Grup band Sang Bango/ Foto-foto: Dok.BETAWI punya segudang cerita, itu tak bisa disangkal. Budaya dan keseniannya, juga selalu menarik untuk disimak dan ikuti. Terlebih, ragam kesenian Betawi seperti lenong, gambang kromong, rebana tanjidor dan keroncong adalah perpaduan seni dari beragam etnis.
Tapi, semua kesenian itu jika tidak dilestarikan akan punah dan hanya tinggal kenangan saja. Nah, pemikiran untuk melestarikan kesenian itulah yang mengilhami terbentuknya grup band yang bernama 'Sang Bango'. Band yang berdiri pada tanggal 16 Mei 2009 di Jakarta ini, berbeda dengan grup musik Betawi pada umumnya. Terutama, dengan dua vokalis yang dimiliki ditambah dengan gendang rampag.
Dua vokalis yang dimiliki Sang Bango guna mendekatkan keaslian dari lagu-lagu yang dibawakan oleh Benyamin S yang selama ini berduet dengan Ida Royani. Sementara, gendang rampag untuk mendekatkan keaslian dari kesenian tradisional Betawi gambang kromong yang selalu dilengkapi dengan gendang rampag.
Adapun personil dari Sang Bango adalah Cing Mien (vokalis 1), Mpok Ida (vokalis 2), Cing Lung (gitar), Memey (gitar melodi), Abel (bass), Toeyoel (drum) dan Sandy (gendang rampag). Selain itu, untuk membedakannya dengan grup musik Betawi pada umumnya, semua personil Sang Bango juga mengenakan kostum Betawi. Yakni, baju pangsi yang kerap dikenakan Si Pitung.
Dengan kostum tersebut maka akan terlihat bahwa Sang Bango adalah pengusung berbagai kesenian yang berasal dari Betawi.
Gaya Sang Bango"Kita pakai kostum Betawi karena ingin mengangkat budaya betawi lewat lagu, juga dengan pakaiannya," kata Codet, manager Sang Bango yang ditemui TNOL saat menghadiri kopi darat yang digelar Komunitas Facebook Penggemar Benyamin Suaeb (KFPBS) di Taman Marga Satwa Ragunan, akhir Januari lalu.
Menurut Codet, ada beberapa alasan dibentuknya Sang Bango. Pertama adalah ingin melestarikan kesenian dan budaya Betawi agar tidak punah dilekang waktu. Kedua, Sang Bango juga ingin 'berbeda' dari band-band anak muda yang ada. Oleh karena itu Sang Bango memiliki ciri khusus sebagai orang Betawi, yakni mengenakan baju pangsi Betawi. Ketiga, dibentuknya Sang Bango juga untuk menunjukan bahwa di daerah Pluit, Jakarta Utara masih banyak orang Betawi yang harus diperhatikan.
Orang Betawi di Pluit perlu diperhatikan, karena selama ini banyak orang-orang Betawi yang kurang mendapat perlindungan dari pemerintah. Akibatnya, banyak orang Betawi yang terpaksa harus menyingkir ke daerah lain di luar wilayah Jakarta karena lahannya telah digusur oleh berbagai pihak.
Sementara terkait dengan selalu membawakan lagu-lagu Benyamin S, alasannya karena selama ini Benyamin S adalah ikon orang Betawi. Benyamin S yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini dikenal sebagai pemeran film, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia yang selalu menyanyikan lagu-lagu bernuansa Betawi. Hingga akhir hayatnya, Benyamin telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
Sang Bango memang telah sepakat untuk membawakan lagu-lagu yang bernuansa khas Betawi. Khususnya, lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oleh artis serba bisa dan legendaris seperti Benyamin S, yang lagu-lagunya masih dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini.
“Benyamin S selalu bawain lagu khas betawi, seperti Keroncong Kemayoran, Sirih Kuning, Ayam Jago dan lainnya,” ujar Codet.
Selama ini Sang Bango telah menciptakan tiga lagu bernunsa Betawi yang kerap dinyanyikan ketika perform di berbagai tempat, yakni Kalo Jodo Ga Kemane, Cemburu Buta dan Lagu-Laguan.
"Kami merasa bangga bisa mempertahankan eksistensi dan akhirnya terbentuk keyakinan bahwa bermusik adalah sebuah pilihan," tandasnya. (Sbh)