Ilustrasi: Thamrin MahesaraniDua bulan sudah usia pernikahan ini, itu pun berasa sangat lama bagiku. Rumah berukuran 90 meter persegi yang kami tinggali ini pun terasa terlalu luas, rasanya pernikahan ini pun tak jua mampu menyatukan kami.
Ketika melihat jam menunjukkan pukul enam pagi segera aku bergegas keluar kamar, menuju pantry untuk menyiapkan sarapan. Namun ternyata, dia telah berada di sana lengkap dengan sereal dan susu hangat yang telah ia siapkan sendiri. Ya, seringnya dia berlaku demikian untuk waktu sarapan yang selama ini telah kami lalui.
“Maaf, terlambat bangun, nih,” aku mulai berbasa-basi.
“Ya enggak apa-apa, gimana tidurmu nyenyak kan?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya terhadap koran yang sedang dibacanya.
“Ya, lumayanlah. Kayaknya aku harus mulai cari kegiatan di luar rumah deh,” aku mulai berani mengemukakan ide.
“Silakan saja, aku enggak bakal melarang kamu beraktivitas di luar rumah kok,” jawabnya tandas.
“Maksudku bukan berarti aku bosan dengan kegiatan di rumah, tapi aku hanya ingin melihat dunia luar saja," aku pun mulai memberikan alasan.
“Ya, aku tahu. Lakukan apa yang kamu suka, aku enggak akan melarang,” jawabnya.
“Ya, tapi kamu kan suamiku. Kamu berhak kok melarang jika kamu keberatan,” kalimat yang begitu lancar mewakili perasaanku.
“Rasanya perlu ku ingatkan sekali lagi, aku akan memperlakukanmu sebagai istri jika memang aku telah mencintaimu. Dan kini aku belum sampai ke tahap itu, mungkin tergantung usahamu,” pernyataan kalimat itu selalu dia ucapkan untuk menegaskan kondisi kami saat ini.
Selanjutnya aku hanya diam, rasanya nafsu makanku pun langsung menghilang.
Pernikahan ini terbangun dari ikatan persahabatan orangtua kami. Sebuah tawaran, keinginan, dan harapan orangtua yang pastinya sulit kutolak. Tapi diluar semua pengorbananku, aku pikir “cinta” itu akan datang seiring pernikahan ini. Ternyata suamiku pun merasa telah mengorbankan perasaannya untuk menikah denganku sesuai keinginan orang tuanya, tapi kondisi ini sangat beda baginya. Suamiku tetap memperlakukanku baik, tapi tidak memposisikan aku sebagai istrinya. Bayangkan, hingga dua bulan pernikahan ini kami masih tidur secara terpisah. Jangankan untuk menyentuhku, menatapku dengan lembut pun tak pernah ia lakukan. Terkadang semua keperluannya ia siapkan sendiri seolah ia tidak memberi ruang bagiku untuk mengabdi padanya. Tapi ini adalah pernikahan, dan aku ingin menjadikan semua ini sebagai mahligai.
Agak terkejut aku ketika ia tiba-tiba duduk di sebelahku sambil memberikan secarik kertas semacam undangan kayaknya. “Minggu depan perusahaan mau ngadain acara gathering di Puncak, kamu harus ikut biar kamu bisa berinteraksi di dunia luar seperti yang kamu kemukakan tadi,” ujarnya sambil menyerahkan undangan itu.
“Apa yang harus kusiapkan?” tanyaku serius.
“Tak ada, paling siap-siap aja kamu tidur sekamar denganku di malam gathering itu,” ujarnya.
“Ya memang harusnya demikian kali,” jawabku tandas.
“Walaupun di kamar hotel itu single bed tapi aku bakal tidur di sleeping bag, belum saatnya deh,” jawabnya mengingatkanku.
“Aku mengerti peraturanmu, aku enggak bakal menuntut apapun dari kamu,” kalimatku mulai memelas.
“Baguslah jika kamu udah mengerti,” balasnya dengan bahasa yang pedas.
“Kita emang pasangan suami istri yang aneh, ya,” aku meneruskan kalimatku.
“Bagiku tidak aneh, ini adalah proses,” jawabnya kemudian.
“Baiklah jika memang demikian,” kalimatku mulai tak hirau dengan jawaban-jawabannya yang kadang menyakitkan itu.
Selanjutnya aku bergegas menyibukkan diri di dapur.
