Ilustrasi: Tony G.
Cinta kasih yang kubina selama dua tahun bersama Iwan berakhir dengan menyedihkan setelah pertengkaran malam itu. Masing-masing memegang kebenaran prinsipnya sehingga tak ada yang mau mengalah, kali ini tidak. Aku merasa di pihak yang benar. Ya, apa salahku? Iwan terlalu egois. Dia lebih mementingkan diri sendiri tanpa mau melihat kepentingan orang lain.
Meski gemuruh di dadaku begitu hebat, tapi aku terlalu congkak untuk menangis didepannya. Tak ada yang dapat kuperbuat selain menerima kenyataan dengan tabah. Mungkin perpisahan jalan terbaik.
“Kayaknya kamu udah nyaman dengan kesibukanmu dibanding dengan aku,” katanya.
“Kok, kamu ngomongnya gitu sih!” aku memberi penjelasan.
“Terus, kalau kamu kerja, aku dicuekin gitu?” potong Iwan.
“Wan, aku kan sedang dalam taraf percoban, dalam taraf pengenalan lingkungan baru, yang otomatis waktuku habis untuk itu,” tegasku.
“Tapi kan enggak 24 jam!”
“Tapi, kita kan masih bisa ketemuan di kampus.”
“Kamu ingin menyamakan aku dengan teman-teman yang lain? Terus, apa bedanya aku?”
“Wan, bukan begitu maksudku.” Darahku nyaris naik ke kepala. Kesabaranku pun hampir lenyap.
“Apa pun alasannya aku tak dapat menerima. Aku nggak suka kamu berperan ganda seperti ini, kerja dan kuliah! Inget, nilai kamu semester kemarin anjlok! Terus, semester depan kamu kan harus skripsi, katanya nggak mau ngerasain bangku kuliahan lebih lama lagi. Udah deh, pilih salah satu aja! Apalagi kamu milih kerja sebagai wartawan, waktunya kan nggak menentu!” celotehnya. Aku menarik napas.
“Kok, kamu jadi bawel kayak gitu sih? Bapakku aja nggak seperti kamu! Ah, udah deh, kita memang udah nggak cocok, lebih baik kita putus saja, capek pacaran ama kamu!” tandasku akhirnya. Iwan kaget, menatapku tajam. Dan, sebelum aku menjilat ludahku kembali dan menarik kalimat terakhirku karena aku selalu tak tega melihat kilatan-kilatan cinta di bola matanya, aku segera membalikan tubuh dan pergi meninggalkannya.
***
Tas punggung baru saja kuletakan di meja kerja, ketika Budi mendekatiku.
“Muka kamu sembab banget, kenapa, Nik?”
“Masak sih?” aku gelagapan.
“Nggak abis nonton film India kan?”
Aku mencoba senyum, “Ada apa? Mau ngasih tugas?”
Budi garuk-garuk kepala.
“Kamu kan suka Benny Likumahua Project, tuh ada tiketnya, dua!”
Aku langsung terperanjat, senang!
“Asyiikkkk, nanti malam ya?”
“Iya! Tapi, nontonnya sama aku ya?"
Aku langsung tak bersemangat.
“Lho, bukannya ama Irfan?"
“Irfan kukasih liputan yang lain, sekali-kali nonton sama aku nggak apa-apa kan?"
Aku memang suka sama shownya Benny Likumahua Project. Setiap pertunjukannya, aku tak pernah absen. Tapi, nonton sama Budi, aduuuhhh… males banget!
“Oke, aku jemput kamu di kampus?” tandas Budi akhirnya sambil membalikan tubuh, aku kaget, “Tapi, Bud….”
“Kenapa?"
Budi menatapku tajam, aku tak berani menjelaskan, akhirnya hanya menggelengkan kepala.
“Nggak! Oke, jam tujuh!"
