Komunitas Bicara

“Kecelakaan itu Terlalu Parah Buat Dikomentarin....”

Penilaian Pembaca: / 4
JelekBagus 

Djoened

Jumat, 27 Januari 2012

Jakarta selalu saja punya berita.

Pekan ini, 'trending topic' yang jadi pembicaraan hangat masyarakat Jakarta, tak lain, seputar kecelakaan maut di Jalan MI Ridwan Rais, arah Tugu Tani, persis di depan Gedung Kementerian Perdagangan Jakarta Pusat –ketika mobil Daihatsu Xenia (B 2479 XI), yang dikendarai Afriyani Susanti (29), menyeruduk para pejalan kaki dan merusak halte bus, pada Minggu (22/1), pukul 11.12 WIB.

Sembilan orang tewas, dan 4 lainnya luka-luka. Yang bikin banyak orang 'geregetan', Afriyani saat itu sedang mabuk narkoba sehabis menghadiri pesta di tiga tempat sekaligus (Hotel Borobudur, sebuah klub malam di kawasan Kemang, dan diskotik Stadium di Kota). Dia juga tak punya SIM, bahkan STNK.

Kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal berlapis: 283, 287 ayat 5, Pasal 288, Pasal 310 ayat 1, ayat 2, ayat 3, dan ayat 4 KUHP, Afriyani 'hanya' akan diancam enam tahun penjara.

Hebat, kan?


Yutaka Aoyama, Ketua AMP Cosplayer

"Kasus ini terlalu parah untuk dikomentari. Susah membaca peraturan sekarang. Peraturan dibuat untuk dilanggar.

"Yang salah memang tetap tersangka dong. Tapi, hukum juga kadang salah. Pihak berwajib saja sempat mengelak kalau Afriyani memakai narkoba. Dan, kenapa hukumananya lebih ringan dari maling sandal?

"Kualitas kendaraan juga sama saja. Beberapa waktu lalu pernah dibahas mobil New Honda Jazz di Amerika ditarik, karena tidak ada standar keamanannya, seperti airbag. Kalau disini, sudah tabrakan, penyok, reot, masih saja diperbolehkan beroperasi.

"Orang Bea Cukai-bilang, 70% mobil (diluar merk Eropa) yang masuk ke Indonesia itu berlimpah. Jadi, jangan takut enggak bisa beli mobil. Masalahnya, pajaknya lumayan besar."

Rinto, Anggota Rotary Jakarta Batavia

"Kecelakaan itu sangat memilukan. Sekelompok anak muda, pulang main futsal di Monas, dan pasti masih sedang bersukacita; tiba-tiba ditabrak Xenia dan bergelimpangan. ...

"Setelah tahu pengemudinya nggak punya SIM, sedang mabuk pula, saya mengutuknya!

"Soal tanpa SIM dan surat-surat lengkap, itu juga sebuah tanda bahwa hukum di negara kita bisa diajak main-main. Tapi, SIM bukan jaminan juga, karena untuk mendapatkan SIM, bisa dengan 'nembak'.

"Banyak teman saya nggak bisa nyetir, tapi punya SIM, entah untuk apa. Pengemudi yang tidak punya SIM, bagi saya, tetap sebuah pelanggaran.

"Memang harus dimulai dari polisi. Mereka punya hak melakukan razia. Tegas saja dengan undang-undang. Tak punya SIM, tangkap.

"Saya rasa, undang-undang atau hukum kita tak jelek kok. Oknum-oknum yang menegakkannya saja yang kurang tegas, masih mau tawar-menawar, sementara masyarakat pun pantang melihat celah....

"Soal standarisasi mobil, saya kurang paham. Saya juga pakai mobil yang seharga Xenia-Avanza kok. Tapi, aman-aman saja tuh; selama kita tau bagaimana merawat dan mengemudikannya.

"Itu kan bukan mobil balap. Batas kecepatan di dalam kota juga ada aturannya. Patuhi aja, nggak susah kok.

