Koskas Jakarta Selatan turut meramaikan Gelar Budaya Betawi di Setu Babakan....
Foto: Dok. Koskas Jakarta SelatanEnaknya memiliki alat transportasi adalah bisa membuat kita menjadi selalu siap buat melakukan perjalanan-perjalanan, baik dalam rangka dinas maupun sekadar berekreasi. Dan sebagaimana kita ketahui, alat transportasi yang umum dimiliki secara personal adalah pesawat jet, kapal pesiar, mobil, sepeda motor, dan juga sepeda. Nah, karena Koskas Jakarta Selatan (KJS) adalah komunitas pengguna sepeda, maka alat transportasi yang suka mereka gunakan adalah sepeda. Dan nyatanya, alat transportasi “bertenaga nasi” itu telah cukup membuat mereka bisa melakukan perjalanan kesana-kemari dengan tak kalah dinamisnya.
Foto: Dok. Koskas Jakarta Selatan
Nah, akhir pekan kemarin, karena mengetahui di Setu Babakan diadakan acara Gelar Budaya Betawi, maka para goweser KJS segera bersepakat untuk hadir ke lokasi acara bersama-sama. Maka, pada hari H, kegiatan dimulai dengan berkumpul di gerbang utama Kebun Binatang Ragunan. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.00. Setelah menunggu 30 menit, sampai semua peserta hadir, pada pukul 07.30, ya lewat sedikitlah, rombongan goweser pun bertolak.
Rute yang dilalui para goweser ini adalah melalui samping Gelanggang Olahraga Ragunan, teruuuuusssss, sampai tembus ke Jalan Kebagusan, terus lagi – motong-motong jalan (jalan tikus, jalan orang, jalan beruang), melalui jalur sutet segala (itu tuh, menara-menara listrik – saluran udara tegangan tinggi), pokok ya begitulah perjalanannya. Seru. Yang jadi penunjuk jalan (guide, kata orang bule) adalah Bang Bayu dengan Bang Arull.
| Foto-foto: Dok. Koskas Jakarta Selatan | ||
Pukul 08.00, ya pastinya agak-agak lewat sedikitlah, akhirnya rombongan goweser yang berbahagia itu tiba di Setu Babakan. Happy, dong, berhasil sampai ditujuan dengan selamat, damai, dan sentosa. Tapi ya jadinya lapar jugalah. Cuma, sebagai kelompok yang eksis, maka narsis itu perlu juga. Karena itu, sesudah memarkirkan sepeda, acara fotoria pun segera dilaksanakan dengan penuh gaya.
Foto-foto: Dok. Koskas Jakarta Selatan |
||
Tapi, foto-fotoan kan tidak membuat perut jadi kenyang. Maka, sesudah puas potret sana-potret sini, action sana-action sini, cari makan pun jadi kewajiban berikutnya. Lapar, gila! Sampai perut berkeroncongan dengan lagu-lagu gambang kromong. Cuma, masalah lalu timbul. Pas sampai di tempat makan, mereka bingung. Pasalnya, di sana banyak pilihan menu makanan yang khas Betawi – kan lagi acara Gelar Budaya Betawi – yang bikin mereka ingin mencicipi semuanya, tapi... siapa yang bayar? Selain itu juga... apa perutnya bisa muat?
Eh, di situ juga ada jajanan yang sudah langka. Umpamanya Tahu Siksa – wah, sadis betul, tahu kok pakai disiksa segala; terus ada juga Gulali – jadi ingat waktu masih SD; dan kesukaan para cewek, apalagi yang lagi nyidam, Rujak Bebek! Nah, yang istimewa adalah Es Potong – hmm... kapan ya terakhir kita menikmati jajanan unik ini? Kalo otak-otak sih masih agak banyak yang keliling pakai sepeda – harusnya mereka kumpul jualannya di gedung DPR/MPR kali, ya? Supaya mereka yang katanya mewakili kita itu jadi punya otak-otak....
Sambil makan, mata memandang ke arah setu. Di sana terlihat banyak sepeda air berbentuk bebek-bebekan, dan di darat ada kereta-keretaan buat para bocah, mandi bola di dalam perahu karet, dan... nah, ini kreatif nih, membuat tembikar dari tanah liat. Hmmm... bagus, bagus. Selesai makan, absen diisi. Wah, sayang, Bang Bayu sudah harus pulang begitu rombongan yang dipandunya sampai di lokasi, jadi, Si Abang tak bisa ikut isi absensi. Tapi tidak mengapa. Jasanya akan tetap dikenang.
Foto: Dok. Koskas Jakarta SelatanAcara selanjutnya, kongkow-kongkow di pinggir arena Gelar Tari Betawi, menyaksikan dan mengamati para bocah yang sedang berlenggang-lenggok, membawakan tarian tradisional Betawi. Mengincar-incar siapa tahu ada yang sangat berbakat, supaya bisa dikirim keluar negeri – bukan buat jadi TKI, tapi buat jogetan di depan orang asing – supaya pada melek budaya Betawi. Dan pastinya, kongkow-kongkow kurang afdol dong kalau tanpa camilan. Nah, supaya komplit, maka kerak telor digelar – dan lantas diganyang tuntas-tas. Mantap!
Pukul 11, ya kira-kira segitulah, pas matahari lagi bengis-bengisnya mencorong di atas kepala, rombongan sepakat untuk menyudahi kunjungannya ke Gelar Budaya Betawi di Setu Babakan ini. tapi, biasalah, sebelum berangkat pulang, berfoto bersama dulu di depan gerbang Pintu Masuk Bang Pitung. Habis itu, gowes lagi menuju rumah masing-masing.
| Foto-foto: Dok. Koskas Jakarta Selatan | ||
Gila, asyik betul perjalanan kali ini. Makanya, yang tak ikut rugiiiiiiiii....
Comments
Salam dari tetangga di Depok
encang encing nyak babe..
nyook kita ke setu babakan..
ada lenong
ada beksi
ada dodol
ada... banyak daaahh...
kalo bukan kita yg merawat budaya, siapa lagi?
RSS feed for comments to this post