Bertualang dengan sepeda mulai jadi tren di kalangan pesepeda di Indonesia. Kapan giliran Anda?
Di Grand Elti Krakatoa. (Foto: Dok. SXC2)Sebelumnya saya minta maaf, karena Om Yopie belum tersebut di laporan sebelumnya. Padahal beliaulah yang mengambil gambar kami sebelum berangkat. Mungkin karena kedatangannya tidak berjersi, sehingga membuatnya terlupakan, hehehe....
Balik lagi ke Kalianda, kami menginap semalam di sebuah hotel sederhana, Way Urang namanya. Dua kamar digunakan oleh masing-masing 3 dan 4 orang. Pengatur suhu ruangan di kamar tidak terlalu dingin. Makanya, kami langsung berkeringat walaupun barusan mandi. Hanya, menjelang subuh, baru terasa dingin di kaki. Om Didit terpaksa tarik selimut, padahal yang lain kegerahan. Dasar anak mami, hehehe.... Sebelumnya, di kapal juga ada anak mami. Ternyata, di SXC2 banyak anak mami, hehehe....
Foto: Dok. SXC2Pukul 06.30 WIB sarapan pagi di hotel. Terbayang, nasi goreng dengan telor mata sapi. Tapi apa daya, yang datang nasi uduk seukuran kobokan. Bisa menambah energi buat gowes tidak, ya? Tak apalah, tetap harus kita syukuri. Melihat sadel sepeda seperti melihat hantu. Takut. Tapi alhamdulillah, setelah dicoba duduk di sadel, rasanya biasa lagi. Akhirnya, selepas jam 8, perjalanan kami lanjutkan.
Tujuan kami selanjutnya adalah gowes ke kawasan Krakatoa Resort, di sebelah Utara Kota Kalianda, melalui trek Jalinsum kembali. Setiap orang yang kami tanya, "Ke mana tempat wisata di kota ini?"; semua menyebutkan tempat ini. Jadi penasaran. Selanjutnya, baru kami melewati Kota Kalianda yang memanjang sepanjang Jalinsum. Kami melewati Tugu Perjuangan Lampung Selatan yang tampak kurang terawat, tentunya untuk memperingati perjuangan rakyat Lampung Selatan terhadap penjajah.
Di kota ini juga, ternyata ada Pondok Modern Darussalam Gontor 9, salah satu cabang dari Pondok Modern Darussalam Gontor, yang tepatnya terletak di Dusun Kubupanglima, Desa Tajimalela, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Tidak ketinggalan, kami melewati rumah dinas Bupati Lampung Selatan yang indah, yang terletak di Jalinsum ini, seperti rumah-rumah dalam sinetron.
Foto: Dok. SXC2Perlu diketahui, Bupati Lampung Selatan, Ryco Menoza, adalah anak dari Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP. Yah, mudah-mudahan saja kolaborasi ayah-anak ini bisa memajukan daerahnya. Di sekitar pusat pemerintahan Lampung Selatan, kami juga melihat patung yang masih terbungkus, itu adalah patung Gubernur pertama Provinsi Lampung, Zainal Abidin Pagaralam. Tujuannya adalah, selain menambah keindahan kota, juga menjadi ikon baru bagi kota ini.
Foto: Dok. SXC2Baiklah, kita tinggalkan Kota Kalianda. Menuju utara, melintasi Jalinsum, tetap harus ekstra hati-hati. Selain truk-truk raksasa, mobil-mobil travel berjalan dengan kecepatan tinggi, seperti tidak mempunyai rem. Trek cenderung datar, karena kami berada beberapa ratus meter saja dari bibir pantai. Ketinggian pun hanya berkisar pada 20-55 m saja.
Untunglah, setelah 10 km gowes, kami tinggalkan Jalinsum dan memasuki Jalan Pantai Marina, yang lebih kecil tapi mulus, menuju ke lokasi. Banyak pantai yang menjadi tujuan wisata di sini, seperti Pantai 'eMBe', Pantai Bagus, Grand Elti Krakatoa Resort, dan lain-lain. Hanya sayang, seperti di Carita dan Anyer, sangat jarang kawasan pantai yang gratis alias tidak dipungut biaya. Semua dikenakan retribusi.
Karena nasi uduk yang kami makan sudah habis dicerna, padahal masih jam 9-an, kami harus cari warung untuk 'intel' alias indomie telor. Inilah yang membuat perut para goweser tidak juga kempes. Ya sudah, sekalian mengisi energi untuk balik ke Bakauheni, kami mampir di Pantai Bagus sebagai pitstop, untuk lesehan makan 'intel' dan teh manis. Jarak dari Way Urang sampai sini hanya sekitar 18 km. Cukup untuk pemanasan menjelang gowes selanjutnya.
