Dari Komunitas

Pernyataan Parkour Indonesia Untuk Non-Kompetisi dalam Parkour

Penilaian Pembaca: / 6
JelekBagus 

radd

Senin, 13 Pebruari 2012

Sejak awal perkembangannya, tidak ada tradisi kompetisi didalam aktivitas Parkour, juga di Indonesia....  

Ilustrasi: Dok. ParkourIlustrasi: Dok. ParkourParkour Indonesia (PKID), anggota-anggota PKID dan komunitas-komunitas Parkour di Indonesia yang tergabung dengan PKID, menyatakan bahwa kami tidak berafiliasi dan tidak mendukung dengan segala jenis bentuk acara-acara kompetisi Parkour terorganisir. Hal ini dikarenakan bahwa kompetisi di antara praktisi Parkour tidak mencerminkan filosofi dan nilai-nilai Parkour yang asli.

Sejak awal berkembangnya Parkour, kompetisi merupakan hal yang berlawanan dan tidak pernah dianggap menjadi bagian dari Parkour oleh para pendiri Parkour serta para pengembang utama Parkour. Budaya bebas kompetisi adalah bagian unik dan tidak terpisahkan dari Parkour. Etos, filosofi, dan semangat Parkour dalam pengembangan kekuatan individu dipraktekkan dalam lingkungan kerjasama.

Logo Parkour IndonesiaLogo Parkour IndonesiaSejak awal berdiri, PKID memperkenalkan dan mengembangkan Parkour di Indonesia dengan berpegang teguh pada akar filosofi dan nilai-nilai Parkour yang asli.

Oleh sebab itu, kami menegaskan bahwa anggota-anggota PKID dan komunitas-komunitas parkour di Indonesia yang tergabung dengan PKID tidak akan pernah ikut serta, mendukung, atau mempromosikan segala bentuk kompetisi pada Parkour atau hal-hal yang dapat membuat kesan bahwa kompetisi merupakan bagian dari Parkour.

Catatan untuk para Redaktur:

Foto: Dok. Parkour IndonesiaFoto: Dok. Parkour Indonesia

Sejarah pendek Parkour
Disiplin ini awalnya disebut L’art du Déplacement (seni bergerak), sekarang disebut juga dengan Parkour atau Freerunning, didirikan di Perancis pada tahun 1980 oleh sembilan pemuda yang menyebut diri mereka sebagai 'Yamakasi'. Yamakasi adalah kata dari bahasa Lingala, Congo yang berarti 'Manusia Kuat, Jiwa Kuat', dan merangkum tujuan dan inti sari asli dari disiplin ini, yaitu untuk menjadi individu yang kuat secara fisik, mental dan etis.

Para  pendiri  Yamakasi  ialah  Yann Hnautra,  Chau  Belle, David  Belle,  Laurent  Piemontesi,  Sebastain  Foucan, Guylain  N’Guba  Boyeke,  Charles Perriere, Malik Diouf dan Williams Belle.

Foto: Dok. Parkour IndonesiaFoto: Dok. Parkour IndonesiaSebutan  'Parkour'  pertama  kali  diperkenalkan  oleh  David  Belle  pada  tahun  1998. Parkour berasal dari kata bahasa  perancis 'Parcours' yang berarti 'rute' atau 'arah'.

Sebutan 'Freerunning' diciptakan oleh Guillaume  Pelletier, seorang wakil dari  kelompok praktisi  Perancis yang  terlibat  dalam  produksi  film dokumenter  untuk  Channel  4, di London, pada tahun 2003.  Istilah ini digunakan untuk mempermudah mengkomunikasikan disiplin baru yang menakjubkan ini kepada audiens berbahasa Inggris.

Apakah Parkour/Freerunning/L’art du Déplacement?

Parkour/Freerunning/L’art du Déplacement adalah disiplin fisik non-kompetitif yang melatih manusia untuk bergerak bebas dalam melewati dan melalui medan apapun dengan menggunakan kemampuan tubuh, terutama dengan berlari, melompat, memanjat dan gerakan dengan keempat tumpuan. Dalam prakteknya, Parkour berfokus pada pengembangan atribut fundamental yang diperlukan untuk  gerakan-gerakan  tersebut,  diantaranya:  kekuatan dan kebugaran fungsional, keseimbangan, kesadaran spasial, kelincahan, koordinasi, presisi, kontrol dan visi kreatif.

Foto: Dok. Parkour IndonesiaFoto: Dok. Parkour IndonesiaDisiplin  yang  akan mendorong  perbaikan  diri  pada  semua  tingkatan, menyadarkan  batas-batas fisik dan mental seseorang, dan sekaligus menawarkan  cara untuk mengatasinya. Disiplin ini adalah metode pelatihan  tubuh dan pikiran  seseorang untuk menjadi benar-benar fungsional, efektif, terbebaskan dan mampu beradaptasi dalam lingkungan dan situasi apapun.

Disiplin ini bertujuan untuk membangun kepercayaan diri, tekad, disiplin dan kemandirian diri, dan bertanggung jawab atas tindakan seseorang.  Ini mendorong seseorang untuk menjadi rendah hati, hormat terhadap orang  lain dan  lingkungannya, mengekspresikan diri, membangun semangat komunitas, dan pentingnya bermain, penemuan dan untuk berhati-hati di setiap saat.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh