Jajanan yang menyediakan makanan bakmi Tasikmalaya kali ini ada di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Lokasinya mudah dicari, karena letaknya persis sebelum terminal Rawamangun.
Tempatnya sendiri tidaklah besar, tapi jangan salah biar sederhana warung ini setiap harinya selalu dipadati pengunjung. "Saya sengaja membuat tempat yang sederhana agar setiap orang mau mampir kemari, mulai dari menengah ke atas hingga menengah ke bawah,"kata Yan Kustian (62) pemilik Bakmi Tasikmalaya.
Bakmi sedang diolah/ Foto: NovriyadiYan mengaku, ia membuka usaha bakmi ini sejak tahun 1989. Awalnya ia adalah pengusaha minimarket, karena usahanya saat itu mandeg ia pun memutuskan untuk banting stir menjadi pengusaha makanan,"Selama 5 bulan saya belajar keras membuat resep Bakmi Tasikmalaya yang enak," terangnya.
Bagi Anda yang belum mencoba bakmi khas Tasikmalaya ini, sekilas penampilan fisiknya tidak beda dengan bakmi lainnya. Yang membedakannya adalah diberi topping suwiran babat rebut sebagai tambahan variasi menu.
Selain itu, turut membedakan Bakmi Tasikmalaya dengan yang lainnya adalah mie- nya dibuat sendiri oleh yang empunya tanpa menggunakan bahan pengawet dan tanpa pewarna. Bahannya, hanya tepung terigu dan telur."Kami berbeda dengan mie yang lain, kalau yang lain mienya dibuat dari soda kue, air abu dan bahan pengembang sehingga kalau dimakan akan membuat perut kembung," ungkap Yan menjelaskan.
Menurut Yan, dirinya hanya membuat mie sekali dalam sehari, jika ada kelebihan maka dirinya akan membagikan kepada pengamen-pengamen sekitar. Namun, kalau kekurangan maka dia akan membuat adonan mie yang baru."Karena mie kita tidak dibuat dari bahan pengawet, maka tidak tahan lama,"jelas Ayah tiga anak ini memastikan.
Apa yang disampaikan Yan memang benar adanya, itu terbukti saat TNOL mencoba kenikmatan Bakmi Tasikmalaya tersebut. Meski awalnya agak kaget juga melihat penampilan fisiknya. Mie dicampur dengan babat, gimana ya rasanya?
Sluurrrp...saat masuk kemulut. Hmmm,.. mie nya sangat kenyal serta tidak alot, mungkin kekenyal tersebut didapat dari kandungan telurnya."Saya membuat adonan kuenya dari terigu, air dan telur ukurannya satu berbanding lima," ucap Yan bersemangat.
Mie dan babat diracik khusus/ Foto: NovriyadiRasa takjub tidak sampai disitu, saat mencoba babatnya "Kres-kres," itu sensasi yang ada di mulut ketika memakannya. Yan mengatakan, untuk membuat babat seperti itu prosesnya sangat panjang, karena babat harus dicuci sampai empatkali, lalu direndam dan dicuci kembali. "Kalau memasak 6 kilo babat bisa menghabiskan waktu selama 4 jam mencuci,"ungkap pria asli Tasikmalaya ini.
Bagaimana dengan kuahnya ? Saat mencicipi kuahnya, kaldunya itu loh...terasa banget. Rasa asin bercampur manis menjadi satu kesatuan rasa yang begitu nikmat. Nah, untuk kuahnya sendiri, Yan menggunakan rebusan tulang ayam, dalam sehari dirinya menghabiskan 10 ekor ayam untuk dibuatkan kaldu.
Satu hal lagi yang membuat bakmi ini luar biasa, yaitu sambalnya. Untuk sambal didatangakan langsung dari Tasik, "Sambal ini adalah sambal bawang putih, sambal ini tidak akan ditemukan dimana-mana kecuali di Tasikmalaya," jelas Yan sembari menyatakan harga mienya pun sangat terjangkau kantong. Mau....?
Bakmi Tasikmalaya
Jl. Paus 93 Rawamangun, Jakarta Timur
Harga : Rp 11.000- Rp 20.000,-