***
Seharusnya aksi BLP malam ini menyita seluruh perhatianku, karena performance Benny luar biasa. Applause penonton untuknya pun luar biasa. Tapi, entah kenapa hampir seluruh isi kepalaku dirasuki bayang Iwan. Kira-kira, dia lagi ngapain ya? Mungkin jemarinya sedang menari di atas tuts piano, menyenandungkan lagu-lagu klasik kesukaannya. Dia memang pencinta lagu-lagu klasik, berbanding terbalik dengan aku yang lebih suka musik yang kaya ekspresi.
Hm… seharusnya malam ini sangat indah bila Iwan di sisiku. Seperti malam-malam yang lalu bila kami menikmati acara seperti ini.
“Nik,” sebuah suara mengejutkanku. Aku baru sadar, di sampingku ada Budi.
“Kau melamun?” tanyanya.
Aku menggeleng
“Aksi panggung Benny malam ini kamu buat headline ya di rubrik musik kita?” kata Budi lagi, yang langsung kusetujui. Baru kusadari, pertunjukan musik akan berakhir. Ya ampun, sudah berapa lama aku melamun? Mampus! Aku harus nulis apa nih? Mendadak, aku panik!
Budi hendak mengantarkan aku pulang, tapi kutolak dengan halus.
“Sudah malam sekali, Nik. Udah nggak ada angkot,” katanya.
“Taksi masih banyak,” kataku.
“Tapi kamu sendirian.”
“Tenang Bud, yang punya Jakarta kan aku, he he he,” ujarku pura-pura berani. Padahal dalam hati aku merasa ngeri juga.
“Kamu malu ya, boncengan dengan aku.” Budi nampak tersinggung.
“Bukan, begitu, Bud. Aku nggak mau menggantungkan diri pada orang lain. Aku ingin belajar mandiri.” Aku melangkah ke pintu gerbang yang telah dipadati oleh kendaraan. Kucoba berani menembus pekatnya malam. Sebuah taksi kosong tak lama melintas di depanku. Rasa syukur kupanjatkan pada Tuhan.
***
Jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul tiga lewat lima belas menit. Aku sudah terlambat seperempat jam untuk mengikuti kuliah Pak Bakri. Untung dosen tua yang penyabar ini tak banyak omong terhadap mahasiswa yang terlambat datang, sehingga aku bisa masuk ke ruangan dengan tenang.
Sepasang mata menatapku tak senang dari bangku nomor dua di belakang. Sebuah rindu yang kupendam selama seminggu karena tak pernah bertemu dengannya, langsung buyar oleh tatapannya yang sinis. Baru kusadari dia bukan milikku lagi. Dia bukan Iwan yang sering kugayuti tangannya bila kami berjumpa.
“Nik, sudah siap belum menghadapi ulangan Sosiologi Komunikasi?” tanya Hendar mengejutkanku.
“Ujian? Kapan?”
“Besok.”
Aku terpaku. Gila! Nggak masuk beberapa hari udah lost informasi!.
“Gila, aku nggak siap! Pinjem catatan kamu dong?”
“Nggak bawa! Kan, hari ini nggak ada kuliah soskom,” jawaban Hendar melemahkan persendianku. Akhirnya konsentrasiku pada penerangan Pak Bakri tentang Ketahanan Nasional, buyar. Aku sibuk nyari catatan Sosiologi Komunikasi untuk difoto kopi. Mati aku! Nggak ada yang bawa! Duh, nyari kemana lagi ya? Nggak mungkin kan minjem Iwan, dia pasti catatannya lengkap! Tapi, kalau minjem ke dia, sama juga nyodorin muka malu! Huh!
***
Ulangan Sosiologi berhasil kuatasi dengan baik. Soalnya mudah saja, hanya berkisar pada pelajaran yang ada di catatan saja. Yang penting bisa menghapal, pasti bisa menjawabnya. Ilmu sosial lebih mengutamakan kemampuan menghapal.
Namun belum selesai aku menarik nafas lega, tiba-tiba aku dikejutkan oleh ucapan Dani.
