Belajar dan belajar menjadi tujuan mereka di Mesir. Dan, kerena itu KM-NTB dibentuk sebagai wadah komunitas mahasiswa Indonesia di sana untuk membangun komunikasi dan silaturahmi...
Jihan Amir, Khoirotul Islamiyah, Arsyada Umam, mahasiswa Mesir asal Bali/DokMESIR yang menjadi salah satu peradaban dunia memang kerap menjadi incaran kaum muda untuk menuntut ilmu. Terlebih mengenai pendidikan agama, negara ini sangat kuat. Alumni mereka pun kerap menduduki posisi penting di negara masing-masing, sehingga banyak orang dari berbagai belahan dunia menjatuhkan pilihan belajar ke tempat dimana sungai Nil ini mengalir. Salah satunya, dari Indonesia.
Bahkan, mahasiswa-mahasiswi Indonesia dari pelosok Nusantara mudah ditemui. Antara lain mahasiswa-mahasiswi dari Nusa Tengara Timur, Nusa Tengara Barat dan Bali. Berhubung ketiga daerah sangat berdekatan membuat mahasiswa-mahasiswi dari daerah tersebut membuat sebuah komunitas bernama Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara dan Bali (KM-NTB).
“KM-NTB Mesir adalah organisasi kekeluargaan. Ini wadah silaturahmi dan perekat persaudaraan para mahasiswa dan mahasiswi dari Nusa Tenggara dan Bali melalui kegiatan di bidang sosio kultural dan akademik,” imbuh Khoirotul Islamiyah atau biasa disapa Iis kepada TNOL di Kairo.
Iis di DubaiDengan terbentuknya komunitas ini, orang-orang yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali tak perlu khawatir lagi untuk memilih belajar di Mesir. Karena, ada sebuah komunitas di sana yang memudahkan mereka untuk beradaptasi serta menjalin silaturahmi antar sesama.
Bendahara, Ketua dan Sekretaris KM-NTB Di samping itu, tak menutup mereka untuk bergaul dengan mahasiswa-mahasiswi dari daerah maupun negara lain. Sebab, mereka sudah memiliki jaringan yang bisa membantu. Menurut Iis, KM-NTB didirikan di Kairo pada tanggal 8 Desember 1987 M atau bertepatan dengan tanggal 6 Rabi’ul Akhir 1407 H.
Tujuan komunitas ini didirikan, kata perempuan kelahiran Tabanan, Bali 9 Desember 1989 ini, lantaran Islam sebagai agama universal selalu mengajak umatnya mengatur diri secara teratur baik individu maupun kolektif. Semua itu, demi kemaslahatan dan ketentraman umat manusia di dunia dan di akhirat. Nah, berdasarkan hal tersebut mereka membentuk komunitas KM-NTB.
Pintu Sekretariat KM-NTBAwal berdiri, komunitas ini mempunyai 25 orang anggota. Seiring perkembangan waktu, membuat anggotanya semakin bertambah. Kini, anggota mereka mencapai 100 orang. Penambahan anggota berkat meningkatnya perhatian masyarakat Nusa Tenggara dan Bali terhadap urgensi masyarakat yang berpendidikan dan bermoral.
Saat ini ketua KM-NTB dipegang Syarfi Iqbal, sekretaris Lalu Reza Alvian dan bendahara Muhammad Zubair Kochi. Sebagai komunitas, mereka mempunyai sekretariat tetap di Saqor Quraisy Hayyul A'syir di Nasr City.
Acara kekeluargaan di KM-NTBBagi yang mau bergabung, komunitas ini tidak menerapkan peraturan sulit. Mereka hanya mensyaratkan anggota berasal dari daerah di sekitar Nusa Tenggara dan Bali. Mereka juga menetapkan kepada setiap anggota membayar iuran sebesar 3 le Mesir.
Nantinya, iuran dipakai untuk menjalankan roda organisasi. Uniknya, di komunitas ini, walau anggota sudah lulus kuliah tak membuat anggota bersangkutan keluar dari komunitas.
Justru, mereka tetap menjadi bagian dari KM-NTB. Asal mereka tetap berada di Kairo. “Sampai yang sudah berumah tangga pun tetap menjadi anggota. Keanggotaan KM-NTB tidak ada masa berlaku, yang penting masih tinggal di Kairo,” imbuh mahasiswi tingkat dua Al Azhar jurusan Syariah Islami ini mantap. (Subhan)