Berganti nama menjadi 'Setiaku', fans band ST 12 ini semakin fanatik dengan sang idola. Kini, mereka justru menjadi rakyat 'kerajaan' Charly sang vokalis...
Band ST 12 yang digawangi Ilham Febry atau biasa disapa Pepep (drum), Dedy Sudrajat atau Pepeng (gitar) dan Muhammad Charly van Houten atau biasa dipanggi Charly (vokalis) memang memiliki fans berat. Dahulu, fans mereka tergabung dalam ST Setia. Kini mereka menggunakan nama Setiaku yang penuh dengan istilah kerajaan.
Ada Mahapatih, Sultan dan Kepala Wilayah. Di bawah mereka terdapat rakyat yang disebut sebagai Setiaku. “Penggunaan nama sejak Februari kemarin,” imbuh Mahapatih Setiaku, Ahmed Sinar kepada TNOL, Jumat (8/7).
Mahapatih Setiaku Ahmed Sinar/ DokumenPergantian nama mereka lakukan ketika jambore berlangsung di Cirebon. Mulai dari sanalah resmi nama Setiaku dipakai dan struktur di Setiaku dalam istilah kerajaan diberlakukan. Menurut Ahmed, mereka menggunakan istilah kerajaan lantaran ST 12 berada dibawah Pangeran Cinta Management.
Poster jamboreBiar serasi dan senapas dengan nama management mereka memakai nama Mahapatih, Sultan dan Kepala Wilayah.
Mahapatih merupakan struktur tertinggi di Setiaku, lalu Sultan setingkat pengurus provinsi. Kemudian Kepala Wilayah sebagai pengurus di daerah-daerah. “Setelah itu rakyat, yang disebut Setiaku,” jelas Ahmed.
Setiaku...Nah, dalam waktu dekat Setiaku akan menyelenggarakan Jambore Nasional Indonesia. Jambore bertajuk Setiaku Menjalin Persahabatan Lintas Pulau, Indonesia Satu Hati. Jambore berlangsung selama tiga hari di Bandung usai lebaran nanti.
Sebenarnya, kata Ahmed, jambore akan dilakukan sebelum Idul Fitri. Berhubung waktu tidak mencukupi membuat acara diundur hingga Lebaran.
Jambore akan diikuti oleh para Sultan, mereka akan mendapat pembekalan dari para pengurus mengenai IT, organisasi, mentalitas serta kebersamaan. Jambore sekaligus merayakan ulangtahun Setiaku yang jatuh setiap 6 Juni.
Setiaku bersama ST 12“Tiap daerah beda-beda ulangtahunnya. Untuk pusat berdiri 6 Juni,” ucap Ahmed.
Perayaan ultah berjalan secara sederhana dengan hanya kumpul-kumpul. Mereka baru akan membuat acara meriah saat Jambore Nasional Indonesia. Menurut Ahmed, peserta jambore sangat banyak. Namun pengurus membatasi sebanyak 200 orang dengan biaya sekitar Rp 100 ribu.
Konsep acara, tak jauh berbeda dengan acara perkemahan. “Di Cirebon, kami benar-benar melakukan perkemahan, Tapi untuk acara ke depan, tidak menutup kemungkinan kita menyelanggarakan di villa, agar lebih efisien dan efektif,” tuntas Ahmed. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post