Pintu Masuk TPU Petamburan (Foto : Nopi/TNOL)DIDORONG dari kepedulian terhadap warisan budaya membuat sekumpulan orang membuat sebuah komunitas bernama Love Our Heritage. Komunitas ini, terbentuk lantaran mereka kerap menyambangi bangunan-bangunan tua bersejarah di Jakarta. Saat itulah mereka singgah ke TPU Petamburan.
Di sana terdapat Musoleum orang terkaya di Batavia OG Khouw. Sayang Musoleum kotor, tergenang air dan banyak sampah. Padahal bangunan ini
sangat megah, indah dan sejuk karena dikelilingi pohon-pohon rindang. Satu lagi, bangunan Musoleum terbuat dari marmer yang langsung didatangkan dari Itali.
"
Ferry Kuntoro membersihkan lantaiKami mengunjungi Musoleum akhir November 2009 lalu. Keadaannya tidak terawat sehingga kami memutuskan membersihkan Musoleum," imbuh
Kordinator Love Our Heritage Amelia Devina kepada TNOL di TPU Petamburan, belum lama ini. Berdasarkan itu, Amelia bersama kawan-kawan yang satu minat serta menyukai suatu tindakan nyata mewujudkan idenya.
Saat istirahat (Foto : Nopi/TNOL)Kala itu, komunitas mereka belum memiliki nama resmi. Mereka hanya menyebut dirinya sebagai kelompok peduli bangunan tua. Lantaran ingin
membersihkan Musoleum serta mencari data-data mengenai Musoluem, mereka memerlukan sebuah nama. Mereka mencari-cari nama yang pas.
Berhubung di poster terdapat tulisan Love Our Heritage, mereka memilih nama tersebut.
Soal pemilihan nama yang menggunakan bahasa asing, bukanlah suatu bentuk gaya-gayaan. Melainkan mereka ingin lebih universal . "Kalau
Love Our Heritage diartikan ke Indonesia, artinya hanya warisan budaya. Tapi kalau dengan bahasa Inggris, Heritage luas sekali dan lebih universal.
Siapa tahu dengan nama itu, kita bisa mendapat donasi dari pihak asing," imbuh perempuan yang kerap menulis Prosa ini.
Foto :Nopi/TNOLNah, mereka mulai mengumpulkan donasi dari berbagai pihak. Dari donasi-donasi mereka melakukan penyelamatan Musoleum OG. Khouw.Kegiatan itu, memiliki sub-sub lain seperti Friends OG Khouw, sebuah kegiatan yang mengajak kepedulian masyarakat dan teman-teman terhadap Musoleum. Kemudian Bakti Royong, kegiatan bersih-bersih Musoleum.
Kegiatan bersih-bersih sudah tiga kali mereka lakukan. Pertama 2 Mei, selanjutnya 20 Juni dan 10 Juli kemarin. Pada 10 Juli , sekitar 30 orang lebih membersihkan Musoleum. Mereka membawa peralatan lengkap, mulai dari selang, ember, sapu, kain lap hingga pembersih lantai. Mereka bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB.
Kordinator Love Our Heritage Amelia Devina(Foto :Nopi/TNOL)Mereka tak sungkan pula membersihkan sampai bunker Musoleum, tempat tersimpan jenazah OG Khouw dan istrinya Lim Sha Nio.Memasuki bunker, pertama kali yang dilihat adalah dua karangan bunga terbuat dari marmer. Kemudian di sekeliling bunker ada tujuh celah. Dulunya dicelah-celah tersebut terdapat lemari berisikan barang-barang peninggalan Khouw. Diantara celah-celah diletakkan bangku yang terbuat dari marmer yang saat ini hanya ada tiga bangku. Se
Rehat Sejenak (Foto : Nopi/TNOL)lain itu, terdapat pula meja diantara gambar Khouw dan istri.
Menurut Jemi, selain Bakti Royong mereka juga melakukan kegiatan ngeteh gaya Belanda secara sederhana. Saat ngeteh bersama, mereka menghadirkan hasil bumi sebagai penganan seperti pisang rebus dan cendil. Agar tercipta suasana tempo dulu, alunan musik Belanda mereka
putar dari piringan CD.
Saat ini sendiri anggota Love Our Heritage mencapai ratusan orang. Bagi Anda yang berminat gabung bisa mendaftar melalui facebook Love Our Heritage.
OG Khouw Orang Terkaya. Pada zamannya OG Khouw merupakan orang terkaya di Batavia, bahkan sampai se Asia Tenggara. Kekayaan OG Khouw antara lain ladang dan kebun di Tambun, Bekasi. "Dulu satu Tambun punya dia semua," jelas salah satu anggota Love Our Heritage Ferry Kuntoro.
Membersihkan dinding (Foto :Nopi/TNOL)Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan, Khouw mendirikan sekolah Tionghoa berbahasa pengantar Belanda. Penggunaan bahasa Belanda tak lepas dari campur tangan pihak Negeri Kincir Angin. Lantaran Belanda khawatir, nantinya sekolah bisa mengancam kekuasaan mereka. Salah satu alumni sekolah bentukan Khouw adalah bintang film tiga zaman Tan Cheng Bok.
Foto : Nopi/TNOLKini lokasi sekolah tersebut menjadi SMAN 19, Pancoran, Glodok. Khouw juga mendirikan Hospitaalfonds Jang Seng Ie yang saat ini menjadi RS Husada di Mangga Besar.
Kesuksesan Khouw dalam menjalankan roda bisnis membuat Khouw menjadi orang kaya raya. Khouw mendapat keistimewaan dari Belanda. Padahal
kala itu, orang-orang keturunan Tionghoa dan Arab berada di strata dua. Namun dengan kekayaannya Khouw, bisa menjadi warga negara golongan pertama alias setingkat dengan orang-orang Eropa.
Tak ayal gaya Khouw seperti mereka. Terbukti di Musoleumnya terdapat patung-patung bergaya Eropa. Ketika memasuki bunker juga nampak ukiran
tulisan bahasa Belanda Rust in Vrede atau dalam bahasa Inggris Rest in Peace. Meski kaya Khouw tidak memiliki keturunan. Dahulu Khouw tinggal
di Jalan Gajah Mada. Saat ini lokasinya berada di SMAN 2 Jakarta.
Sebelum menjadi sekolah, tempat Khouw dipergunakan sebagai Kedutaan Besar RRC. Namun pergolakkan G30S PKI mengakibatkan lokasi tersebut
dibakar massa. Khouw sendiri meninggal di Ragaz, Swiss karena sakit paru-paru pada 1927 silam. Sang istri menyusul kepergian Khouw tahun
1957. Sebelum meninggal Khouw sudah mempersiapkan tanah Musoleum sejak 1910.
Tak heran, jenazah Khouw dibawa langsung dari Swiss ke Indonesia. Berdasarkan Koran Sin Po makam Khouw mengalahkan makam miliarder Amerika Rockefeller. Dahulu jenazah Khouw bisa dilihat dari kaca lantaran diawetkan. Kaca bisa terbuka dan tertutup dengan menekan tombol. Namun memasuki 1980an, jenazah Khouw dan istri di kremasi.
"Tapi abunya masih disini. Lalu kaca diganti dengan bangunan permanen," imbuh Ferry. Bangunan selebihnya masih seperti dahulu. Bahkan genset saat pertama Musoleum dibangun tetap ada. "Hanya pintu bunker saja yang hilang, tapi kita telah membuatnya kembali agar dalam bunker saja yang hilang, tapi kita telah membuatnya kembali agar dalam bunker tetap terjaga," tuntas Ferry.
Comments
RSS feed for comments to this post