Kurnia Effendi di Bali Emerging Writer Festival. (Foto: Kurnia Effendi)Banyak upaya yang dilakukan untuk membesarkan dunia kesusasteraan Indonesia. Baik yang dilakukan oleh kalangan pelat merah maupun oleh swasta. Dan mestinya, dunia kepengarangan Indonesia bisa menjadi lebih kaya lagi oleh idealis-idealis baru yang sedang penuh semangat untuk mengarung jagat karya sastra. Namun, seperti juga banyak dialami oleh karya-karya bacaan yang lain, nasib penulis Indonesia masih banyak bergantung pada para penerbit. Jadi, setelah mereka bisa menulis, mereka harus juga memahami akan tema-tema yang sedang digandrungi pasar – supaya karyanya bisa terjual, dan juga harus mengerti bagaimana proses pembuatan buku, pendistribusiannya, dan pemasarannya. Memang jadi kedengaran rumit. Namun hakikinya, seorang pengarang haruslah memiliki pengetahuan yang luas – karena itu modal dasar dari karya-karyanya.
Beberapa waktu lalu, di Bali diselenggarakan festival bagi penulis muda. Diharapkan, dari ajang ini akan lahir pengarang-pengarang yang sanggup membawa nama Indonesia ke kancah sastra dunia. Berikut ini laporannya....
IstimewaDari sekian banyak masalah, ada dua hal penting dalam dunia kesusasteraan Bali (baca: Indonesia) yang perlu mendapat perhatian. Pertama, ruang apresiasi yang kurang luas dan layak sesuai selera zamannya. Kedua, tak terangkainya dengan baik komunitas-komunitas kesusasteraan dengan dalam sebuah jaringan internasional yang rapi dan berkelanjutan. Atas dasar itulah Direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Janet de Neefe, menggagas festival serupa yang dikhususkan untuk kalangan muda. Maka lahirlah sebuah ajang bertajuk Bali Emerging Writer Festival (BEWF).
Festival ini diselenggarakan untuk para penulis muda Indonesia, terutama yang berusia di antara belasan tahun hingga akhir 20 tahunan. Pertimbangannya sederhana saja, “karena merekalah masa depan kesusastraan Indonesia,” ucap Janet pada jumpa pers di Serambi Arts Antida, Jl. Waribang 32 Denpasar.
Menurut amatan Janet, selama ini sebagian besar perhelatan kesusastraan di tanah air masih terfokus pada penulis-penulis Indonesia yang sudah punya nama. Karena itulah ia dan teman-temannya menggelar festival yang diharapkan menjadi cikal bakal ajang tahunan, sekaligus menjadi model bagi ajang-ajang serupa di berbagai daerah lainnya di Nusantara.
Foto: Kurnia Effendi“Ajang-ajang seperti ini penting karena akan memberi kesempatan bagi para penulis muda untuk menunjukkan kemampuannya, saling berbagi ide dengan teman sebayanya, serta menularkan kecintaan mereka pada sastra kepada generasi muda lainnya,” ujarnya.
Lebih detil, manajer pengembangan komunitas UWRF, Kadek Purnami mengatakan bahwa acara-acara BEWF dirancang khusus untuk mencerminkan kecendrungan-kecendrungan sastra yang dilakoni anak muda saat ini.
“Festival ini festivalnya anak muda, dengan gairah dan semangat anak muda pula,” paparnya sembari menambahkan bahwa sebagian besar pembicara, moderator, dan penampil hiburan dalam malam perayaannya adalah anak muda.
Menurut Purnami, BEWF yang digelar pada 27-29 Mei tersebut menampilkan 20 penulis, termasuk sejumlah penulis muda Bali yang sedang menunjukkan kemilaunya seperti Ayu Diah Cempaka (sutradara pemenang 2010 Bodyshop Documentary Film Competition), Frischa Aswarini (pembaca puisi terbaik pada Poetry Slam di 2009 Utan Kayu International Literary Biennale), Ni Putu Rastiti (peraih Singa Ambara Raja Award) serta Ni Made Purnamasari (puisinya termuat pada Antologi Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2007).
IstimewaBEWF juga menampilkan sejumlah penulis terkemuka Indonesia seperti Made Adnyana Ole, Kurnia Effendi, Iyut Fitra dan Dorothea Rosa Herliany. Hadir juga sebagai pembicara Wendi Putranto (executive editor majalah Rolling Stone) serta Herry Sutresna (pendiri grup hip hop kondang Homicide dan Trigger Mortis).
Dari luar negeri, acara ini juga dihadiri oleh David Vincent Smith, penulis skenario yang telah memenangkan sejumlah penghargaan serta pemegang gelar juara Western Australia Poetry Slam.
BEWF juga diisi dengan delapan diskusi panel serta empat workshop, termasuk workshop tentang menulis lirik lagu, serta Celebration Night yang menampilkan empat band muda Bali yang tengah bersinar; Morelia, Nymphea, Day After The Rain dan Ripper Clown.