“Ujian? Etika Pers ujian hari ini?” jantungku nyaris copot karena terkejut. Dani mengangguk. Mati aku! Tuhan, aku harus berbuat apa? Aku kan beberapa kali nggak ngikuti kuliahnya. Aku harus berbuat apa?
“Dan, aku belum menghapal sama sekali. Kamu duduk di depanku, ya?” pintaku pada cowok itu.
“Pasti belom belajar lagi?”
“Iya! Plis help me yaa….” aku memohon pada Dani.
“Sibuk terus sih,” sindir Dani. Tapi aku tidak peduli.
“Tolong ya, Dan, sekali ini saja.”
Dani mengangguk dengan berat. Si pintar ini memang terkenal pelit. Meski dia sudah menganggukkan kepala tapi aku tidak yakin dia akan memberi tahu jawaban soal. Sebab, dia tak pernah termakan rayuan, meski yang melakukannya seorang cewek cantik sekalipun.
Dugaanku tak meleset. Dani yang semula duduk di depanku langsung berpindah tempat dengan alasan banyak angin duduk dekat jendela. Darahku seakan berhenti mengalir mendengarnya!
Bangku kosong di depanku tiba-tiba diisi seseorang. Aku terkejut melihat Iwan yang duduk di situ. Konsentrasiku makin buyar. Jantungku makin berdebar tak karuan. Aneh, padahal antara aku dan dia tak ada tali penghubung lagi.
Soal yang berjumlah sepuluh buah nyaris membuat kepalaku pecah. Hanya dua soal yang mampu kujawab, tapi itu pun masih dalam tanda tanya, benar atau tidak. Kulirik Iwan yang tengah asyik merangkai kalimat di atas kertas ujian. Dia pasti bisa. Aku kalah kali ini. Oh, tidak. Aku tidak boleh kalah.
Aku mencoba melirik ke arah bangku di sebelah kananku. Cowok berkaca mata itu nampak berhasil menjawab soal-soal itu kecuali aku. Aku makin kehilangan keseimbangan. Kepalaku pusing. Semua pasti bisa menjawab soal-soal itu kecuali aku. Aku menyesal mengapa minggu lalu tak hadir di kampus, tapi lebih mementingkan undangan konprensi pers pertunjukan musik. Kalau sudah begini tak ada lagi yang patut disesalkan.
Nuri, gadis manis yang duduk di sebelah Iwan, nampak asyik menyalin jawaban yang ada di kertas ulangan Iwan. Darahku serasa mendidih. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung angkat kaki dan berlalu. Aku tahu kalau semua mata memandang ke arahku dan sebagian dari mereka berdecak kagum. Mereka mengira aku berhasil menumpas habis soal-soal itu.
***
“Kamu ada berita, Nik?” tanya Pak Rawi, Redaktur Pelaksanaku, ketika dilihatnya aku masih juga mengetik padahal jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
“Ada, Pak. Halaman dua masih kosong, Pak?” tanyaku.
“Masih cukup untuk dua berita. Tapi kalau bisa, beritamu itu dibuat setengah halaman saja, sebab ada berita penting yang harus dimuat juga,” jawab Pak Rawi yang selalu berbaik hati padaku. Aku merasa lega karena pekerjaanku tidak sia-sia.
“Kenapa nggak dari tadi ngerjainnya”
“Saya harus kuliah sore dulu, Pak.”
“Kalau begitu kamu buat secepatnya, ya? Sebentar lagi dead line,”kata Pak Rawi lagi mengingatkanku. Aku hanya mengangguk.
Pekerjaan selesai dalam waktu setengah jam. Tanpa pikir panjang lagi aku segera ke luar ruangan.
“Nik, tunggu....” Suara Budi menghentikan langkahku. “Kita pulang sama-sama, ya?” katanya lagi. Aku tak mengelak.
“Kok belum pulang, Bud?”
“Kan menunggu kamu,” jawab Budi tenang, namun membuatku tak enak.
Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara. Pikiranku masih kacau. Untung Budi bukan tipe cowok pendiam, sehingga kesunyian dapat teratasi. Dia banyak bercerita tentang dunia wartawan, yang sebenarnya menarik untuk kusimak. Tapi dalam keadaan begini, konsentrasiku tak bisa menyatu.
“Kelihatannya kamu lesu sekali, Nik. Belum makan, ya? Kita makan, yuk!” ajak Budi.
“Oh, terima kasih, Bud. Aku sudah makan. Aku nggak apa-apa kok,” elakku.
“Kalau begitu, malam ini aku boleh mampir ke rumahmu kan?”
Aku diam. Sudah sering aku menolak Budi yang ingin mampir ke rumahku. Kalau kali ini aku tolak juga, marah nggak ya?
“Masih belum boleh? Mau belajar ya?”
“Nggak juga sih! Ya udah, mampir aja!” kataku akhirnya.
***
Malam telah larut. Rembulan telah menampakkan seluruh tubuhnya. Jam di dinding menunjukkan angka sebelas lewat sepuluh menit. Sebenarnya hari ini aku teramat letih setelah seharian berlari ke sana ke mari mengejar tugas dan kuliah. Namun istirahat yang semula kuharap akan menumpas keletihan itu, tak juga bisa kunikmati. Hampir dua jam aku terbaring, tak sedikit pun rasa kantuk datang. Bayang Iwan selalu menghantui pikiranku. Hampir dua minggu aku tak melihatnya karena sudah dua minggu ini aku sibuk dengan kerjaan kantor!
Kali ini mungkin aku harus membenarkan kata-kata Iwan, bahwa kuliah sambil kerja adalah hal yang sulit. Pasti salah satu ada yang gagal.
Iwan. Sebenarnya dia baik, sayang dan penuh perhatian padaku. Kuakui, memang aku yang teramat sibuk selama ini sehingga perhatianku untuknya berkurang. Padahal sebagai seorang pacar, dia tentu mengharapkan perhatian yang istimewa dari orang yang dicintainya.
Belum bisa aku melupakan bagaimana Iwan dengan sabar menungguku di rumah sampai jam sembilan malam, sementara aku masih berada entah dimana. Padahal malam itu malam minggu! Dia juga dengan sabar mengantarku ke kantor usai pulang kuliah hanya karena malam itu aku harus menurunkan naskah yang kudapat di siang hari. Dan, Iwan juga tak jarang harus menemaniku meliput sebuah acara sampai larut malam.
Aku pun masih ingat ketika Iwan mengajakku nonton. Seminggu sebelumnya aku menyanggupi tawaran itu. Namun di luar dugaanku, tiba-tiba Syahrial, wartawan yang biasa meliput acara kesenian, memberiku tugas ke TIM untuk meliput Festival Tari Kreasi Baru. Aku terpaksa membatalkan reancanaku bersama Iwan. Kulihat rona merah menjalar di wajahnya ketika mendengar keputusanku itu.
“Aku tak bisa mengelak, Wan. Ini tugas,” jelasku padanya.
“Tugas, tugas. Memang kamu tidak bisa menghindari tugas itu? Dia saja bisa meninggalkan tugas utamanya, kenapa kamu tidak bisa? Bilang saja kamu punya tugas lain. Lagipula itu kan bukan bidang kamu?” bentak Iwan.
“Istrinya sedang sakit, itu yang menyebabkan dia tak bisa menjalankan tugasnya.”
“Tapi kan di sana wartawannya bukan kamu saja. Kenapa tidak menugaskan pada yang lain?”
“Kebetulan yang dia temui di kantor hanya aku.”
“Seharusnya kamu yang menyerahkannya pada orang lain,” suara Iwan makin tinggi, membuat kesabaranku hilang.
“Aku tak bisa memberikan tugas yang telah dipercayakan padaku kepada orang lain. Bagaimana perasaan dia bila tahu tugas itu telah kualihkan pula?” tanyaku dengan nada yang mulai tinggi.
