencapai lokasi ini harus menyusuri gang sempit berkelok-kelok dan terkadang harus tertahan jika berpapasan dengan kendaraan roda dua lainnya. Hal yang lumrah adalah sepanjang jalan kita kerap menjadi perhatian mata-mata liar kaum marginal yang ‘terpaksa’ hidup di ibukota Jakarta.

Dari luar, nampak serupa dengan yayasan kebanyakan, namun yayasan yang berdiri di atas bangunan seluas 3X6 meter dan berada tepat ditengah-ditengah perkampungan kaum dhuafa ini, hebatnya, mampu merangkul sekitar 400 orang asuhan baik anak-anak hingga kaum ibu-ibu.

Lalu, apa yang menyebabkan ratusan ibu-ibu dan anak-anak asuhan ini berniat untuk bergabung dalam yayasan, padahal di lingkungan mereka, ada banyak yayasan serupa yang bertebaran?

Foto : IstimewaFoto : IstimewaKeistimewaannya, yayasan yang dibina oleh seorang mantan anak jalanan yang yatim piatu ini tidak pernah mengharapkan imbalan sekecil apapun dari warga binaannya. Optimisme Sam Syamsudin untuk bangkit dan berjuang bersama-sama untuk mengangkat perekonomian warga sekitar perlu diacungkan jempol.

Awal terbentuknya yayasan bermula, ketika ia yang putus sekolah semenjak SD ini melihat lingkungannya mayoritas warganya buta huruf. Sedangkan tingkat perekonomiannya mengkhawatirkan sehingga berpotensi menularkan kekurangan tersebut kepada anak-anak mereka.

Foto : IstimewaFoto : Istimewa“Dari sanalah, saya dan istri saya tergugah untuk membuat semacam tempat perlindungan dan pendidikan bagi anak-anak mereka, awalnya memang berat dan banyak sekali kecaman negative dari warga sekitar, tapi Alhamdulillah tujuan mulia yang kami lakukan bisa dimengerti oleh semuanya,” ungkap Sam Syamsudin.

Perlahan namun pasti, bimbingan pendidikan dan ketrampilan agama yang ditularkan oleh pasangan suami istri ini mendapat respon dari pihak luar. Mulailah order demi order di peroleh oleh yayasan ini, mulai dari order mengisi acara keagamaan, musik rohani hingga instansi-instansi swasta bahkan pemerintah.

“Kalau mereka dapat amplop, memang saya anjurkan kepada pihak penyelenggara untuk memberikan langsung kepada mereka, gak ada istilah dipotong atau disunat dulu, sebab saya dulukan juga anak yatim, jadi saya bisa mengerti kebahagiaan mereka,” ungkap Sam.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaHubungan batin dengan anak didiknya itu, akhirnya membuat kaum ibu sekitar yang umumnya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, buruh cuci dan pedagang pakaian bekas keliling itu mencoba mengadu nasib dengan yayasan.

Akhirnya, segala daya upaya dilakukan, mulai dari mengajak kaum ibu untuk belajar membaca hingga mengajarkan ketrampilan-ketrampilan sederhana yang  dapat menambah uang simpanan mereka. Seperti membuat kerajinan tangan hingga membuat kerudung dengan peralatan dan modal seadanya.

Akhirnya niat baik setiap langkah yang mereka bina, memperoleh respon positif dari pihak luar. Seperti halnya bantuan buku-buku pelajaran, buku keterampilan, bahan-bahan kerudung dan segala macam peralatan yang dapat menopang kreatifitas bagi keterampilan dasar yang mereka miliki.

“Pokoknya tidak ada yang pernah saya pungut biaya untuk hal apapun kepada mereka. Ketika kerajinan mereka ada yang dibeli oleh orang, saya tidak pernah meminta bagian, itu kerjaan mereka jadi semua itu hak mereka sepenuhnya, disini hanya tempat mereka menimba ilmu, tidak lebih,” terangnya.

“Sebenarnya, ada satu lagi yang saya cita-citakan yaitu membuat rumah penampungan bagi anak-anak jalanan, karena banyak yang minta, tapi apa daya rumah sekaligus yayasan ini terbatas cakupannya,” harap Sam.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh