Tiang telepon bersejarah peninggalan Hindia Belanda ada di Depok/ Foto-foto: Safari TNOLMemperingati hari kasih sayang Valentine's Day di bulan Februari, Depok Heritage Community (DHC), komunitas pelestari sejarah Depok memperingatinya dengan cara yang berbeda. DHC mewujudkan rasa cinta dengan mengajak masyarakat dan berbagai komunitas untuk mencintai aset sejarah yang berada di wilayah Kota Depok.
Salah satu ajakan yang diwujudkan DHC adalah dengan kegiatan membersihkan dan merestorasi tiang telepon peninggalan Hindia Belanda, yang berlokasi di Jl Kartini Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Kegiatan bersih-bersih dan restorasi tiang telepon tersebut akan dilaksanakan pada hari Minggu (19/2) pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Tiang telepon yang dibangun pada tahun 1900 tersebut perlu dibersihkan dan di restorasi, karena saat ini kondisinya sangat memprihatinkan.
Terlihat terbengkalaiTiang telepon setinggi 10 meter tersebut dipenuhi dengan berbagai utas tali spanduk dan bendera partai. Selain itu, di bagian bawah tiang juga terdapat bak sampah dengan ukuran tinggi dan lebar 1 x 1 meter.
Ketika TNOL mengunjungi tiang telepon tersebut beberapa waktu lalu, ada beberapa ulat yang merayap di sekitar bagian tiang tersebut.
Mengingat terdapat bak sampah, maka bau busuk juga menyengat di sekitar tiang tersebut. Bagian bawah tiang juga telah mengalami korosi akibat karat. Sementara itu, beberapa bagian lainnya juga terdapat tempelan berbagai stiker kertas iklan.
Kegiatan restorasi tiang telepon yang akan dilakukan DHC diantaranya adalah membongkar bak sampah dan pengecatan kembali sesuai warna aslinya. Saat ini berbagai material untuk kegiatan bersih-bersih dan restorasi telah tersedia. Material tersebut merupakan sumbangan dari berbagai masyarakat yang sangat peduli terhadap tiang telepon tersebut.
"Untuk kegiatan ini, DHC mengajak dan mengundang berbagai pihak antara lain Lurah Depok, Camat Pancoran Mas, Komunitas Abang-Mpok Depok serta masyarakat yang peduli akan pelestarian aset sejarah Depok," kata Ratu Farah Diba, Ketua DHC kepada TNOL, Kamis (16/2).
Mulai rusakRatu menuturkan, DHC sangat peduli terhadap tiang telepon tersebut karena merupakan aset sejarah yang tersisa dari masa pemerintahan Hindia Belanda. Tiang telepon tersebut merupakan sentral saluran telepon yang didistribukan ke setiap rumah warga Depok pada masa pendudukan Belanda.
"Restorasi dilakukan karena DHC khawatir tiang tersebut takut dipotong dan diambil orang lain," kata Ratu yang dikenal sebagai 'Nyai Depok' ini.
Kekhawatiran lainnya adalah bagaimana nasib tiang telepon tersebut jika terjadi pelebaran Jl Kartini, yang merupakan jalan penghubung antara wilayah Margonda dan Citayam. Apalagi saat ini terdengar kabar bahwa Jl Kartini akan segera dilebarkan mengingat kondisi jalan tersebut juga kurang memadai sebagai jalur transportasi.
"Nah, akan dikemanakan tiang tersebut kalau sejak sekarang tidak diperkenalkan sebagai aset sejarah dan dilindungi," tegasnya.
Agar tiang telepon tersebut tetap menjadi aset sejarah, ujar Ratu, maka pihaknya meminta YLCC (Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein) untuk segera melakukan soft launching museum mini tentang Depok. Jika terjadi pelebaran Jl Kartini dan harus membongkar tiang telepon tersebut, maka pihaknya akan mengupayakan agar pihak terkait untuk menyimpannya di museum mini tersebut.
Ratu Farah Diba, Ketua DHCDalam hal ini Ratu juga menuturkan, ada hal yang membuat DHC sangat miris, karena lokasi tiang telepon tersebut sangat berdekatan dengan kantor pemerintahan seperti Kelurahan Depok dan Kecamatan Pancoran Mas. Tapi, dalam kenyataannya pemerintahan setempat tidak mempedulikannya sehingga menjadi terbengkalai.
"Kantor Kelurahan Depok dan Kecamatan Pancoran Mas tidak memperhatikan dan mempedulikan tiang tersebut. Sehingga dibiarkan kondisinya menjadi terbengkalai," paparnya. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post