“Kamu bisa mengerti perasaan dia, tapi kamu tidak mengerti perasaanku. Kalau begitu kamu lebih mementingkan orang lain daripada aku!”
aku terkesiap mendengar kalimat Iwan. “Terserah padamu. Yang jelas aku tak bisa menemanimu nonton malam ini. Aku harus menjalankan tugas,” aku beranjak meninggalkannya. Aku mengerti perasaan Iwan yang kecewa, tapi aku juga tak bisa meninggalkan tugas.
Mungkin sudah saatnya aku harus menyatukan kembali pikiranku pada satu bidang kuliah, tanpa dibebani kegiatan lain. Sehingga aku dapat berkonsentrasi penuh pada pelajaran, dan dapat memperhatikan Iwan dengan baik. Memperhatikan Iwan? Hei, sudah gilakah aku? Bukankah Iwan telah pergi dariku? Dia kan bukan milikku lagi. Oh, betapa sepi hidup ini tanpa kasih sayangnya. Hidup seperti mesin tanpa cintanya. Mungkinkah Iwan mau kembali padaku? Rasanya itu hanya mimpi tak berujung. Iwan pasti telah terlena dengan cewek lain. Aku pernah melihatnya akrab dengan Nuri. Kalau mereka menjalin cinta, harapanku benar-benar hancur.
***
Budi menghampiriku ketika aku mengetik. Dia menatapku dengan sinar mata yang sulit kuterka.
“Ada apa, Bud?” tanyaku berusaha sewajar mungkin.
Dia diam. Ekor matanya yang tajam, membuatku tak sanggup menatapnya lebih lama.
“Ada yang ingin aku katakan padamu,” katanya pelan.
“Kayak lagi main sinetron aja, ngomong apaan sih?”
“Tapi, jangan di sini!”
“Kamu liat kan, aku lagi sibuk, jadi kalau mau ngomong di sini aja,” aku tetap cuek.
“Waktu setengah jam tak cukup untuk ngomong, Nik.”
“Ha? Emang kamu mau ngomong apaan sih?”
Budi menatapku tajam, aku yakin dia tidak lagi bercanda.
“Kalau begitu lain waktu saja kita ngomong, ya?” kataku akhirnya.
Budi mengangguk dan meninggalkanku. Aku merasa lega, tapi konsentrasiku untuk membuat tulisan sudah lenyap!
Kuliah Kewiraan sedang berlangsung ketika aku tiba di kampus. Aku terlambat lima menit. Rupanya Pak Bakri sedang membagikan paper, yang aku sendiri tak tahu paper apa itu. Kuteliti paper yang telah tersusun rapi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Duh, siapa yang telah membuatnya untukku? Sekali lagi, kuteliti paper yang sudah terjilid rapi itu. Aku seperti mengenal font-font ini Tapi, mungkinkah Iwan telah membuatkannya untukku?
Aku berhasil melirik Iwan yang sedang menekuni catatannya di bangku belakang. Agak ragu untuk mendekatinya. Ah, siapa tahu bukan kerjaanya ! Nanti, aku dikira ge-er lagi!
***
“Aku mencintaimu, Nik” ujar Budi bagai petir menyambar di siang bolong. Aku kaget! Dugaanku selama ini tidak meleset.
“Aku serius, Nik. Aku mencintaimu,” dia meyakinkanku. Aku menjadi kalut. “Kamu mau menerimanya kan?” Budi penuh harap.
“Budi, aku menyukaimu sebagai teman dalam tugas. Lain dari itu tidak,” kataku tegas. Kulihat sinar yang tadi terpancar dari wajahnya padam.
“Tapi aku mencintaimu dengan setulus hati,” Budi memaksakan kalimatnya.
“Lebih baik kita bersahabat, Bud. Bukankah persahabatan lebih baik daripada cinta?”
“Tapi, aku mau kamu jadi pacarku.”
“Tapi, aku… aku lebih senang kamu jadi sahabatku aja!” kataku akhirnya. Aku jadi gelisah, ”Bud, udah malem, aku pulang dulu ya?”
Rasa takut mendadak menghantuiku, aku segera meninggalkannya dan berharap taksi lewat agar aku tak berlama-lama dekat dengan Budi.