"Agar kecelakaan menurun, saya setuju untuk memperketat pengurusan SIM; tapi bukan dipersulit lho. Ujian teori dan praktik yang benar. Gak bisa lagi 'main tembak'.

"Soal hukuman bagi pengemudi mabuk, juga harus lebih tegas. Mabuk aja sudah haram.

"Tapi, si Neng Afriyani ini sungguh keterlaluan. Saya ingin ketemu ibunya, untuk tau bagaimana dia mendidik anak sehingga bisa menjadi sedemikian biadab; tak punya rasa takut, tak punya rasa bersalah, dan seperti tak punya nurani saja."

Araini Yulianti, Anggota Dayak Youth Community (DYC)

"Sangat prihatin!

"Betapa kejadian ini menunjukkan ketidakpedulian pengemudi pada orang lain. Dia berani mengemudi tanpa SIM dan STNK. Aku rasa, karena dia tidak berada pada keadaan bisa berpikir normal. Pikirannya pendek.

"Untuk menyikapi hal-hal seperti ini, pengemudi harus didisiplinkan. Tidak ada lagi SIM 'nembak', tidak ada lagi usia dibawah 17 tahun bisa apply SIM. Polisi juga harus disiplin, dan tidak ada kompromi terhadap pelanggaran lalu-lintas.

"Menurut saya sih, harga mobil Xenia itu nggak murah-murah amat kok. Sehingga nggak harus mengorbankan kualitas. Di luar negeri, harga mobil rakyat bisa lebih murah dari itu.

"Lagipula kan ada divisi quality control, baik dari produsen maupun dari negara yang tugasnya memastikan kendaraan tersebut apakah aman dan nyaman untuk dijual ke konsumen.

"Yang penting, tingkatkan kedisiplinan pribadi dan lalu-lintas. Tidak ada kompromi terhadap pelanggaran lalu-lintas, belajar peduli pada orang lain, dan seriuskan hukuman pada pelanggar."

Achmad Nurhasyim (Aam), Anggota KRBI

"Peristiwa ini karena KELALAIAN. Di mana kondisi pengemudi yang kena pengaruh narkoba dan miras hingga kelelahan, tidak bisa mengontrol kemudi. Harusnya menginjak rem, ini malah gas.

"Lalu, dia tidak bawa dokumen berkendara (STNK dan SIM). Kondisi tekanan ban mobil yang tidak normal, hingga mengakibatkan hilangnya nyawa, rusaknya fasilitas umum, jatuhnya harga diri, kesusahan orang lain (korban), isu moral psikologi masyarakat, dan lain-lain.

"Dia berani membawa kendaraan tanpa SIM dan STNK, itu karena dia ingin menggampangkan. Dia pikir, hari Minggu, jadi nggak masalah, nggak ada polisi, toh juga mobil sewaan.

"Avanza-Xenia itu kan mobil rakyat kelas menengah dengan harga terjangkau. Memang sudah SNI (Standar Nasional Idonesia), tapi belum SI (Standar Internasional).

"Biar persoalan seperti ini tak berulang, car tax untuk mobil pribadi dimahalin. Juga BBM untuk mobil pribadi dimahalin, fasilitas public transportation dibagusin, termasuk ketegasan hukum dan aparat hukumnya.

"Karena itu, katakan tidak pada narkoba! Bawa dokumen berkendara, dan hati-hati berlalu-lintas!"

Hedy, Pengurus Accord Prestige Indonesia @ Kaskus

"Kalau bener sopirnya lagi mabok, ya, udah jelas. Nggak diusut juga udah ketauan siapa yang salah!

"Memang kesadaran masyarakat kita keliatannya rendah; baik secara hukum ataupun disiplin berlalu-lintas. Jangankan untuk keselamatan orang lain, untuk keselamatan sendiri aja terkadang nggak diperhatiin.