Foto: Dok. SXC2Alhamdulillah, setelah semuanya beres, perjalanan etappe terakhir kami lanjutkan menuju Bakauheni. Trek yang akan kami lalui adalah murni menyusuri Jalinsum, alih-alih melalui Jalan Lingkar Rajabasa lagi. Pertimbangannya adalah jarak yang lebih pendek, walaupun dengan risiko gangguan dari kendaraan-kendaraan besar. Solusinya sama, kita tetap harus ekstra hati-hati dan berdoa, semoga diberi keselamatan sampai tujuan. Gowes dilakukan konvoi satu per satu, mengikuti garis pembatas bahu jalan.
Cuaca siang itu sangat terik. Apalagi selepas Kalianda, kami kembali memasuki jalur roller coaster. Naik-turun tiada henti. Meladeni tanjakan, diperlukan kesabaran ekstra dan tetap fokus. Di sekitar Gardu Induk PLN Kalianda, rasanya kepenatan sudah memuncak. Ngaso dululah di bawah pohon. Di sebelah selatan, tampak Gunung Rajabasa, yang sudah kami kitari sejak kemarin. Jalinsum ini terletak sejajar dengan Jalan Keliling Rajabasa, yang tidak menyusuri pantai. Di perempatan Simpang Palas, kami berhenti kembali, untuk mengisi perbekalan, terutama air minum, untuk mencegah dehidrasi.
Menjelang Dzuhur, kembali kami ber-'ishoma' di Krakatau Rest Area. Kali ini rehat agak lama, karena kondisi kami sangat penat, mengingat tanjakan yang dilewati dan panasnya cuaca. Bahkan, sampai ada yang ngorok, tidak sadar diperhatikan rombongan dua bus ABG putri, yang sholat di masjid yang sama, hehehe. Makan siang di restoran Padang yang kemarin. Om Didit yang menunggu jus pesanannya, sampai mau pulang, belum juga dilayani. Tidak ada kemajuan. Karena tidak ada pilihan lain, kami makan juga di situ.
Menjelang pukul 14, perjalanan kami lanjutkan, dan masih harus menghadapi tanjakan sepanjang 3 km yang fenomenal itu, di Kampung Panengahan! Bismillah, prinsip kami alon-alon asal kelakon. Selama tanjakan ini, yang terpikir hanya kapan berakhirnya. Benar-benar menguji kesabaran dan ketahanan fisik. Saya sih seperti biasa, jadi 'penutup jalan'. Bahkan, sempat berhenti sejenak karena sudah tidak tahan, di Kampung Hatta, ditemani Om Johan, yang setia menemani.
Sehabis ini, tidak ada lagi tanjakan yang curam. Yang ada tinggal turunan menuju pelabuhan Bakauheni. Turunan sejauh 2,5 km, dari ketinggian 160 m ke 21 m, cukup menghapus penderitaan selama tanjakan. Hati-hati saja dengan rem, karena cukup banyak hambatan di sepanjang jalan!
Akhirnya, menjelang pukul 15.30 WIB, kami tiba di gerbang pelabuhan Bakau Heni tanpa kurang suatu apa pun. Tidak ada kerusakan badan maupun sepeda. Kembali para petugas tiket bingung menetapkan tarif buat sepeda. Dan seperti di Pelabuhan Merak, sesuai masukan kami, harga tiket 1 motor digunakan untuk 3 sepeda.
Foto: Dok. SXC2Senangnya bisa naik kapal lagi. Kali ini Jatra III. Sepertinya 'tua banget' ini kapal. Langsung saja kami masuk ke ruang AC, merebahkan badan di kursi-kursi empuk, sambil ditemani iringan organ tunggal. Lumayan untuk penyegaran kembali. Teman-teman foto-fotoan di geladak, saya lebih memilih meluruskan punggung saja.
Kapal berlayar dengan lancar. Tapi, menjelang Pelabuhan Merak, kapal harus antri masuk ke dermaga, karena bentuk kapal yang hanya bisa sandar ke Dermaga I, katanya. Sementara, ombak tampaknya mulai ganas menggoyang-goyangkan kapal. Ngeri juga. Oh ya, dua hari kemudian, jalur penyeberangan Merak-Bakauheni ini sempat ditutup, karena kondisi ombak yang tidak memungkinkan.
Foto: Dok. SXC2Akhirnya, baru menjelang Maghrib kapal bisa sandar. Langsung saja kami ngebut ke-homebase-nya Om Opik, di Gerem. Sudah ingin cepat-cepat pulang. MR alias Maghrib Riding ke Gerem!
Demikianlah, kami berpisah menuju rumah masing-masing. Mudah-mudahan bisa bergabung lagi dalam ekspedisi selanjutnya.
Comments
baik om, dengan senang hati, kami tunggu om
bener om, pantainya puanjang dan buanyak, gowes jd ndak trasa panas
RSS feed for comments to this post