Melalui kegiatan yang sering dilakukannya, komunitas Rotary Jakarta Batavia tak hanya ingin memberi edukasi kepada anak-anak difabel Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 5 Petamburan, Slipi...
Anak-anak difabel memberi makan seekor sapi/ Foto-foto: Nopi TNOLMereka, juga ingin menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak tersebut lewat kunjungan ke pabrik dan peternakan mini Cimory yang memproduksi susu di Jalan Raya Puncak No. 435, KM 77, Cisarua, Bogor.
Maklum, selama ini mereka kerap mengadakan acara yang tak jauh dari sekolah. Dan, anak-anak yang selalu didampingi orangtua masing-masing ini telah melakukan berbagai kegiatan seperti membuat batik ikat di Museum Tekstil Jakarta.
"Kali ini, kita pilih yang jauh untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri mereka. Karena, saat kunjungan tidak didampingi orangtua. Lewat acara ini, juga bisa melatih orangtua agar percaya kepada orang lain untuk mendampingi anak-anaknya," jelas Presiden Rotary Jakarta Batavia, Ira Lathief kepada TNOL, Sabtu (28/1).
Awalnya, kata Ira, beberapa orangtua tidak menyetujui. Berkat bantuan pihak sekolah, mereka mendapat kepercayaan mengajak anak-anak difabel tersebut. Lantaran, kegiatan yang dilakukan memiliki edukasi dan sangat bagus bagi anak-anak. Apalagi, banyak orang tidak mengetahui bagaimana proses pembuatan susu dan manfaatnya.
Menuju peternakan miniDengan melihat langsung proses pembuatan susu, setidaknya mereka akan tertarik untuk mengonsumsi susu. Sementara itu, salah satu Project Officer Ardelia Atila atau biasa disapa Adel, menyatakan bahwa Rotary memilih kunjungan ke Cimory karena di sana anak-anak bisa bermain sambil belajar, mengingat partisipan acara ini banyak melibatkan anak-anak sekolah tingkat dasar.
Acara ini merupakan joint project antara Professional Development Department dan Community Service Department Rotary Jakarta Batavia. Professional Development Director dipegang Ika Hendrani, posisi Community Service Director dipegang Adel.
Berhubung acara adalah kolaborasi dua departemen di Rotary Jakarta Batavia, mereka berharap melalui agenda yang digelar bisa mengembangkan para internal rotarian tentang subsistem peternakan sapi dari hulu sampai hilir.
"Kalau dari segi Community Service, kami mengundang anak-anak SLB dari Petamburan untuk lebih banyak belajar mengenai pengolahan dan pemasaran Cimory karena sesuai dengan program tahunan Community Service kami yang concern di bidang anak-anak berkebutuhan khusus," jelas Adel.
Rotary Jakarta Batavia dan anak-anak foto bersamaRombongan berkumpul di sekolah dan para orangtua mengantar anak-anaknya sampai ke bus. Terlihat anak-anak gembira melakukan perjalanan. Ada juga yang tak mau jauh dari orang tua, setelah dibujuk ibunya dia naik ke bus. Mereka ke Cimory didampingi anggota Rotary serta empat orang guru. Bus berangkat pukul 07.24 WIB. Dalam perjalanan, anak-anak mendapat hiburan dari lagu-lagu yang diputar sang sopir.
Sebagian dari mereka juga ada yang berbincang-bincang dengan teman sebayanya seperti Amel dan Indah. Tak terasa bus sudah mendekati lokasi. Tiba di tempat, bus segera berhenti tepat di depan pintu masuk. Tampak pengunjung cukup banyak lantaran wekeend.
Rombongan disambut Manager Cimory, Donny Souisa. Sang Manager mempersilakan rombongan menikmati segelas susu stroberi dari Cimory. Usai minum, mereka menyusuri jalan setapak yang agak menurun menuju peternakan mini. Mendengar akan melihat sapi, anak-anak merasa senang. Mereka pun semangat menuruni jalan setapak.