"Kalau saya pikir, untuk kasus ini, kita nggak usah menyalahkan mobil, karena nggak ada sangkut-pautnya. Paku yang kecil aja bisa bahaya, atau piring yang buat makan aja bisa jadi senjata kalau dipukul ke kepala.

"Secara umum, aturan-aturan yg ada di Indonesia sudah bagus kok. Kecuali celah-celahnya saja yang kadang sengaja dibuat. Seharusnya penegakan hukum lebih konsisten. Nggak perlu dipersulit atau dibuat mahal.

"Asal prosedurnya dijalankan secara benar, saya yakin bisa berpengaruh besar. Percuma dipersulit tapi masih ada celah untuk mempermudah. Dan, semua kembali lagi ke kesadaran masyarakat."

Mulyadi, Humas AXIC

"Saya harap, pelaku penabrakan di Tugu Tani dihukum seberat-beratnya.

"Dia berani membawa kendaraan tanpa surat-surat, bisa jadi karena hukum di Indonesia bisa kompromi dan berdamai dengan hanya membayar Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Disamping itu, dia juga dalam pengaruh obat, sehingga tidak sadar membawa mobil tanpa surat-surat.

"Agar kejadiaan ini tidak terulang lagi, Polisi harus rajin melakukan razia kepada pengendara yang tidak memiliki SIM. Tapi, razia ini harus dilakukan benar-benar untuk menegakkan disiplin, bukan untuk pemasukan mereka. Pengemudi juga harus menjaga keselamatan dan mematuhi aturan lalu-lintas.

"Saya sendiri pakai Avanza. Bagi saya, Avanza atau Xenia cukup aman. Bodinya juga memiliki keamanan yang standar. Tinggal bagaimana kita mengendarainya saja.

"Kita lihat saja kecelakaan yang di Tugu Tani. Penumpangnya selamat. Begitu pula dengan kecelakaan yang menimpa Saiful Jamil, hanya satu orang meninggal. Berarti, mobil ini cukup safety.

"Jadi, kembali lagi kepada pengendaranya. Masyarakat bisa menilai karena mobil ini cukup banyak yang memakai, tapi bukan berarti kualitasnya tidak bagus.

"Harga Avanza dan Xenia murah karena diproduksi dalam jumlah banyak, dan banyak menggunakan kandungan produk lokal.

"Kami sendiri dari komunitas sedang melakukan kampanye keselamatan safety belt for all, yang sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2011."

Arief Wahyudi, Salah Satu Pendiri Komunitas Kamera Pinjaman

"Kesal juga saya melihat kasus ini. Gimana nggak kesal? Mabok kok siang-siang! Terus bawa mobil, lagi! Apalagi setelah kejadian, si pengemudi sempet marah-marah pas ke luar dari mobil!

"Jadi, untuk si pengemudi sih, serahkankan saja pada hukum yang berlaku di Indonesia deh, walaupun hukumnya berantakan! Justru yang nggak bisa di bayangin itu kesedihan dan nasib keluarga korban....

"Kalau menurut saya sih, nggak bawa SIM or STNK itu nggak ada hubungannya sama kesadaran membawa kendaraan. Lha, SIM sama STNK kan dibuatnya bisa 'nembak'.

"Dalam case Tugu Tani, Afriyanti jelas salah. Kalau masalah hukum, mungkin tidak semuanya salah. Yang menjalankan hukumnya aja kali yang agak error. Begitu juga kesadaran dan disiplin masyarakat.

"Ya, Afriyanti harus bener-benar dihukum, karena peristiwa itu bukan kelalaian."

Usi Muladi, Anggota Komunitas Desain Grafis Indonesia

"Itu karena pengaruh narkoba, yah? Itulah realita di sekitar kita, terlebih pergaulan di kota besar, di mana kontrol orangtua ke anak agak teledor.

"Mungkin, saking besarnya tuntutan hidup di kota besar, sehingga orangtua lalai dalam pengawasan kepada anak-anaknya.

"Semua balik ke orangnya, juga ke kesadaran hukumnya. Kalau anak muda, saya enggak kaget. Bagi mereka, melanggar aturan adalah keren. Bahkan menggunakan narkoba adalah kebanggaaan.

"Yang harus dipertanyakan adalah peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Apa enggak diajarkan bahwa semua itu dosa? Kalau begini, peran agama jadi dipertanyakan.

"Kasus ini enggak bisa menyalahkan salah satu pihak saja. Semua pihak ikut terlibat. Semuanya bersalah.

"Berkembangnya teknologi memang mengubah pula kultur negara kita. Sistem pendidikan acak-adul, dan nilai-nilai budaya luntur. Belum kisruh negara yang tidak ada habisnya; selalu mengurusi mafia negara tanpa memikirkan pendidikan. Lihat tuh potret pendidikan di Indonesia. Sudah biaya sekolah mahal, fasilitas dan infrastrukturnya payah. Semua borjuis!

"Nah, ini biar jadi 'pe-er' semua pihak terkait, tanpa menuding salah satu pihak, biar yang merasa melakukan kecurangan mau intropeksi diri; entah itu dari pihak aparat yang suka memonopoli keadaan, sampai mungkin orang-orang yang malas membuat SIM karena ribetnya prosedur.

"Ini juga buat perhatian para orangtua. Kalau cewek pake narkoba, terus ibunya ngapain? Gak dididik tuh anak? Masak bisa kecolongan?"

H Abdul Choir, Anggota Vhesink Ontel Club

"Saya mengharapkan polisi menghukum tersangka –yang memang jelas-jelas sudah memakai NARKOTIKA dan menghilangkan nyawa orang banyak– dengan HUKUMAN yang sesuai dengan harapan orang-orang pada umumnya. Kalau perlu HUKUMAN MATI, agar memberikan efek jera buat yang lain yang suka berbuat seperti itu: MABUK sambil BAWA MOBIL.

"Kasus ini karena DEGRADASI MORAL /AKHLAQ, akibat kurangnya pendalaman agama. Juga tak lepas dari PERGAULAN BEBAS. Jadi, kata siapa kampus-kampus berbasis agama bebas dari MIRAS/NARKOTIKA? Itu booohooong.... Saya tahu persis, narkoba sudah merasuki segala elemen.

"Semuanya sudah kayak lingkaran setan. Kita kawal kasus ini, karena keluarga pelaku sudah mempersiapkan dana besar buat menyelamatkan pelaku. Buktinya, jumlah masa hukumannya hanya sebentar; bahkan tampak tidak berpihak pada keluarga para korban. Sampai-sampai ada keluarga korban yang mau membunuhnya!

"Menggunakan SHABU, bawaannya akan ketakutan sekali terhadap siapa pun. Halusinasinya juga sudah PARAH.

"Agar kasus ini tidak berulang, maka semua harus dijalankan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku.

"Saya hanya berharap agar di-HUKUM MATI saja, biar setimpal. Karena itulah harapan-harapan dari keluarga KORBAN yang memang jelas-jelas orang LEMAH."

Imam, Ketua Piet Onthel Jember (POJ) Jawa Timur

"Hahaha.... Enggak perlu dikomentarin deh. Sekarang memang banyak orang gila.

"Kalau kita amati, lucu juga. Masak Gubernur DKI Jakarta sampai ikut nyumbang para korban? Jangan-jangan 'Si Penjagal' itu anak orang berpengaruh.

"Sudah begitu, ancamannya ringan lagi, hanya 6 tahun. Pencuri pisang saja ancamannya bisa 5 tahun lebih.

"Tapi, kalau enggak begini, enggak Indonesia banget! Yang jelas, hukum kita yang salah. Putusan bisa dibeli, dan gampang mencari kambing hitam.

"Kesalahan ini terletak pada Pemerintah dan konsumen. Pemerintah memungut pajak sebesar-besarnya. Sementara konsumen melihat dari segi model dan murah; kalau dijual lagi, harganya masih tetap tinggi; sedangkan untuk keselamatan, itu nomor tujuh....

