Ada banyak cara untuk membangun usaha, salah satunya adalah dengan bersindikasi....
Sindikat Kuliner/ IstimewaKuliner adalah salah satu subjek pembicaraan yang selalu hangat dan menarik di kalangan mana pun. Bahkan bisa dikatakan, saat ini bisnis kuliner sedangmenjamur di mana-mana, mengikuti permintaan pasar yang sangat antusias dan tak ada habis-habisnya. Ada yang menyajikan menu makanan tradisional daerah, ada pula yang memilih Chinese food, European food, bahkan tak sedikit juga yang hanya menyajikan aneka snack dan jajanan ringan, atau malah minuman dan segala macam es.
Menilik dari keuntungan yang bisa dihasilkan – yang minimal 50%, tak mengherankan kalau saat ini banyak masyarakat kita yang berbondong-bondong mencoba mengadu nasib baik di ranah usaha icip-icip ini. Tidak cukup hanya sampai disitu, mereka pun kini mencoba untuk membentuk sebuah komunitas pengusaha kuliner, yang tujuannya jelas untuk saling support dan bertolong-tolongan diantara sesama anggota.
Foto: Novriyadi/TNOLSalah satu komunitas itu adalah Sindikat Kuliner – nama yang cukup 'unik' untuk sebuah komunitas pengelola makanan. Komunitas yang beranggotakan para pengusaha kuliner di Bandung ini, berdiri pada September 2010, dan saat ini telah memiliki 30 anggota yang memiliki jenis usaha yang berbeda-beda, mulai dari bawal bakar, mie ayam, burger, risoles, dan lain-lain.
Pada awalnya, komunitas ini merupakan sebuah group di BlackBerry. Karena merasa cocok dan dinilai bermanfaat, maka jumlah anggota mereka pun kian hari kian banyak. Dan bahkan, saat ini, komunitas mereka telah menjadi salah satu pusat informasi bagi mereka yang mencari makanan enak di Bandung. Melalui account mereka di situs jejaring sosial Twitter, banyak masyarakat yang bertanya dimana mencari makanan yang enak dan lezat.
“Saat ini sudah 3.000 orang yang mem-follow kami di Twitter,” ungkap Ray Roemano.
Menurut Ray, tujuan dari dibentuknya komunitas ini adalah sebagai wadah berkomunikasi diantara pengusaha kuliner – yang tergabung dalam komunitas ini, untuk saling membantu dan berbagi pengalaman mengenai dunia kuliner.
Foto: Novriyadi/TNOL
“Saat ini, banyak sekali ragam kuliner yang tersebar di masyarakat, untuk itu kita harus pintar-pintar menyiasati market-nya. Nah, di komunitas inilah kita bisa saling berbagi dan belajar untuk menjual produk kita,” kata Ray.
Seminggu sekali komunitas ini secara aktif mengadakan acara gathering. Nah, di saat acara kumpul-kumpul itulah mereka biasanya saling berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia kuliner, terutama masalah bagaimana menjadi entrepreneur yang handal.
“Rencananya, nanti kita akan mengadakan pelatihan mengenai tatacara kredit yang baik, serta membuat manajemen pembukuan,” jelas Ray.
Kendati diisi oleh sesama pengusaha, namun Ray mengatakan bahwa di dalam komunitas mereka tidak berusaha untuk saling menjatuhkan. Justru di dalam komunitas ini, mereka sangat terbuka satu sama lain, dan juga mencoba untuk saling memberikan masukan jikalau ada salah satu anggota mereka yang membutuhkan.
Tidak hanya itu, mereka pun tidak sungkan untuk membocorkan resep rahasia makanan mereka. “Pokoknya, di komunitas ini tidak ada yang ditutup-tutupi, semuanya saling berbagi,” kata Ray menyakinkan.
Risoles melepuh. (Foto: Dok. Risoles Melepuh)
Ray sendiri mengaku belum lama bergabung dengan Sindikat Kuliner ini. Namun kendati demikian, dirinya sudah mendapatkan banyak manfaat dari komunitas ini. Di sini, dirinya bisa berguru dan belajar kepada para pengusaha kuliner yang sudah berpengalaman.
Saat ini, Ray menjadi pengusaha risoles yang cukup dikenal di kota Bandung. Usahanya itu diberi nama “Risoles Melepuh”. Berkat masukan-masukan dari teman-teman, dan tentu saja juga dibarengi dengan usaha keras, kini Ray mampu memproduksi 2.000 buah risoles dalam sebulannya.
“Alhamdulillah, saat ini saya juga sudah bisa mempekerjakan karyawan sebanyak 10 orang,” kata Ray.
Berminat untuk bergabung? Silakan follow @sindikatkuliner, dan selanjutnya terserah Anda.
Comments
RSS feed for comments to this post