Liputan

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Gelar Sarasehan

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Nopiyanti

Minggu, 20 Pebruari 2011

Pembukaan (Foto: Nopiyanti)Pembukaan (Foto: Nopiyanti)PERINGATAN Hari Raya Nyepi, tak hanya bakti sosial maupun upacara saja yang digelar umat Hindu. Ada kegiatan lain yang tak kalah penting seperti acara sarasehan yang digelar Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) DKI Jakarta.

Pelaksanaan AcaraPelaksanaan AcaraSarasehan yang mengambil tema Peningkatan Wawasan Pinandita dan Srati Banten Provinsi DKI Jakarta ini berlangsung selama dua hari di ruang rekreasi Gedung Thamrin lantai IV Bank Indonesia. Ada sekitar 230 Pinandita se Jabotabek hadir di acara tersebut.

Sebelum mulai, mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya terlebih dahulu. Selanjutnya ketua panitia Pinandita I Nyoman Sutisna mengeluarkan sepatah dua patah kata tentang acara. Menurut Sutisna, sarasehan masih berkaitan dengan rangkaian peringatan hari raya Nyepi yang jatuh pada 5 Maret mendatang. "Terutama mengenai upacara Tawur Kesanga. Pengurus PSN ingin menyukseskan acara itu dengan cara memberi pembekalan untuk menyatukan pemahaman dan pemikiran," imbuh Sutisna dalam sambutannya, Sabtu (19/2).

Doa (Foto: Nopiyanti)Doa (Foto: Nopiyanti)Setelah Sutisna menyampaikan maksud dan tujuan sarasehan, acara beralih ke sambutan-sambutan lain. Mulai dari perwakilan Ikatan Pegawai Bank Indonesia unit Kerohanian Hindu-Budha Ketut Wardika, Bimas Hindu DKI Jakarta Gede Jaman dan Ketua PHDI Jakarta Ketut Wiardana.

Sebagai tuan rumah, Ikatan Pegawai Bank Indonesia unit Hindu-Budha Ketut Wardika menyatakan, topik yang dibahas dalam saresehan sangat pas. Ia berharap apa yang disampaikan dapat dipraktekkan sehingga menjadi pegangan kuat dalam menjalankan hidup.

Ketut Wiardana dan I Nyoman Sutisna (Foto: Nopiyanti)Ketut Wiardana dan I Nyoman Sutisna (Foto: Nopiyanti)Sementara Bimas Hindu DKI Jakarta Gede Jaman mengatakan, pihaknya menyambut baik kegiatan tersebut. "Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memberi warna kepada komponen umat Hindu agar bisa memberi syiar," ucap Gede Jaman. Ketua PHDI Jakarta Ketut Wiardana juga berharap peserta pembekalan ini bisa mencermati serta memahami materi.

"Hasilnya nanti dapat dirumuskan, dihimpun dan diaplikasikan kepada umat sedarma agar tidak salah tafsir," ucap Wiardana. Usai memberi sambutan, Wiardana membuka saresehan dengan memukul gamelan. Saresehan sendiri menampilkan empat orang pembicara.

Di hari pertama, kata Sutisna, peserta diberikan pemahaman dari sisi filsafat. Di hari kedua, dari sisi implementasinya. Pembicara hari pertama menampilkan Ida Pedanda Panji Sogata dengan pembahasan Analisis Mantram Caru.

Lalu Ketut Wiana, membahas Deskripsi Caru Dalam Lontar dan Filosofinya. Dalam makalahnya, Ida Pedanda Panji Sogata berpendapat, mantram-mantram caru merupakan mantram suci dan bersifat sakral sehingga tidak boleh sembarangan diucapkan.

Peserta Sarasehan (Foto: Nopiyanti)Peserta Sarasehan (Foto: Nopiyanti)Para Pinandita mempunyai kewajiban mensakralkan mantram-mantram caru ini untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Sebab, berkaitan dengan penyucian alam semesta beserta isinya. Mantram ini mempunyai tuah, bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan didasari srdha dan lascarya. Ida Pedanda Panji Sogata juga tak lupa membahas mengenai jenis-jenis caru dan mantramnya.

Sedangkan Ketut Wiana dalam makalahnya menjelaskan, dibalik Banten Caru ada nilai-nilai filosofis yang disimpulkan untuk memotivasi umat agar senantiasa menjaga keharmonisan alam lingkungan di bumi agar terus menjadi sumber kehidupan semua mahluk hidup dibumi ini.

Di hari kedua, Prabu Darmayasa akan memaparkan Keutamaan Tri Sandya dan Rahasia Gayatri Mantram. Kemudian, disambung oleh dokter Gunawan dengan tema Intelegensia Kesehatan (profil otak). (Fitryan GD)

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh