Kuliner

'Icip-icip' Pempek Sudi Mampir Palembang Yuk!

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Subhan Hardi

Kamis, 12 Januari 2012

Pempek atau empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya, sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang. Karena, hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya...

Pempek Saga Sudi Mampir/ Foto-foto: Uus S.Pempek Saga Sudi Mampir/ Foto-foto: Uus S.Pempek disajikan dengan ditemani saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (Bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi, cabai rawit tumbuk, bawang putih dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan.

Namun, seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera, maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Asal tahu saja, cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Karena, dalam satu liter larutan kuah pempek, biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. Ada pun pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.

Hmmm, rasanya belum lengkap jika berkunjung ke Palembang tanpa menyantap hidangan yang satu ini..!

Jenis pempek yang terkenal adalah pempek 'kapal selam' berupa telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama ada'an), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil dan pempek keriting yang tak kalah nikmatnya.

Pempek Sudi MampirPempek Sudi MampirPempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di seantero Kota Palembang. Pempek dijual dimana-mana di sana, ada yang menjual di restoran, ada yang di pinggir jalan dan ada juga yang dipikul. Di semua kantin sekolah, tempat kerja/kampus pasti ada yang menjual pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek biasa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang dengan berjalan kaki menjajakan makanannya. Jadi, sangat mudah ditemui.

Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau China ke Palembang. Kira-kira sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang-Darussalam. Nama 'empek-empek' atau pempek diyakini berasal dari sebutan 'Apek', yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang Apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin. Menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain.

Farah Quinn ikut menyantap Pempek di Sudi MampirFarah Quinn ikut menyantap Pempek di Sudi MampirKemudian, ia pun mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para Apek dengan bersepeda keliling kota. Karena penjualnya dipanggil dengan sebutan 'pek...apek' maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai 'empek-empek' atau pempek.

Namun, cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut. Karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad ke-16. Selain itu, velocipede atau sepeda baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Selain itu, Sultan Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767. Juga, singkong sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada zaman penjajahan Portugis dan baru dibudidayakan secara komersial tahun 1810.

Meski begitu, sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan China seperti Baso ikan, Kekian atau pun Ngohyang.

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut pun diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah. Tetapi, tentunya dengan rasa yang tetap gurih dan mantap saat disantap.

Menyantap Pempek Saga

Pempek Lenggang saat di panggangPempek Lenggang saat di panggangPetualangan kuliner alias ‘icip-icip’di kota Palembang dengan citarasa pempeknya, pun tak luput dari perhatian saya saat berkunjung November 2011 lalu. Tak lengkap rasanya, jika belum mencoba makanan khas yang satu ini.

Setelah melalui seleksi dan beragam informasi yang diterima terkait santapan berkuah ini, pilihan jatuh ke resto 'Pempek Saga Sudi Mampir' di Jalan Merdeka (depan kantor walikota), Palembang. Tentu, tempat menyantap yang satu ini sudah  tak asing di telinga 'penikmat' makanan.

Tak menunggu lama, Pempek Saga pun terhidang di meja. Dari cara penyajiannnya terbilang sangat sederhana dan tak begitu menarik. Tapi, bagaimana dengan rasanya? “Hmmm, memang betul adanya. Amboi, gurih benar dan nikmat rasanya.” Beberapa gigitan selanjutnya, pun tak berubah hingga santapan berakhir.

Pempeknya cukup terasa saat di lidah, namun agak kenyal. Dibalut dengan aroma dan citarasa ikan tenggiri, makin pas saat ditambah kuah cuka yang asam dan pedas. Manstabbb..!  

Selain pempek, di restoran ini juga tersedia makanan khas Palembang lainnya, seperti Tekwan, Otak-otak, Nasi khas Palembang dan lainnya. Namun, sayang, dari sisi pelayanan terasa kurang ‘sedap’ dikarenakan para pramusajinya yang tak begitu ramah. Sementara, soal harga terbilang cukup 'menggigit' kantong.  

Just info, salah satu makanan unggulan di tempat ini adalah Pempek Lenggang yang diolah dengan cara dibakar. Proses pembakarannya pun menggunakan daun pisang sehingga aromanya bikin orang terus mampir dan mampir lagi.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Comments  

 
#1 arie 2012-01-13 11:28
kenapa juga nyoba makan disana kan ada tempat yang lebih enak..
pempek pinggiran jalan jg gak kalah enak dibandingkan yang direstoran
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh