Cerpen

Bukan Pilihan

Penilaian Pembaca: / 4
JelekBagus 

Rida Novaida

Senin, 09 May 2011

"Semua berjalan tidak bisa kuprediksi, prosesnya mengalir secara alami. Hanya masalah waktu saja sehingga aku belum bisa berterus terang kepadamu,” jawabnya, seolah-olah mengadu padaku.

Ilustrasi: Thamrin MahesaraniIlustrasi: Thamrin Mahesarani“Mungkinkah aku telah salah...?” gumamku, sambil terus memeriksa sebuah folder yang berada dalam laptopnya. Folder itu berisi foto-foto sepasang manusia yang (tampak) begitu hangat serta memiliki ikatan perasaan yang kental. Mungkin aku tak sekalut ini jika pria dalam foto itu bukan suamiku. Aku tetap berharap dalam prasangka baik, semoga ini adalah hasil cropping keisengannya atau berharap sosok perempuan itu hanya seseorang yang diidolakan suamiku, bukan kekasih hatinya. Tapi wanita dalam foto itu, adalah sosok perempuan muda berusia sekitar 23 tahunan, tampak penampilan fisiknya yang (masih) begitu menarik bagi pria manapun.

Dengan gemetar, diiringi rasa ketidak-nyamanan dalam perutku, terus kubuka foto-foto dalam folder itu. Tampak kedua-mata sepasang manusia itu saling memandang. Tangannya saling menggenggam erat. Latar belakang gambar di belakangnya adalah sebuah candi tua, tapi aku tak begitu yakin, candi apa itu dan berada di mana, karena tempat itu begitu asing bagiku. Selanjutnya, mereka tampak saling rangkul, dan yang lebih menyakitkan – sebuah foto dimana suamiku sedang mencium kening perempuan itu. Hatiku terasa panas dan marah, tapi aku masih memiliki kekuatan untuk tetap membuka foto-foto yang berikutnya, hingga foto adegan akad nikah suamiku dan perempuan itu kutemukan di sana. Di belakang mereka tampak ada orang-orang yang menyaksikan akad nikah itu, tak ada satu pun keluarga mertuaku di sana, aku yakin mereka pun sama sepertiku, tidak mengetahui adanya pernikahan kedua dalam rumah tangga kami.

Ingin rasanya kubanting laptop itu, tapi itu tindakan bodoh bagiku. Detak jantungku terasa begitu cepat, ada marah, kecewa, kesal, dan luka yang menganga dalam jiwaku. Perlahan laptop itu ku shutdown. Lalu, dengan setengah berlari, segera kutinggalkan ruangan kerja suamiku. Ketika melewati lorong ruang keluarga, mataku terantuk pada foto berukuran sangat besar yang terpancang di dinding ruang keluarga itu. Dalam foto itu ada foto aku, suamiku, dan kedua anak kami. Ya, kami memang memiliki dua orang anak, yang kini telah berusia remaja. O, Tuhan...! Aku harus mampu menguasai emosiku, sehingga tak banyak hati yang tersakiti oleh kenyataan ini.

Kubenamkan wajahku ke atas bantal. Dan bukan air mata saja yang tumpah di sana. Aku marah, semarah-marahnya pada laki-laki itu. Aku benci, sebenci-bencinya pada laki-laki itu. Lalu kuangkat wajahku. Terdengar derap langkah menuju ke arah yang bisa kutebak. Segera kuangkat badanku, dan mengikuti alur langkah manusia yang baru saja masuk ke rumah ini.

“Laptopku ketinggalan, mana jalanan macet, terpaksa deh bolak-balik dari kantor ke rumah”, ujarnya sambil bergegas membawa laptop itu keluar dari ruang kerjanya.

Aku mencegatnya di lorong itu, “Kita harus bicara,” aku masih bisa menjaga agar emosiku tidak membubung.

“Ada apa? kamu tampak serius,” dia malah balik bertanya padaku.

“Buka laptopmu, jelaskan tentang satu folder itu padaku!” suaraku mulai terdengar berat.

“Folder apaan!! Jangan gila kau, ni semua nyangkut kerjaan. Kau mulai jadi pencemburu rupanya,” tanganmu hendak mengangkat daguku, dengan sigap segera kutepis sentuhan itu.

“Aku perlu penjelasanmu, buka folder itu sekarang!” nada bicaraku mulai meninggi.

“Hei, kita udah limabelas tahun menikah. Kamu jangan seperti anak kecil begitu dongGak ada yang aneh dengan isi laptopku, Sayang. Apa kamu mulai gak percaya lagi padaku, hingga berani membuka dokumen dalam laptopku? Kayaknya kita memiliki komitmen untuk tetap saling menjaga privasi. Kamu mulai nakal ya...!” senyuman di wajahnya tetap mengembang, lalu dia mencoba merangkulku.

Segera kutahan rangkulan tangan kekar itu. Rasanya bersentuhan dengannya mulai menjijikkan setelah kulihat foto-foto tadi. “Jangan coba merayuku, siapa perempuan muda yang bermesraan denganmu di foto itu?” saat ini aku mulai kehabisan rasa sabar. “Siapa perempuan yang kau nikahi siri itu?” emosi dan kepedihanku mulai meledak. Suaraku memberat, badanku limbung, setengah terisak aku melemparkan tubuhku ke sofa. Dia mendekat dan duduk di sebelahku.

Entah kekuatan dari mana yang menguasai diriku, sehingga aku sanggup bangkit dan segera duduk dengan ‘menjaga posisi hebat’ untuk tetap bisa menguasai keadaan yang sangat sulit ini. “Siapa dia?” tanyaku, dalam suara parau.

“Maafkan aku...,” hanya kalimat itu yang meluncur dari mulutnya. Dia lalu menarik napas panjang, dan sesekali menoleh ke arahku. “Dia bernama Cindy...,” sebuah jawaban yang kutunggu.

“Pelacur dari mana?” tanyaku sengit.

Raut wajahmu mulai berubah kala berujar tegas, “Dia bukan pelacur, aku mencintainya!”

Pernyataan terakhirmu itu sangat menyakitkan hatiku. Kamu tiba-tiba menjadi sangat asing bagiku. Tidakkah dalam limabelas tahun pernikahan ini kamu tidak pernah menyebut atau memuji wanita lain, selain aku dan ibumu? Sekarang kau mengatakan bahwa kau mencintai perempuan itu... oh, Tuhan, mengapa tidak kau katakan bahwa kau hanya menginginkannya, bukan mencintainya?

“Di mana dia sekarang?” tanyaku selanjutnya.

“Dia tinggal di sebuah apartemen kontrakan. Kami sudah menikah 5 bulan yang lalu,” Seluruh kalimat itu meluncur begitu lancar dan deras mengalir menyakiti setiap relung hatiku.

Aku menggigit bibirku, terasa sakit, berarti apa yang kudengar ini bukan sebuah mimpi. “Kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita ya, sehingga kamu berpaling dariku?” pertanyaan konyol itu datang begitu saja di otakku.

“Semua berjalan tidak bisa kuprediksi, prosesnya mengalir secara alami. Hanya masalah waktu saja sehingga aku belum bisa berterus-terang kepadamu,” jawabnya, seolah-olah mengadu padaku.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” aku terus mencari jawaban akan apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku bahagia denganmu, tapi dia datang menawarkan pesona lain bagiku,” kejujuranmu begitu membuatku terpuruk.

“Ya pasti dengan pesona lain! Dia berumur 20-an, sedangkan aku wanita 40 tahun yang sudah keriput dan tak menarik lagi bagimu. Tapi perlu kau ingat  aku bukan sebuah barang yang harus kau banding-bandingkan,” keluhku dengan nada begitu marah.

“Aku tidak akan membandingkanmu dengan siapapun, tapi aku jujur jika aku mencintainya,” jawabnya, tandas.

“Jika kau mencintainya, pergilah kau dari hidup kami. Tinggalkan aku dan anak-anak,” jawabku, sambil memalingkan wajah darinya, agar dia tidak tahu bahwa aku sedang menangis dan tak mengharap perpisahan yang menyakitkan ini.

“Ya, aku pikir ini kenyataan terpahit dari pernikahan kita. Tapi aku telah memilih dan kau telah memutuskan. Baiklah aku akan mengurus semua perceraian kita. Anak-anak tetap hakmu, kamu tak perlu khawatir kehilangan mereka. Biarlah mereka tahu seiring waktu,” jawabnya, sambil bangkit dan segera meninggalkanku, menuju kamar tidur.

Terdengar berderit bunyi pintu lemari pakaian yang dibuka, dan lalu ditutup kembali. Mungkin kamu akan mengambil baju-baju yang kamu perlukan untuk memulai hidup baru dengan perempuan muda itu. Hatiku teriris, air mataku membuncah, benteng pertahanan ketegaranku ambruk. Begitu kejam dia meninggalkan kami, hanya demi seseorang yang belum tentu mampu memberikan kebahagiaan dalam keterbatasan seperti saat kami mulai membangun rumah tangga ini.

Tanpa menoleh sedikit pun kamu meninggalkanku, anak-anak, rumah penuh kenangan ini, dan sejuta kenangan lainnya dalam setiap sudut hati ini. Jika saat itu aku bisa protes dan mencegah semuanya terjadi, maka hal itu pasti kulakukan. Tapi hidup bukanlah sebuah episode yang bisa kubuat sesuai keinginanku, aku harus menerima kenyataan pahit, yaitu suamiku meninggalkanku demi perempuan lain. Saat itu aku rapuh, rasanya tiada lagi kekuatan jiwa dalam menemukan hari esok, tapi kehidupan memberikan proses pembelajaran berikutnya.

Kini, 6 bulan kemudian, laki-laki itu tersungkur setengah bersujud di hadapanku sembari berkata, “Maafkan aku, aku telah meninggalkan kamu dan anak-anak. Dan kini aku telah berpisah dengannya untuk dapat kembali dalam rengkuhan kalian. Adakah kamu masih bisa mempercayaiku?” tanyanya, setengah memohon.

Aku tidak bergeming sedikit pun. Rasanya, saat itu aku ingin berkata dan membalas semua rasa sakit yang dulu kau berikan kepadaku. Tapi aku tidak ingin melukai siapa pun, apalagi kepada ayah dari anak-anakku. “Ada apa dengan perempuan itu hingga kau meninggalkannya?” tanyaku, masih dalam kalimat datar.

“Aku tak bisa berkata apa pun tentang dia, tapi aku hanya ingin menangguhkan perceraian kita, karena aku ingin kembali pada kalian,” jawabnya, memelas.

Aku menarik napas panjang. Tuhan... jawaban apa yang harus kuberikan padanya? Saat ini aku telah memilih fokus dengan anak-anak, aku tidak mau menanamkan kebencian pada mereka tentang ayah mereka, meski tidak terlalu banyak perubahan dengan kebencian yang kurasakan padanya. Aku hanya berusaha ikhlas dengan segala kenyataan ini.

“Anak-anak memang memerlukan figur ayah dalam perkembangan jiwanya, tapi aku tidak mau menjadikan anak-anak sebagai alasan untuk tetap berumah tangga denganmu. Aku sudah menata kehidupanku saat ini. Bagaimana pun, aku tahu bahwa hal ini tidak disukai-Nya, tapi setidaknya aku telah jujur akan kehidupanku saat ini,” aku menjawab dengan pandangan lurus ke depan.

Laki-laki itu, lalu menggeserkan posisinya ke arahku, dan berusaha memberi keyakinan kepadaku, tapi aku tetap tak bergeming. Dan aku tahu, bahwa sebuah keteguhan hati diperlukan untuk mencegah diriku terjatuh pada kondisi yang sama, aku tidak akan menutup aksesnya untuk tetap menjadi ayah bagi anak-anakku, tapi aku akan menatap masa depan ini tanpa terbebani perasaan sebagai istrinya. Lalu aku beranjak pergi, dan meninggalkannya seorang diri. Tak lama kemudian, terdengar suara gurauannya dengan anak-anakku membahana di ruangan itu, aku tersenyum diam-diam di kejauhan. Kepedihan menyelinap dalam lorong kesendirian hatiku.


 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Comments  

 
#3 feby 2011-05-12 11:20
arrrggggghhh.. benci beet deh sama tokoh laki2 itu, pengen kupancung hidup2 klo bisa. Emang bisa ya seenak perutnya menikahi & menceraikan perempuan, semoga tdk ada laki2 itu seperti itu di dunia ini. (cerpennya menggelitik mba ida, hampir terbawa emosi bacanya ckckckkckckccc lanjutkan!!!)
Quote
 
 
#2 yessie rahman 2011-05-10 13:55
like it...di tnggu kryamu brikuynya ....
Quote
 
 
#1 yunia KM 2011-05-10 10:06
Laki-laki yang begitu egois..semoga qta dijauhkan dari sifat yg demikian..(Bikin lg dek cerpen yg lain..salut deh ma karyamu:))
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh