Mewarnai kain dengan bahan-bahan alami menjadi kegiatan LOH yang diikuti secara antusias oleh peserta. Kegiatan ini semata untuk mengenalkan budaya Indonesia yang beragam...
Peserta menjemur kain setelah mewarnai/ Foto-foto: Nopi TNOL
SELAIN menggunakan pewarna yang terbuat dari bahan kimia, warna juga bisa dihasilkan melalui berbagai macam tumbuhan. Warna yang berasal dari tanaman ini dikenal sebagai pewarna alami.
Nah, Minggu 10 April kemarin kemarin komunitas pecinta seni, budaya dan sejarah Love Our Herita (LOH) memperkenalkannya kepada khalayak melalui event Natural Tie-Dying Workshop with Love Our Heritage di Museum Tekstil.
“Kali ini, kita khusus memperdalam pewarnaan alam dengan teknik ikat celup,” imbuh Koordinator LOH Amelia Devina atau biasa disapa Amel kepada TNOL. Di workshop, para peserta mendapat menjelasan bagaimana memperoleh warna alam, lalu tanaman apa saya yang bisa menghasilkan warna alam.
Anggota LOH Adjie Hadipriawan yang menjadi model menunjukkan kain motif kotak-kotakMereka juga diperlihatkan tanaman tersebut, tak ketinggalan mereka terjun langsung bagaimana menggunakan warna alam pada kain. Semua pelatihan diberikan oleh orang yang ahli dibidangnya, Benny Gratha. Benny merupakan salah satu volunteer Museum Tekstil dan pengajar pewarnaan alam.
Berpose dulu ah...!Menurut Benny, zat warna alam berasal dari kayu, kulit kayu, akar, kulit akar, biji, kulit biji, daun maupun bunga. Warna yang dihasilkan dari bahan tersebut, cenderung lembut, bersifat unik serta eksklusif lantaran karakteristik tumbuhan dan faktor lingkungan.
Bahan tekstil yang bisa menggunakan pewarnaan alam adalah bahan dari serat, semisal sutera, wol dan kapas (katun). Bahan dari sutera, umumnya memiliki afinitas (daya tarik) paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.
Amel, koordinator LOH (kanan) membilas hasil karyanyaBeberapa tanaman yang bisa menghasilkan warna alam, antara lain kulit Kayu Tinggi (coklat tua), kayu Mahoni (coklat), buah Trengguli (coklat beige), kulit kayu Mengkudu (merah), kayu Secang (merah) dan kayu Tegeran (kuning).
Agar peserta mengetahui bentuk tanaman tersebut, Benny menunjukkan langsung. Benny menuturkan, pewarnaan alam dilakukan dengan tiga tahapan. Mulai dari Mordant, Ekstraksi dan pewarnaan serta Fiksasi. Mordant dilakukan agar warna menempel dengan baik.
Caranya, merendam bahan ke dalam garam logam seperti aluminium (tawas). Zat Mordant berfungsi membentuk jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga afinitas (daya tarik) zat warna meningkat terhadap serat. Disamping itu, berguna menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik.
Bahan-bahan alam yang dijadikan warna alamSebelum proses Mordant, kain terlebih dahulu dicuci dan direndam dalam air sabun selama 12 jam. Selanjutnya dibilas dan dikeringkan. Ekstraksi dan pewarnaan adalah proses pengambilan pigmen zat warna alam yang terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji maupun akar. Dilakukan dengan cara merebus bahan tersebut bersama pelarut air. Fiksasi merupakan proses memperkuat warna agar tidak luntur.
Fiksasi dilakukan dengan salah satu bahan seperti tawas, kapur atau tunjung. Fiksasi dilakukan selama 10 menit, setelah itu dibilas dengan air bersih dan dikeringkan.
Dalam kesempatan itu, Benny juga menerangkan pewarnaan dengan Indigo. Pewarnaan Indigo berasal dari pasta Indigo yang dicampur gula merah. Larutan ini berwana hijau, namun kain yang menggunakan Indigo akan menghasilkan warna biru.
Sebelum kain dicelupkan ke warna Indigo, kain terlebih dahulu dibasahi dengan larutan TRO. Usai menjelaskan, Benny memperlihatkan kain-kain yang menggunakan warna alam.
Menjadi mode
Peserta membuat motifUntuk mendukung acara, sejumlah anggota LOH didaulat menjadi model. Mereka pun, berlenggak-lenggok di hadapan peserta. Kemudian, Benny menerangkan kepada peserta bagaimana cara membuat motif.
Rahadian dan hasil karyanyaPembuatan motif dapat memakai kelereng yang diikat karet. Kelereng menghasilkan motif lingkaran. Tak hanya itu, Benny membeberkan pula bagaimana mendapatkan motif kotak-kotak. Motif tersebut, bisa diperoleh dengan melipat-lipat kain sehingga berbentuk kotak. Setelah semua dipaparkan, langkah berikutnya peserta langsung mempraktekkannya.
Salah satu peserta Rahadian Ananto mengatakan, tidak terlalu sulit melakukan hal itu. Ia pun senang bisa mempraktekkan langsung. Rahadian sendiri datang bersama ibunya. Dengan mengikuti kegiatan itu, ia merasa senang lantaran bisa mengetahui bagaimana mewarnai kain menggunakan warna alam sehingga pengetahuannya bertambah tentang budaya, seni dan sejarah Indonesia.
Peserta serius mendengarkan penjelasan mengenai warna alam..“Saya menggunakan kelereng untuk mendapatkan motif lingkaran. Warna yang saya pilih kuning, sama dengan warna yang dipakai Ibu,” ucap bocah yang duduk di kelas lima sekolah dasar ini. Sambil menunggu kain kering, peserta diajak keliling Galeri Batik.
Ke depannya, LOH berencana menggelar kegiatan kembali. “Setelah Membatik Asyik dan Pewarnaan Alam ini, kita akan menggelar agenda yang berkaiatan dengan seni, budaya dan sejarah lagi,” imbuh penanggung jawab acara Putu Dinar. (Subhan)
Comments
RSS feed for comments to this post