Seperti peternakan pada umumnya, kandang sapi di peternakan mini ini memiliki pintu dari kayu. Rombongan dipersilakan duduk untuk mendengarkan penjelasan dari sang manager yang memperkenalkan diri sebagai 'Mr. Cow'. Di peternakan mini, ada empat ekor sapi.
Donny alias 'Mr. Cow' memperlihatkan susu hasil perahanMenurut Mr. Cow, sapi didatangkan dari Belanda. Cimory memiliki skitar 2800-an sapi. "Sapi yang bisa diperah adalah sapi yang telah melahirkan. Kita memberi nama 'Mori'. Sedangkan anaknya bernama 'Cimo'," papar Mr. Cow.
Tiap ekor sapi bisa menghasilkan 15 liter susu. Mereka memerahnya setiap pagi dan sore sehingga bisa mendapatkan 30 liter susu dari satu ekor sapi. Susu yang diperah dari sapi tidak bisa langsung dikonsumsi lantaran mengandung bakteri. Untuk itu, perlu diproses terlebih dahulu agar menghasilkan susu yang layak dikonsumsi. Sapi di Cimory mendapat perawatan intensif; mereka mandi tiga kali dalam satu hari dan diberi makan rumput.
Mr. Cow pun menjelaskan bagaimana memerah susu dari ambing sapi atau puting sapi betina. Mr. Cow mempersilakan salah satu karyawannya mempraktikkan. Setelah itu, anak-anak mendapat kesempatan memerah langsung. Ketika memerah, ambing sapi terasa hangat. Susu yang dihasilkan juga terasa hangat, ini menandakan sapi yang sehat. Sapi yang diperah sedang hamil sembilan bulan sepuluh hari.
Komunitas Rotary Jakarta BataviaSetelah memerah susu, anak-anak diperkenankan memberi makan empat ekor sapi. Rumput-rumput sudah disediakan, mereka tinggal menyodorkan ke sapi-sapi tersebut. Setelah beraktivitas mereka wajib membasuh tangan dengan sabun. Semua sudah tersedia tak jauh dari peternakan mini, bahkan air yang digunakan langsung mengalir dari gunung. Selanjutnya mereka pun mengarah ke pabrik.
Di sana mereka bisa melihat bagaimana pengemasan susu. Lalu, mereka menonton video tentang pabrik dan peternakan Cimory yang berada di atas restoran. Menurut Donny, video diputar agar pengunjung lebih memahami tentang Cimory. Kegiatan berikutnya, mereka santap siang.
Usai santap siang bukan berarti acara selesai, melainkan masih ada satu agenda menarik. Mereka diajarkan membuat milk shake dari susu Cimory. Dua orang anak diperkenankan ikut serta.
Makan bersamaTerpilih Nanda dan Eki, keduanya mendapat kesempatan belajar langsung setelah berhasil menjawab pertanyaan seputar pabrik dan peternakan sapi Cimory. Sedangkan anak-anak lainnya bisa melihat Eki, Nanda dan pegawai Cimory membuat milk shake. Milk shake adalah minuman yang terbuat dari bubuk cokelat, susu cokelat dan es krim cokelat.
Bahan-bahan disatukan dan diblender. Prosesnya tidak lama, hanya dalam lima kali hitungan sudah selesai. Mereka pun bisa menikmati milk shake tersebut.
"Sangat mengasyikkan bisa belajar buat milk shake. Buatnya tidak terlalu sulit dan rasanya enak," ucap Eki.
Pembuatan milk shake menjadi penutup aktivitas rombongan. Sebelum pulang, masing-masing anak mendapat satu botol susu dan yogurt. Saat meninggalkan lokasi, hujan mengguyur. Namun, hati mereka senang karena telah mendapat tambahan pengetahuan. (Sbh)
Comments
RSS feed for comments to this post