Liputan

"Berharap Sekolahkan Anak dari Sedekah"

Penilaian Pembaca: / 1
JelekBagus 

Safari Sidakaton

Senin, 29 Agustus 2011

Iwan dan anaknya yang ingin bersekolah/ Foto-foto: SafariIwan dan anaknya yang ingin bersekolah/ Foto-foto: SafariSudah menjadi tradisi menjelang Hari Raya Idul Fitri, sejumlah ruas jalan yang banyak dipenuhi kendaraan akan selalu dipenuhi orang yang mengiba-iba untuk meminta belas kasihan. Khususnya di Ibukota Jakarta, mereka dapat ditemui di setiap perempatan, pertigaan lampu merah atau ruas jalan yang padat kendaraan.

Satu diantaranya adalah yang terdapat di Jl Fatmawati Jakarta Selatan. Sepanjang jalan yang menghubungkan wilayah Blok M dan Cilandak ini ada sekitar puluhan pemulung dan pengemis yang duduk-duduk menanti belas kasihan. Dalam menjalankan aksinya mereka tidak hanya seorang diri tapi juga kadang membawa istri dan anak-anaknya.

Jika anak yang dibawanya tertidur dan tidak kuat dibopong, maka ada yang ditempatkan di dalam gerobak. Bahkan, ada gerobak yang dimodifikasi untuk tidur anaknya dengan menjadikan sebuah ayunan dari kain yang diikat diantara sisi-sisinya.

Istri Iwan dan bayi yang masih merah...Istri Iwan dan bayi yang masih merah...Mereka membawa istri dan anak-anaknya untuk meraih simpati di tengah keterbatasan. Memang, tidak semua pengemis yang seperti itu, ada juga yang memang berharap rezeki pada bulan yang penuh limpahan rahmat dan berkah itu. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang miskin yang perlu bantuan.

Satu diantaranya adalah Iwan (40). Iwan mengaku sehari-hari berprofesi sebagai pemulung. Biasanya ia memulung dari pagi hingga siang hari. Khusus pada bulan puasa usai memulung, maka akan mengajak istri dan anak-anakanya mengemis. Mengemis dilakukan usai adzan mahgrib berkumandang atau waktu buka puasa.

Biasanya ia mengemis hingga larut malam atau menjelang waktu sahur tiba. Saat ditemui TNOL, Rabu (24/8) malam, gerobak yang dibawa Iwan telah kosong dengan hasil pulung. Di gerobak yang berukuran 1 x 2 m dan tinggi 1 meter itu hanya tersisa kardus beberapa helai dan botol mineral.

Iwan mengaku semua hasil pulung telah disetorkan kepada bosnya di Tanjakan Mekah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ada dua bos yang selama ini menampung hasil pulungannya yaitu yang bernama Untung dan Toto. Biasanya dalam memulung ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 30-40 ribu.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri seperti saat ini maka akan ia mengemis usai memulung. Dalam mengemis ia ditemani oleh Lia (29), istri dan dua anaknya Nazwa (6,5) dan Aulia (1,5). Iwan mengaku tidak malu membawa istri dan anak-anaknya mengemis karena hal tersebut untuk menutupi biaya hidupnya.

“Cari-cari tambahan karena memulung hasilnya tidak cukup untuk biaya hidup,” kata Iwan polos.

Iwan menuturkan mengemis mulai dilakukan ketika memasuki Hari Raya Idul Fitri saja. Hasil mengemis tidak bisa diprediksi pendapatannya alias tidak menentu. Kemarin, hasil mengemis untuk membeli nasi bungkus saja. Oleh karena itu ia tetap memulung pada waktu pagi hari.

Gerobak pulung menjadi harapan hidup...Gerobak pulung menjadi harapan hidup...Dari hasil memulung pula, Iwan berhasil membayar biaya persalinan istrinya. Saat melahirkan anak kedunya istrinya mengalami operasi Caesar yang menghabiskan dana sebesar Rp 3,2 juta. Biaya persalinan merupakan pinjaman dari bosnya.

“Pinjaman itu lunas dalam waktu delapan bulan,” paparnya.   

Sebelum memulung, profesi Iwan adalah sebagai pekerja bangunan. Namun hasil kerja tersebut tidak mencukupi biaya hidupnya sehingga lelaki kelahiran Surabaya Jawa Timur tersebut beralih profesi menjadi pemulung. Sebagai pemulung, saat ini Iwan sedang mengumpulkan biaya untuk masuk sekolah anak pertamanya. 

“Lagi nyelengin untuk biaya sekolah. Saya juga lagi mengurus surat-surat karena akte anak belum ada,” paparnya.

Sebagai orang tua, Iwan berharap agar anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan sekolah yang layak. Oleh karena itu, Iwan selalu mengumpulkan uang walaupun dari hasil memulung atau mengemis. “Saya berharap bisa mendidik anak, syukur-syukur bisa menjadi bos pemulung,” ujarnya.

Namun sebagai pemulung dan pengemis, Iwan merasa selalu khwatir dan was-was. Apalagi jika ada razia yang dilakukan aparat Satpol PP.  “Kalau ada Kamtib, paling saya lari saja,” jelasnya dengan wajah miris. (Sbh)

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh