Alumni SMAN Tamora angkatan 92 foto bareng/ dok‘MENGHILANG’ puluhan tahun dan tak diketahui dimana keberadaannya tentu mengundang kerinduan yang mendalam. Namun, di suatu keadaan Facebook yang kini tengah digandrungi kembali mempersatukan mereka-mereka yang terbilang menghilang tersebut.
Ilustrasi di atas memang terkesan dramatis, tapi bukan cerita sinetron yang mengharu biru dan penuh cinta loh! Melainkan, niat tulus sekumpulan anak muda yang dulunya berseragam putih biru alias SMA yang kini dipersatukan kembali. Tentu, wajah mereka pun telah berubah. Tidak seperti dahulu yang masih terlihat ‘manis-manis’ tak ubahnya remaja yang sedang bertumbuh. Penuh energi dan semangat yang menggelora.
Persahabatan Sejati yang Bergandengan Tangan.. Kini, mereka telah didampingi suami dan istri masing-masing. Bahkan, disamping mereka pun ‘hadir’ wajah-wajah imut anak-anak yang masih sangat lugu. Itulah hasil buah cinta mereka yang bersemi di saat masa-masa SMA. Masa yang penuh emosi dan terkadang memberontak dalam mencari identitas diri. Namun, kini, mereka telah dewasa dan semakin dewasa seiring berjalannya sang waktu.
Diana sang inspirator reuni..Dan ketika waktu pula mempertemukan semuanya, rasa itupun kembali bercampuraduk tak karuan. Tentu rasa senang dan bahagia yang mendominasi, seakan saat penuh kecerian sewaktu SMA itu terulang kembali. Dan 'bermain-main' dalam benak sehingga mengundang senyum yang tak terbatas. Ada juga pertanyaan dan perasaan takjub, “kok bisa ya, dipertemukan kembali. Amazing!”
Berjoget gembira...“Semua berawal dari FB. Pertama kali aku ketemu dengan Boby Indra di FB, itu sekitar Februari atau Maret 2010. Sebelumnya aku sering search kawan-kawan SMA di FB, tapi nggak ada yang nemu.
“Jadi waktu ketemu Boby itu, senangnya bukan main. Dari dia aku dapat akun-nya Safrizal. Trus beberapa yang lain lagi. Selanjutnya, kita buat group di FB khusus untuk angkatan 92. Darisitulah ada ide untuk membuat reuni ini,” cerita Diana Silaban sang inspirator Reuni SMA Negeri Tamora Jalan Batang Kuis Pasar VIII No.155, Tanjung Morawa Deli Serdang, Sumatera Utara kepada TNOL dalam bincang-bincang lewat yahoo massenger yang cukup seru.
Tak hentinya, Diana yang kini menetap di Semarang dan berkerja pada salah satu perusahaan jasa pengiriman ini, menyatakan kegembiraannya bisa berkumpul lagi bersama teman-temannya sewaktu di sekolah dulu. Saking gembiranya, Diana juga menceritakan untuk dapat memuluskan niatnya tersebut bukanlah pekerjaan mudah.
Semua menyatu tak ada jarak...Terlebih komunikasi yang dibangun lebih kepada kegiatan dunia maya dalam bahasa Facebook yang terbilang tidak sepenuhnya efektif. Sehingga, ketika acara reuni yang bertajuk ‘Persahabatan Sejati yang Bergandengan Tangan’ ini terlaksana pada 30 Desember 2010 lalu, perempuan yang masih asyik dengan kesendiriannya inipun senangnya ‘setengah mati.’
“Buat aku pastinya senang banget. Tapi, sebenarnya greget ketemu kawan-kawan lama bukan pas reuni nya. Tapi pas dapat nomor handphone kawan-kawan dan ketika akan telepon mereka. Karena sebagai pelaksana, kita kan memang bertugas nyari kawan-kawan, jadi komunikasi sudah terjalin sebelum reuni. Dan waktu reuni, aku masih ngurus ini itu, masih repot, nggak terlalu bisa ngobrol.
Lucu-lucuan penuh keakraban...“Tapi ada beberapa hal yang bikin aku terharu, waktu Silvia (Vivi) dan Fidwi harus ke Batang Kuis dan kena hujan, karena mencari kawan-kawan kita waktu spanduk udah nyampe ke Tamora dan dibawa ke rapat tanggal 4 Desember 2010, kawan-kawan senang banget.”
Di situ, kata Diana, semangat kawan-kawan timbul, bahwa nih reuni memang jadi. Dan, setelah melihat spanduk itu mereka benar-benar yakin. “Kalo aku sih dari awal udah pede amat tentang reuni ini.... he..he. Trus saking senangnya lihat spanduk itu beberapa orang bilang, “nanti klo spanduknya udah gak dipake, buat aku ya" (ucap Diana coba menirukan komentar teman-temannya). Itu karena spanduknya bagus kali ya,” beber Diana panjang lebar dan penuh semangat.
Halah, ini berjoget apa menortor! hajar...Selain itu, tambah Diana, yang membuat terkesan adalah ketika dirinya mengikuti rapat 4 Desember 2010, kawannya Lian yang keturunan Tionghua menanyakan apakah teman-teman yang juga ‘bermata sipit’ seperti dirinya sudah diundang? Kebetulan, ketika itu semuanya belum menemukan kawan-kawan kita itu. Terus Lian bilang, “ya udah, aku yang bertanggung jawab kasih undangan ke mereka" di sini, rasa persatuan itu sudah muncul.
“Jadi, buat aku pribadi, rasa capek dan lelah selama ini terbayar. Terlebih dengan melihat foto-foto, dimana kawan- kawan semuanya berjoget nggak pake jaim, senyum dan tertawa lepas. Tak ada jarak diantara semuanya meski berbeda profesi dan latar belakang,” ucap Diana seraya menargetkan setelah reuni usai ikatan alumni angkatan 92 pun segera dibentuk.