Anak sebagai penerus generasi memerlukan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik, maka masa depan seorang anak akan lebih terencana dan terjamin...
Homescholing Primagama memberikan bingkisan kepada anak-anak/ Foto-foto: Safari TNOLNamun, sayangnya masih banyak orang tua yang belum memahami identitas atau perilaku dari setiap anak yang telah dilahirkannya. Akibatnya, banyak orang tua dan anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Jika sang anak tidak nyaman, maka ia akan mencari figur orang lain sebagai teladan.
Hal ini terungkap dalam seminar dan workshop pendidikan, fotografi, kewirausahaan yang digelar Homeschooling Primagama Jakarta, Sabtu (11/2).
Hadir sebagai pembicara dalam seminar yang dihadiri sedikitnya 50 orang tua dan anak-anak ini adalah Razie Razak dan Astri Mayanti, keduanya pengajar Homeschooling Primagama. Seminar ini juga diwarnai dengan pemberian santunan dari siswa Homeschooling kepada panti asuhan.
Razie Razak, dalam pemaparannya yang berjudul Memahami Identitas sebagai Sumber Manusia Bertindak mengatakan, identitas setiap anak dibentuk dari lingkungan sekitarnya. Identitas setiap anak juga bisa dipengaruhi oleh keluarga lain.
Apalagi, jika keluarga lain itu menjadi teladannya. Oleh karena itu, orang tua harus dapat memahami perilaku setiap anak-anaknya agar identitasnya bisa dibentuk dan diarahkan menjadi baik.
“Yang paling baik adalah mendengarkan antara anak-anak atau orang tua. Jika tidak nyaman, maka anak-anak akan mencari yang lain,” ujar Razie.
Memberikan kepercayaan pada anak dengan karakter yang dimilikinyaRazie menuturkan, pembentukan diri seorang anak melalui empat tahapan. Pertama, the prepatory stage atau tahap persiapan. Kedua, the play stage atau tahap bermain. Ketiga, the game stage atau tahap permainan. Keempat, the reference group stage atau tahapan acuan.
Pada semua tahapan ini maka orang tua harus menyampaikan kepada anaknya bahwa dirinya baik, cerdas dan pintar. Ucapan ini harus dilakukan secara terus menerus untuk membentuk karakter anak.
“Pada tahap ini harus dicontohkan juga perbuatan-perbuatan yang baik-baik, seperti mengajaknya ketika memberikan bantuan kepada orang lain,” kata Razie.
Dalam pembentukan identitas anak, sambung Razie, hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua bahwa setiap interaksi manusia akan menghasilkan identitas pada diri manusia masing-masing. Identitas yang terbentuk akan membuat manusia berperilaku sesuai dengan identitasnya.
Manusia adalah 'aktor' yang berperan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan identitas yang dimilikinya. “Pesan pentingnya, orang tua mempunyai peran penting untuk ikut terlibat dalam mendidik anak yang merupakan fondasi dasar dari anak itu sendiri,” paparnya.
Sementara itu Astri Mayanti, dalam paparannya yang berjudul Membentuk Anak Hebat mengatakan, untuk menciptakan lingkungan yang baik diperlukan beberapa tahapan. Pertama adalah empati yaitu mengetahui, dan merasakan perasaan orang lain. Setiap anak mengharapkan ingin diterima dan dihargai. Berdasarkan penelitian, bayi yang dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh empati akan menjadi anak yang cerdas intelektualnya.
Memberikan pembelajaran pada anak sangatlah pentingKedua, menciptakan suasana hidup yang bahagia dengan cara membangkitkan rasa syukur. Rasa bahagia akan meningkatkan dopamin yang akan mendorong dan mengaktifkan motivasi, rasa ingin tahu, kebutuhan akan pengalaman baru dan kegigihan. Ketiga, membangun konsep diri karena setiap anak sesuai dengan sangkaan orang tuanya.
Sementara, jika anak mengalami rendah diri yang ditandai dengan timbulnya rasa kurang percaya diri, sambung Astri, maka orang tua harus menyatakan keyakinan dan kepercayaan diri akan kemampuan anaknya. Dalam kasus ini orang tua bisa memberikan tantangan yang merangsang peningkatan semangat, memberikan informasi yang menyenangkan sehingga mudah diserap, memberikan bahasa non verbal dengan tepat, merubah kata-kata dari 'aku tidak bisa' menjadi 'aku hanya belum terbiasa', 'aku tidak suka' menjadi 'aku akan belajar menyukainya'.
Bagi orang tua berikan juga afirmasi 'apapun yang bisa dilakukan seseorang, siapapun bisa belajar melakukannya'. Selain itu, orang tua juga harus melakukan perubahan dengan membuat kebiasaan baru yang dapat dilakukan terus menerus secara tekun. Sehingga, sirkuit otak menjadi nyaman dengan kebiasaan yang baru.
Tidak kalah penting adalah memberikan tauladan atau modeling serta membuat visualisasai terhadap impian hidup masa depan.
“Alangkah baiknya mengajarkan anak memvisualisasikan masa depanya agar nyata. Anak diminta belajar, bukan hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi, juga untuk mendapatkan nilai kehidupan,” jelasnya. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post