Makanan yang satu ini punya nama ‘nyentrik’ dan terkesan sangat gaul. Tapi, apakah rasanya bisa disebutkan seperti itu? Yuk, cobain Tahu Gimbal!
Ini dia wujudnya si Tahu Gimbal...!/ Foto-foto: Subhan HardiNamanya, sumpah, bikin penasaran banget. Dan itu, tidak saya lewatkan ketika berkunjung ke Semarang, persisnya di Simpang Lima. Itu loh, tempat yang paling kesohor dan menjadi ikon 'Kota Lumpia' dengan taman kotanya.
Jika berkunjung ke sini, tentu yang disasar adalah makanan yang tersaji di seputar area taman tersebut.
Jika menyusuri pusat jajan dan makanan ini siang hari memang terasa agak gerah, karena cuaca di sana cukup panas. Namun, semua itu akan terbayar dengan ragam makanan yang ditawarkan begitu lengkap. Banyak sekali, dan kebanyakan memiliki style tradisionalnya yang khas.
“Mas mampir, cobain lumpia gorengnya panas. Ini ada Bakso Rudal, sate mas, yang anget-anget wedang jahenya mas” ajakan itu terdengar ramah dari penjaja dan terus dijumpai manakala berkeliling. Seru juga sih, kalau pas perut lagi minta diisi. Rasanya pengen makan semuanya. "Lapeeeerr!" gumam dalam hati.
Saat itu, pilihan jatuh pada menu yang punya julukan 'Tahu Gimbal.' Lokasinya ada di depan Masjid Baiturrahman. Melihat cara menjajakannya cukup simpel dengan model lesehan yang membumi. Tikar dibentang, dibantu dengan tenda ala kadarnya yang menutupi indahnya langit di malam hari, wisata kuliner di sini terasa pas. Gerobak dorong dengan alat memasaknya menjadi sisi lain sebagai pelengkap yang paling vital.
Tahu Gimbal Semarang disajikan sederhanaTak menunggu lama, 10 menit makanan langsung tersaji. Saat itu kebetulan suasana sangat ramai oleh pengunjung. Ada anak muda yang sedang pacaran, ibu-ibu dengan anaknya, sampai para pencari jodoh. “Kira-kira, om-om deh gituh!” Komplit, semua menyatu beralaskan tikar lesehan sembari memandang lalu-lalang mobil dan kerlap-kerlip lampu yang cukup 'cantik'.
Sebenarnya, Tahu Gimbal itu, hampir mirip dengan Pecel. Terutama dari bumbunya yang terbuat dari kacang tanah. Hanya saja, bumbu tersebut agak encer menggunakan petis udang dan ‘jeroannya’ yang beda. Kalau Pecel kebanyakan sayuran, sementara Tahu Gimbal tidak. Terbilang komplit dan rada unik.
Mulai dari telor yang di goreng agak amis, dibilang begitu karena menggorengnya dengan minyak yang tenggelam. Tak ayal, telur ayam mata sapi ini menjadi sangat berminyak dan menggelembung.
Dijajakan dengan gerobak dorongPelengkap lainnya adalah lontong, tahu, sedikit sayuran seperti tauge dan kol, udang goreng berukuran sedang lengkap dengan kulitnya yang agak alot, hingga bakwan goreng yang berisi udang. So, ‘jeroan’ inilah yang disebut gimbal. Gimbal digoreng garing dengan perpaduan rasa yang pas, antara gurih, manis dan sedikit pedas. Sama seperti tahu atau lontong. Gimbal di potong-potong kecil-kecil dengan gunting sehingga campuraduk, duk..duk..!
Hmmm…rasanya pun menjadi lebih beragam dengan citarasa kacang yang dominan. Pas saat dikunyah dan digigit. Di sini ada kombinasi gurih dan manis. Kalau boleh dibilang agak sedikit asam karena ada kombinasi sayur. Dan, ya itu tadi, gimbalnya yang kaya rasa dan sedikit melawan saat digigit. Jadi, menikmati makanan ini, gigi 'kudu' kuat.
Setelah menyantap, hal menarik lain di tempat ini adalah keramaian dan sesekali nyanyian pengamen dengan suaranya yang khas. Serak-serak tanpa intonasi dan terkadang sumbang. Namun, secara keseluruhan terasa cukup asyik dan menyenangkan.