Gerimis perlahan turun. Langkahku terhenti pada sebuah pos penjagaan. Taksi yang lewat, tak satu pun ada yang kosong. Hujan makin lebat. Aku kebingungan mencari tempat berteduh. Rasanya saat ini aku benar-benar mengharapkan pertolongan seseorang. Sayang, Budi yang semula hendak mengantarku, bermaksud lain. Kalau tidak, tentu aku tak tenggelam dalam kesulitan seperti ini.
Rasanya aku belum gila untuk menerima cinta Budi. Hatiku masih terpenjara oleh Iwan. Cowok itu masih kuharapkan kehadirannya di hatiku.
“Menunggu siapa, Nik?” sebuah suara mengejutkanku.
Aku menoleh ke belakang. Seorang cowok dalam keadaan basah kuyup berdiri tak jauh dariku. Aku begitu terkejut ketika menyadari dialah cowok yang selalu menghantuiku selama ini. Cowok yang tak pernah lepas dari hatiku.
“Kamu....” aku tergagap.
“Ya, aku, kamu nunggu siapa?” ucapnya seperti berbisik. “Udah malem begini, kok sendiri sih, ayo kuantar pulang,” sambungnya seraya membimbing tanganku ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ. Aku seperti dihipnotis untuk mengikuti langkahnya.
“Sejak tadi aku melihatmu,” kata Iwan setelah kami berdiam diri cukup lama, “kamu masih marah padaku?”
Kepalaku tiba-tiba saja menggeleng. “Terus terang, aku tak bisa melupakanmu. Aku menyesali sikapku waktu itu. Aku memang egois,” ucapnya lagi.
“Nggak, Wan. Akulah yang salah. Aku yang egois. Kata-katamu benar. Kuliahku sekarang terlantar dan kondisi tubuhku pun menurun,” kataku jujur.
“Tindakanmu sebenarnya cukup bagus, Nik. Tinggal bagaimana cara kamu membagi waktu dengan baik,” balas Iwan tenang.
“Nggak, Wan. Aku udah ambil keputusan untuk menghentikan kegiatanku di luar kampus. Aku akan memikirkan kuliahku dulu, setelah itu aku akan menekuni kembali bidangku ini. Aku sadar kuliahku sudah tertinggal jauh sekali,” agak tersendat kalimat itu keluar dari kerongkonganku. Iwan menatapku sejenak.
“Itu juga tindakan bagus. Tapi kamu jangan meninggalkan kegiatan tulis-menulis. Teruslah menulis di waktu senggang.”
Nasehat Iwan membuatku terpaku. Rasanya sudah lama sekali aku tak meneguk nasehatnya.
“Wan, kamu yang membuatkan paper untukku, ya?”
Iwan mengangguk. “Aku tak mau nilaimu turun hanya karena paper. Aku ingin kamu lulus tanpa hutang.”
“Tapi kamu bukan membantu aku kalau begitu. Justru menguburku.”
“Asal jangan keterusan saja, maunya dibuatkan terus,” katanya setengah bercanda. Aku tersenyum. Tiba-tiba timbul keraguan di hatiku.
“Wan, kenapa kamu masih memperhatikan aku, padahal kamu sudah aku maki-maki?” tanyaku.
“Nggak tau juga ya? Mungkin karena kamu pake ilmu jampi-jampi ya? Jadi aku lengket terus ke kamu!” katanya membuat mataku terbelalak.
“Kurang ajar, kamu mau nuduh aku melet kamu, gitu?”
“Bener kan?”
“Ha? Iwaaan… kamu jahat!”
“Iya juga nggak apa-apa kok! Cintaku emang mentok ama kamu sih!”
Aku bermaksud memukul dadanya, tapi dia segera menangkap tanganku dan berkata, ”Cepetan masuk mobil, nggak mau kan kesamber geledek berdua?”
Iwan langsung menarik tanganku menuju mobilnya. Aku ikut! Saat bersamaan hujan pun reda!