"Seharusnya hukum ditegakkan dengan benar. SDM di kepolisian ditingkatkan. Gak ada lagi buat masuk jadi polisi pakai bayar puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Kalau ini ditiadakan, saya yakin, POLRI bisa solid dan profesional.

"Untuk mendisiplinkan masyarakat, saya kira sulit. Masayarakat kita haus dengan budaya sok pamer akan penampilan. Masyarakat kita bangga dengan hal-hal yang negatif, yang dianggap keren...."

Richfield Edbert, Ketua Komutoku

"Saya enggak bisa banyak berkomentar, karena when 'shit happens' itu di luar kuasa kita. Ini bukan masalah dia enggak punya SIM dan STNK, tapi karena maboknya itu. Halusinasi narkoba bikin dia merasa rem mobilnya blong, termasuk merasa punya SIM, STNK dan bisa nyetir mobil. Mungkin juga yang dia lihat di jalanan itu bukan orang....

"Yang salah jelas si pelaku, karena dia sebenarnya punya pilihan untuk mengonsumsi atau menolak minuman keras dan narkoba. Dia orang terpelajar, yang bisa mengerti apa risiko dari penggunaan benda-benda itu. Dan, dia orang beragama, yang bisa mengerti mana yang dosa dan yang enggak.

"Untuk kasus ini, jangan dikit-dikit menyalahkan aparat deh. Emang mereka bisa lihat tembus pandang kayak Superman dengan mata X-Ray-nya, sampai bisa lihat apa yang terjadi di dalam mobil?

"Saya bukan ahli otomotif, tapi kenapa jadi mobilnya yang disalahin? Mau mobilnya se-aman mobil Eropa, tapi kalau si pengemudinya dodol, mah dodol aja jadinya! Mungkin yang di dalam mobil selamat, tapi yang di luar mah tetap saja babak-belur. Di kasus ini kan yang dirugikan orang-orang yang ditabrak, bukan yang mengemudi dan penumpangnya.

"Di negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika, perolehan SIM itu sangat sulit dan mahal. Ada tes tertulis dan praktek yang harus dilewati sebelum dapat SIM. Kalau tes tertulisnya saja nggak lewat, gimana mau praktek?

"Cara menertibkan lalu-lintas sebenernya se-simple itu kok. Dengan ikut tes, kita jadi tahu gunanya marka-marka jalan itu untuk apa, gunanya lampu sein, lampu hazard, lampu dim....

"Kalau dari awal para pengemudi sudah dapat pelajaran yang benar, dan tahu denda pelanggarannya apa saja, masak iya ada orang waras sengaja-sengaja cari masalah di jalanan? Polisi juga enggak perlu repot-repot nilangin orang untuk bikin jera, kecuali orangnya memang turunan badak....

"Cuma kan memang sudah terkenal kalau orang-orang di Indonesa ini cuma peduli urusan perut sendiri. Yang penting duit masuk. SIM 'nembak' gak apa. Toh, nanti kalau di jalan salah-salah, kan bisa jadi sumber duit buat nilangin orang. Nah, kalo semua orang tertib berlalu-lintas, bisa-bisa salah satu sumber penghasilan non gaji berkurang dong! Gajinya saja kecil!

"Kesimpulannya, kalau mau lalu-lintas Indonesia beres, sejahterakan aparatnya, dan bereskan cara dapat SIM-nya."

Laporan: Nopiyanti, Safari, Novriyadi

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Comments  

 
#2 Safari 2012-01-28 09:15
laksanakan.....
Quote
 
 
#1 H.Abdul Choir VOC 2012-01-28 09:01
buat TNOL nya maju terus dan jangan lupa buat bang safari dkk di TNOL utk kawal kasus ini terus karena agar pelaku mendapat HUKUMAN sesuai dgn harapan keluarga KORBAN.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh