CSR

Kriya Kayu Rik-Rok, Pensilnya ‘Gaul’ ke Hotel Bintang Lima

Penilaian Pembaca: / 2
JelekBagus 

Subhan Hardi

Kamis, 17 November 2011

Menjadi perajin souvenir 'pensil gaul' bukanlah keinginan Purwanto alias Ipung. Semua bermula ketika dirinya di-PHK setelah 6 tahun mengabdi pada salah satu hotel berbintang di Kota Magelang...

Ipung saat ditemui di showroom-nya/ Foto: Uus S.Ipung saat ditemui di showroom-nya/ Foto: Uus S.Lantas, putus asakah dirinya? Jawabnya tidak, meski ada kebingungan apa yang harus dilakukan ketika itu. Medio tahun 1995 saat di-PHK adalah yang tersulit baginya. Hampir 2 tahun berlalu dan mengalir begitu saja, ia pun mulai merintis usaha handicraft (kerajinan tangan) pada tahun 1997.

Dengan memberdayakan keluarga, Kriya Kayu RIK-ROK pun dibangun dan menjadi tempat dirinya mengasah keterampilan. Kreativitas dan segala kebisaan muncul sebagai ekspresi dirinya untuk berkarya. Mengandalkan 'pensil gaul' sebagai karya unggulan, usaha ini pun berjalan hingga kini meski 'jatuh bangun' kerap menghampirinya.

Itulah dinamika usaha yang ditekuni Ipung sebagai seorang perajin suvenir di kawasan Umbul Tirto, Borobudur, Magelang. Di kawasan ini ia bermukim, sekaligus menjadikannya sebagai showroom dimana karya-karyanya dilihat dan diperjualbelikan.  

Awalnya, Ipung tidak serta merta menjadi perajin souvenir 'pensil gaul'. Dengan melihat potensi wisata yang ada di kawasan Candi Borobudur, ia pun mencoba membuat kerajinan/cinderamata dengan bahan baku resin (fiber) dengan produksi seperti: Miniatur Stupa, Miniatur Candi Prambanan, Patung Budha dan sebagainya. Usaha ini dijalankan selama 2 tahun dan sempat mengalami kejayaan hingga memperkerjakan 20 orang karyawan.

Namun, kembali cobaan menghadang. Krismon (krisis moneter) pun melanda Indonesia. Usahanya hancur total. Karena bahan baku yang dipergunakan adalah bahan impor yang mengalami kenaikan hingga 300 persen. Sementara, tidak dinaikkan saja, daya beli masyarakat sudah ‘meluncur’ tajam.

Tamatlah riwayat kerajinan dengan bahan baku impor (resin) pikirnya ketika itu. Diperparah, dengan kritikan banyak pihak yang menyoroti dengan dalih tidak ramah lingkungan. Pencemaran dan lain sebagainya, akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan usahanya.

“Memang menjalankan sebuah usaha tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh ketekunan dan proses waktu yang panjang,” begitulah ucap Purwanto di showroom-nya yang sederhana. Terlihat beragam buah karyanya ‘mejeng’ dengan beragam kreasi. Mulai dari pensil gaul, pensil batik, sepeda yang terbuat dari kayu, lampu, gantungan kunci dan beragam souvenir yang cantik dengan kualitas cukup baik.

Bahan Limbah

Pensil Gaul/ Foto: IstimewaPensil Gaul/ Foto: IstimewaBukan Ipung namanya kalau tidak ‘membandel’ alias pantang menyerah. Setelah gagal dengan bahan resin, untuk bahan baku membuat karya-karyanya, ia pun beralih kepada bahan-bahan yang tidak terpakai dan bisa dibilang sebagai limbah. Ia berpikir sederhana. Tidak mungkin bisa memproduksi suatu barang dengan kualitas yang baik, tapi dengan harga yang murah. Karenanya, Kriya Kayu RIK-ROK harus berkreasi dan tidak menyerah begitu saja.  

Akhirnya, ia pun menggunakan bahan-bahan limbah yang dibeli dengan harga murah sekali. Selain itu, juga memanfaatkan bahan bantu yang ada di sekitar dirinya. Dimana orang lain tidak menggunakan, bahkan dibuang begitu saja. Bahan tersebut bukan barang bekas. Jika dilihat sepintas tidak berguna sama sekali, namun di tangannnya setelah mendapat ‘sentuhan’ menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi.

“Bahan-bahan itu saya gunakan seperti, kain perca, bulu ayam, buah 'nyemplung', kulit salak, serat buah gambas, biji sego telik dan masih banyak yang lain. Bahan-bahan itu, saya padukan dengan bahan baku utama, sehingga menghasilkan kerajinan dengan nilai jual yang terjangkau dan kualitas yang tak kalah dari produk sejenis,” ungkap Ipung sembari menyatakan setelah 14 tahun menggeluti usaha, perkembangan sudah diraih meski tidak fenomenal.

“Karena usaha saya UKM (Usaha Kecil Menengah) jadi lebih bersifat tradisional. Ibarat sebuah statistik, grafiknya ada. Pelan, tapi naik,” sambungnya senang.

Mitra Jamsostek

Untuk mengembangkan usahanya sebagai perajin handicraft, tentu masalah permodalan adalah yang utama. Ipung berpikir, dirinya harus mempunyai modal yang cukup, sehingga dirinya kasak-kusuk untuk mendapat informasi soal pinjaman modal. Beruntung, lewat komunikasi dan jaringan yang dimilikinya, ia pun berkenalan dengan Jamsostek.

Meski, awalnya ia sempat wara-wiri ke beberapa bank, namun pilihannya jatuh kepada Jamsostek dengan program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang sangat membantu pengusaha kecil seperti dirinya. Lewat pinjaman dana bergulir, Ipung pun mendapat bantuan Rp 3 juta yang dipergunakan untuk membeli bahan baku dan keperluan lainnya.

“Program kemitraan sudah setahun ini saya lakukan dengan Jamsostek. Kalau dipikir-pikir sangat membantu dan prosesnya mudah. Saya pernah punya pengalaman, kalau pinjam di bank itu sama seperti orang yang dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Nggak ditangani dengan cepat, ya, akhinya ‘meninggal.’ Kalau di Jamsostek nggak perlu jaminan, dengan kepercayaan sudah menjadi modal dan diberikan bantuan. Tapi, bukan berarti saya maniak pinjaman loh,” ujar Ipung semangat sembari tertawa.  

Berkat kerjasama yang baik dan didukung oleh Jamsostek, Ipung mengakui, dirinya kini bisa terus bertahan dan mengembangkan usahanya. Strategi bisnis dengan membangun jaringan juga ia tingkatkan. Semisal, ada pameran yang digelar Jamsostek, baik di daerah maupun luar kota, seperti Jakarta, dirinya tak mau ketinggalan. Hal itu sangat berpengaruh kepada publikasi dan perhatian masyarakat terhadap karya-karyanya. Itu terbukti, kini ia menjadi supplier tetap resor Amanjiwo dan hotel berbintang untuk cinderamata para turis di Yogyakarta dan Magelang.

Selain itu, beberapa penghargaan juga diraih seperti tahun 2003 mendapat piagam penghargaan dari Bupati Magelang sebagai Pengembang Kerajinan Kayu. Tahun 2006 memberi pelatihan kepada perajin di Tangkahan, Gunung Leuser, Sumatera Utara, hingga bertemu Presiden SBY di Gedung SMESCO Jakarta. Dan, setelah dengan semua pencapaian itu, satu hal yang pasti, kini karyanya semaki ‘gaul.’ Terutama 'pensil gaul' Ipung yang semakin gaul abis!  

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh