Liputan

'Tokyo Game Show' Kembali Menggebrak!

Penilaian Pembaca: / 1
JelekBagus 

Hideki Hamada

Jumat, 16 September 2011

Walaupun masih dalam taraf pemulihan pasca gempa bumi dan tsunami, 'the show must go on'...

Tokyo Game Show/ Foto: Yoshiaki MiuraTokyo Game Show/ Foto: Yoshiaki MiuraBagi para gamers, akhir pekan ini akan terasa seperti hari Natal. Tokyo Game Show (TGS), ajang pameran game terbesar di Jepang, sudah dimulai sejak Kamis kemarin (15/09) di Makuhari Messe Convention Center, di Chiba dekat Tokyo dan akan berlanjut hingga 18 September (pada Sabtu dan Minggu terbuka untuk umum). Lebih dari 140 peserta pameran berpartisipasi, pesta-pesta di luar venue sudah dilangsungkan hingga larut malam dan yang seru pastinya, banyak sekali video game baru.

Bukanlah pameran yang bisa dianggap remeh karena sesungguhnya tampak tak mungkin diadakan mengingat Jepang masih dalam tahap pemulihan usai dihantam tsunami dan gempa bumi pada tanggal 11 Maret lalu. Pemerintah pusat sebenarnya sudah mencanangkan konservasi energi atau setsuden selama musim panas ini, sehingga ajang seperti TGS yang menyedot banyak energi hampir tak mungkin dihelat. Penyelenggara TGS merespon pada krisis energi ini dengan mengurangi konsumsi listrik selama pameran hingga 25 persen yaitu dengan cara meniadakan penggunaan tangga berjalan, memanfaatkan bola lampu LED dan membatasi daya listrik bagi anjungan semua peserta pameran.

Konservasi energi bukanlah satu-satunya yang ada dalam benak penyelenggara. Ada kekhawatiran bahwa bencana tsunami dan gempa bumi bisa menghentikan industri game di Jepang. "Meskipun musibah besar memang memperlambat pertumbuhan usaha, tapi kami mampu perlahan bangkit," ujar Takuma Endo, Direktur Utama Acquire, jelang digelarnya TGS. Ia menambahkan,"Kami akan terus membuat game yang unik dan menghidupkan etos kerja kami." Acquire berencana mempertontonkan produk terkini mereka Sumioni untuk PlayStation Vita yang diproduksi Sony.'Sumioni'/ Foto: Istimewa'Sumioni'/ Foto: Istimewa

Setelah bencana besar itu lewat, para pengembang game di Jepang kini menghadapi ancaman yang berbeda dan bertumbuh, apalagi kalau bukan para pesaing mereka di Barat. Pada lima tahun belakangan, perusahaan seperti Activision dan EA terus membayangi produsen Jepang seperti Konami dan Sega. Pada TGS 2009, Keiji Inafune pembuat 'MegaMan' bahkan sempat sesumbar bahwa industri game Jepang sudah "mati." Inafune ternyata terlalu dini membuat pernyataan. Pada perhelatan TGS kali ini, akan banyak judul baru yang dipastikan akan memikat gamers dari Jepang dan manca negara.

"Jelas sekali ini merupakan persaingan dengan Barat," ujar Akira Yamaoka dari Grasshoper Manufacture, Tokyo. "Games yang dipamerkan di expo E3 di Los Angeles dan gamescom di Jerman sangatlah memukau. Saya tak sabar melihat kebangkitan game negeri kami dari ajang TGS."

Berita-berita yang tersiar sebelum TGS kali ini umumnya seputar mesin-mesin game yang baru. Platinum Games, perusahaan yang bertanggung-jawab atas "Bayonetta" dan beberapa judul buatan Jepang yang inovatif dalam tahun-tahun belakangan, merupakan salah satu dari banyak pengembang yang memfokuskan pada perangkat keras sebagai peluang baru. "Saya sangat menantikan semua ini sebagai sesuatu yang akan menginspirasi kreatifitas baru dan keaslian," kata Atsushi Inaba dari Platinum Games.

PlayStation Vita/ Foto: SonyPlayStation Vita/ Foto: SonySony terlihat paling siap untuk mendominasi TGS kali ini dan kentara sekali karena mereka sengaja menghelat pameran ini di lokasi di mana Sony berada, karena itu layak disebut sebagai langkah yang cerdas. Termasuk TGS, ada 3 ajang pameran game berskala internasional tahun ini, ditambah America's Electronic Entertainment Expo (dikenal sebagai E3) yang sudah diselenggarakan di akhir Mei hingga awal Juni serta gamescom di Cologne, Jermany, bulan Agustus. Perusahaan pembuat game biasanya ingin memamerkan produk baru, memperlihatkan new footage dan mengadakan demo-demo baru di setiap pameran itu. Tentu saja dengan segala yang serba baru ini membuat para produsen game sering menjadi berita utama dan selalu ditunggu gamers. Pada saatnya TGS digelar, kebanyakan produsen mungkin mengalami kelelahan berpameran. Tapi Sony tampaknya berhasil membuat beberapa kejutan bagi Jepang sendiri.

Ajang ini melambangkan budaya penyuka game di Jepang. Karenanya pameran ini menghadirkan atmosfer cosplay (costume play). Meskipun Jepang tak pernah membuat ide agar orang berpakaian seperti karakter yang disukainya ("Trekkie" atau para penggila "Star Trek" jelas memeloporinya), tapi mereka tahu bagaimana membuat orang keranjingan dengan game. Dari tahun ke tahun, cosplay di TGS terus menyedot perhatian pengunjung. Inilah yang membedakan TGS dari berbagai pameran industri perdagangan yang selama ini ada. Inilah saatnya orang-orang tampil beda dan akhir pekan ini memang milik gamers sejati.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh