Komunitas Bisnis

Penjualan Sepeda Bekas Terus Meningkat

Penilaian Pembaca: / 6
JelekBagus 

Fitryan G.Dennis/Novriyadi

Rabu, 03 November 2010

Foto : NovriyadiFoto : NovriyadiTREN bersepeda ke kantor, belakangan makin marak terutama di kota besar seperti Jakarta. Para komunitas sepeda pun semakin menjamur di mana-mana. Nah, kalau sudah begitu, para penjual sepeda pun ikut kecipratan rejeki. Bahkan, bukan saja penjual sepeda baru, mereka yang menjual sepeda bekas pun merasakan rejekinya.

Lihat saja Andri (39), salah satu penjual sepeda bekas di Jalan Pasar Rumput, Jakarta. Siang itu (31/10)  terlihat begitu sibuk melayani calon pembelinya. “Dua ratus lima puluh ribu sudah murah kok pak. Ini sepeda bagus loh,” Ujar Andri kepada calon pembelinya.

Foto : NovriyadiFoto : NovriyadiMenurut Andri, semenjak naik sepeda ke kantor menjadi tren, banyak pembeli melirik barang dagangannya. Tak pelak lagi, omzet penjualan bertambah, bahkan mencapai 50 persen, “ Apalagi, semenjak diberlakukannya peraturan car free day, pembeli makin banyak yang datang kemari,” kata Andri.

Sepeda bekas di sini dihargai mulai dari Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah, semua itu tergantung dari kondisi sepeda dan merek dari sepeda tersebut, “Yang banyak dicari oleh masyarakat saat ini adalah sepeda lipat,” jelas Andri.

Foto : NovriyadiFoto : NovriyadiAndri tidaklah sendiri, di Pasar Rumput, setidaknya ada puluhan pedagang sepeda bekas yang sama-sama menggantungkan nasibnya dari hasil penjualan sepeda bekas. Uniknya, mereka menggelar dagangannya tidak di dalam toko melainkan di elataran parkir di depan ruko di kawasan itu. Tidak hanya itu, bahkan ada juga pedagang yang berjualan di atas trotoar “Kita sudah minta ijin kok kepada pengelola gedung” kata Andri.

Menurut Andri, ia di sini hanya berjualan 2 hari yakni di Sabtu dan Minggu. Karena hari  biasa lahan tempatnya berjualan digunakan sebagai tempat parkir kendaraan para karyawan gedung.

Foto : NovriyadiFoto : NovriyadiAndri mengatakan, para penjual sepeda di tempat ini awalnya penjual sepeda di tepi kali Ciliwung, depan pasar Rumput. Namun pada tahun 1998, mereka digusur dan akhirnya membuka lapak-lapak liar di sekitar pasar rumput, “Kita sih pengennya dibuatkan tempat khusus untuk berjualan sepeda biar kita lebih leluasa berjualannya,” kata Andri.

Kendati penjual sepeda di tempat ini banyak, namun tidak membuat mereka bersaing atau berebut pelanggan. Bahkan, Yoga (27), pedagang sepeda yang lain mengatakan, sering kali para pedagang menerapkan sistem bagi hasil. Para pedagang itu sesekali patungan membeli sepeda bekas. Keuntungan yang didapat dari hasil penjualan dibagi rata. “Nggak hanya itu, kita juga sering menjual sepeda ke pedagang yang lain,” kata Yoga.

Foto : NovriyadiFoto : NovriyadiLelaki asli Jakarta itu mengatakan, sepeda bekas yang dimiliki, umumnya berasal dari orang yang mendatanginya dan menjual sepeda bekasnya. Lalu sepeda-sepeda bekas itu “disulap” dan “didandani”. Tujuannya bukan agar tampak lebih cantik secara tapi juga agar lebih kuat.

Meski harganya murah, menurutnya sepeda-sepeda itu dapat ditandingkan dengan sepeda baru keluaran pabrik, karena suku cadang dan aksesoris yang dipasangkan ramah lingkungan. Selain itu berkualitas tinggi dan dipasangkan secara teliti oleh teknisi dan pemilik toko atau bengkel.

“Kalau barang baru dari pabrik, belum tentu bagus, misalnya bautnya belum tentu kenceng. Kalo dari sini, udah pasti bagus kualitasnya,” Ungkap Yoga.

Menurut Yoga pula, orang yang mencari sepeda di tempat ini sangat bervariatif. Mulai dari anak-anak, pelajar hingga para anggota komunitas sepeda. Tidak hanya itu mereka pun tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga ada yang datang dari Bogor, Bandung dan Tangerang .

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Comments  

 
#2 sultan 2011-04-08 09:49
bos sy minta alamatnya,soaln ya sy mau beli sepeda buat anak-anak
Quote
 
 
#1 sultan 2011-04-08 09:47
bos minta alamatnya soalnya sy mau beli sepeda anak-anak
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh