Tari bersama karyanya/ Foto-foto: Nopi TNOLBertempat di Galeri Mini Japan Foundation, Gedung Summitmas, Jakarta, perupa Endang Lestari menggelar pameran bertajuk The Ritual of Absence/Presence dari 15 Februari-14 Maret mendatang. Pameran dibuka pada 14 Februari lalu.
Lewat pameran tersebut, perempuan yang biasa disapa Tari ini ingin mengabadikan kenangannya selama berada di Jepang ke dalam seni keramik.
"Juli 2011 kemarin saya ke Jepang. Saya mengabadikan pengalaman selama berada di sana, terutama dalam makanan," jelas Tari saat pembukaan pameran di Gedung Summitmas 1 lantai 2, Jalan Jenderal Sudirman Kav 61-62, Jakarta, Selasa malam (14/2).
Ia mengetengahkan tentang makanan, lantaran mempunyai kenangan tersendiri terhadap ritual makan di 'Negeri Matahari Terbit' itu. Disana masyarakat Jepang menempatkan ritual makan dengan begitu istimewa.
Mereka menggunakan sumpit agar tidak menusuk atau memotong makanan sehingga makanan tidak mereka perlakukan sebagai 'korban kekerasan'.
Bincang-bincang saat pembukaan pameranBerbeda dengan budaya barat yang menggunakan garpu dan pisau untuk makan, Tari menganggap ritual makan di Jepang adalah sebuah bahasa dengan kehadiran nyata dan terlihat. Sementara, berbagai jenis dan menu makanan menghadirkan ritual.
Salah satunya ritual perayaan. "Saya menikmati kehadiran saya di tengah-tengah orang Jepang yang senang melakukan perayaan, semisal ada teman merayakan tungku pembakaran keramik baru," jelas Tari.
Ketika perayaan itu, setiap orang akan datang membawa berbagai macam hadiah baik makanan dan minuman. Mereka menikmati kebersamaan dalam obrolan, kepulan asap bebakaran dan kembang api.
Keramik karya Tari"Nah, mengapa pameran keramik ini tentang makanan, karena makanan memang sederhana dan ringan. Tapi banyak cerita dan obrolan berat diawali lewat proses makan," ucap Tari.
Pengalaman Tari lainnya yang digambarkan ke dalam bentuk keramik adalah saat dia diundang makan oleh temannya di Jepang.
Tari dihidangkan sup, sup diletakkan ke dalam mangkok besar dan dimakan bersama-sama sehingga menunjukkan kebersamaan. Tari pun membangkitkan lagi kenangannya dengan menggubah dan menyusun objek ritual makanan tersebut ke bentuk keramik dalam format instalasi.
"Semua karya ritual ini, ada rasa ritual kehadiran dan ketidakhadiran saya. Pas saya tidak hadir, saya ingin tampilkan lewat karya ini," ucapnya.
Keramik buatan TariTari membuat seluruh karyanya sendiri. Ia menghabiskan waktu sekitar tiga bulan dalam menciptakan karya-karyanya. Dalam katalog The Ritual of Absence/Presence, Kritikus Seni Rupa, Suwarno Wisetrotomo menilai, apa yang ditampilkan Tari adalah pengalaman membekas serta proses kreatif dalam berkesenian.
"Tari seperti menghadirkan suasana perjamuan dengan sederet 'piring' berikut makanan yang dikomposisikan secara indah," jelas Suwarno.
Tari juga menampilkan sejumlah mangkuk dengan berbagai bentuk 'makanan' di dalamnnya, lalu sederet 'buah tangan' dari para tetamu yang diundang dalam perjamuan itu berupa botol-botol minuman dalam bungkus yang artistik. Berderet-deret komposisi beberapa jenis makanan dan sejumlah cangkir juga ditata indah. "Sekali lagi, semuanya dalam memorabilia keramik," jelas Suwarno. (Sbh)