Dari Komunitas

Masjid Al-Aqsa dan Tuan Rumah HAM OKI

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Dasman Djamaluddin

Rabu, 22 Pebruari 2012

Indonesia harus lebih dari sekadar layak untuk jadi tuan rumah IPHRC OKI....  

IstimewaIstimewaHotel Aryaduta, 20-24 Februari 2012, menjadi saksi sejarah baru kepercayaan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) terhadap Pemerintah Indonesia. Hari itu, Indonesia menjadi  tuan rumah dari Pertemuan Pertama Komisi Permanen dan Independen HAM OKI (OIC - Independent Permanent Human Rights Commission/IPHRC). Sekretaris Jenderal OKI, Ekmeleddin Ihsanologi, serta wakil-wakil dari negara-negara OKI akan hadir.

IstimewaIstimewaPertemuan Pertama IPHRC OKI di Jakarta ini, juga merupakan wujud komitmen Indonesia untuk mempercepat berfungsinya IPHRC OKI, dan menunjukkan kepemimpinan Indonesia di bidang hak asasi manusia di dunia Islam.

Berbicara mengenai OKI, sudah tentu berbicara pula mengenai tragedi hari Kamis, 21 Agustus 1969 -43 tahun silam, di mana dalam siarannya, pukul 09.30 waktu setempat, Radio Israel secara resmi mengumumkan suatu peristiwa yang sangat menyayat hati ummat Islam, bahwa Masjid Al-Aqsa telah terbakar. Nyala api kebakaran itu sendiri, katanya, terjadi mulai kira-kira pukul 07.15, kurang lebih dua jam sebelum radio itu menyiarkannya. Sudah tentu, peristiwa ini segera membangkitkan amarah besar, bukan saja dari Dunia Arab, melainkan dari Dunia Islam seluruhnya. Solidaritas ini kemudian mencapai puncaknya, ketika sebuah organisasi internasional Islam terbentuk, OKI.

IstimewaIstimewa IstimewaIstimewa

Dengan mengungkapkan latar belakang berdirinya OKI ini, saya hanya ingin memberi catatan:

1. Pertemuan apa pun namanya, yang mengatasnamakan OKI, sudah tentu melihat ke latar belakang lahirnya OKI itu sendiri, di mana kekejaman-kekejaman Israel terhadap wilayah Palestina, belum berakhir hingga hari ini. Hal ini harus digarisbawahi, agar Indonesia juga bisa mencari terobosan baru, apa yang akan dilakukan terhadap permasalahan-permasalahan yang sedang berkembang di negara-negara sesama Islam, khususnya wilayah Palestina.

IstimewaIstimewa2. Kepecayaan menjadi tuan rumah, yang menunjukkan kepemimpinan Indonesia di bidang hak azasi manusia di Dunia Islam, harus pula diimbangi dengan kemajuan di dalam negeri. Peningkatan hak-hak azasi, penegakan moral, hingga korupsi bisa dituntaskan. Ini tidak bisa dihindarkan jika kita berbicara masalah hak azasi manusia di Dunia Islam.

3. Kita ingin sekali melihat bangsa ini menjadi terdepan dalam mengemukakan gagasan-gagasan besar di dunia internasional. Bangsa ini rindu ke masa-masa lalu, di mana Indonesia selalu terdepan dalam mengemukakan ide-ide besar, seperti salah satu pendiri negara-negara Non Blok, dan ASEAN.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh