Kesaksian mereka, disaksikan oleh Sang Maha Pencipta dan generasi mendatang....
Agelina Sondakh. (Foto: Istimewa)Siapa pun yang menyaksikan Angelina PP Sondakh bersaksi terhadap terdakwa Muhammad Nazaruddin, Rabu, 15 Maret 2012, di depan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pasti merasa memperoleh hikmah berharga. Karena dari situ, berbagai pertanyaan, kekaguman, kekesalan dan kekecewaan bercampur menjadi satu demi melihat sosok mantan Puteri Indonesia itu. Selain cantik, dan tentu saja cerdas, ia pun terlihat tengah berusaha keras mewakili perempuan intelektual di Indonesia.
Di sisi lain, Angelina PP Sondakh juga sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan itu tidak main-main, penetapan tersangka kepada Angelina PP Sondakh sudah tentu memiliki bukti-bukti yang kuat, karena kalau tidak, KPK sendirilah yang akan menerima akibatnya.
Kesaksian Angelina kemarin bertolak belakang dengan saksi-saksi yang mendahuluinya. Sehingga sampai kepada sebuah kesimpulan, siapa sih yang benar? Apakah Angelina, atau apakah Mindo Rosalina, yang dua-duanya perempuan? Yang jelas, tidak ada dua kebenaran. Kebenaran hanya satu, dan seorang lagi tentu berdusta atau berbohong.
Persoalan yang muncul adalah, bahwa ketika seseorang ingin membuat pernyataan di depan Majaleis Hakim, selalu dibawah sumpah. Bersumpah bukan terhadap sesama, tetapi terhadap Sang Pencipta, apa pun agamanya. Menurut saya, terlepas dari siapa yang benar, maka salah satu pihak sudah sampai kepada mempermainkan Sang Pencipta. Merendahkan derajat Sang Pencipta. Kalau boleh saya tegaskan lagi, menghina Sang Pencipta. Padahal nyawanya ada dalam genggaman-Nya. Juga yang memberinya rejeki dan mengatur kehidupananya. Dalam Islam, atau mungkin agama apa pun, percaya, bahwa manusia itu tidak berdaya apa pun tanpa adanya Sang Pencipta. Entahlah jika di negara-negara anti Tuhan.
IstimewaSebagai pribadi, saya menyayangkan hal ini. Sosok intelektual-intelektual, lebih-lebih pada saat kebetulan adalah perempuan-perempuan, yang sementara ini diharapkan sekali peranannya dalam negara, kok melakukan hal itu. Mereka lebih takut kepada manusia daripada Tuhan. Bagaimana kelanjutan generasi selanjutnya, setelah kita memberi contoh hal tidak baik kepada mereka begini? Mencemaskan.