Di weekend seperti saat ini memang kami biasa bersama-sama di rumah, tapi biasanya kami melakukan aktivitas secara terpisah. Jika aku sibuk memasak, maka dia akan sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Atau jika aku sibuk berkebun di belakang, dia pun akan sibuk membuka internet walau hanya membuka situs jejaring sosial atau game online. Ketika aku mencoba bergabung melakukan aktivitas bareng dengannya, dia nampak keberatan dan secara halus mengusirku. Tidak indah, sangat tidak indah.
**
Hingga acara gathering pun tiba, dan ada suatu pertemuan antara aku dengan seseorang yang tidak kuduga sebelumnya. “Kamu istrinya Haris?” ujarnya, saat Haris memperkenalkan aku dengan salah satu rekan kerjanya.
“Iya,” jawabku pendek.
“Lho kalian udah saling kenal ya, kenal di mana?” tanya Haris.
“Iya, istrimu dulu satu SMP denganku,” jawabnya.
“Oh begitu, Radit adalah manager marketing di perusahaan, dia baru bergabung dengan perusahaan satu bulan yang lalu. Ternyata kalian sudah saling mengenal rupanya,” ujar Haris, menujukan penjelasan itu padaku.
Dan adrenalin yang kurasakan jauh lebih kencang, karena Radit adalah seseorang yang datang dari masa laluku. Dulu kami satu SMP, tapi ketika kuliah Radit menjadi pacarku, hingga semua terputus dengan sendirinya sebab Radit tiba-tiba menjauh dariku dan benar-benar menghilang dari hidupku. Meski begitu, gugup juga aku ketika tiba-tiba sekarang aku bertemu kembali dengannya, tapi aku mencoba menguasai keadaan ini walau sebenarnya sirat ketidak-nyamanan pasti telah tertangkap dari gerak-gerikku saat itu, yang berdiri hanya berjarak satu meter dari Radit.
“Pintar kamu cari istri ya, Ris. Dia dulu gadis favorit di sekolahan kami. Selain cantik, cerdas, aktif di organisasi, juga pintar berbahasa asing. Tapi sayang, judesnya enggak ketulungan,” Radit berkelakar, dan mencoba bernostalgia.
“Oh ya, aku bener-bener enggak tahu kalau dia, eh, istriku bisa judes,” Haris berujar dan masih kagok ketika harus memanggilku dengan sebutan istriku.
“Wah, aku senang deh, dan turut bahagia dengan kalian. Cepat dapat momongan, Bro, ntar anakmu jago basket kayak istrimu,” Radit kembali menggoda Haris, tapi tatapan matanya masih tak berpaling dariku, sehingga aku kikuk dibuatnya.
“Baiklah, lanjutkan obrolan kalian, aku bergabung dengan ibu-ibu dulu ya,” pamitku, dan aku memutuskan untuk tidak berlama-lama disitu. Kemudian aku memilih bergabung dengan para istri rekan kerja Haris yang lainnya, karena berada diantara Radit dan Haris adalah ketidaknyamanan tersendiri bagiku. Dan selanjutnya, aku tidak mengetahui apa yang Haris dan Radit bicarakan, aku hanya mengamati mereka dari kejauhan.
Ketika Haris menyusulku untuk beristirahat di kamar hotel, tidak seperti biasanya dia begitu serius untuk mengajakku bicara. “Aku tidak suka melihat cara Radit menatapmu,” katanya, dalam nada ketus.
“Memang kenapa?” tanyaku.
“Tidak tahu, tapi sepertinya dulu kalian tidak hanya sebatas teman, ya?” Haris malah balik bertanya.
“Kok bisa kamu menyimpulkan demikian?” aku mulai penasaran dengan kecemburuan Haris.
“Buktinya dia mengenalmu secara personal dengan sangat baik, bahkan dia bilang berteman baik sampai saat kamu studi di perguruan tinggi,” jawab Haris.
“Jika dia orang yang pernah berada di masa laluku, memang kamu cemburu ya?” tanyaku.
“Nah, benar kan dugaanku, dia mantanmu. Bagus, ternyata dunia ini memang sempit, ya,” ujarnya, entah apa maksudnya.
“Tak perlu membicarakan itu lagi, semua yang berada di masa lalu hanyalah kisah yang tidak bisa dicegah ataupun diubah. Aku kan kini istrimu, dan sebenarnya aku sangat menunggu untuk benar-benar menjadi istrimu,” jawabku penuh harap.
Lalu Haris mendekatiku dengan tatapan yang lebih lembut. “Mungkin aku terlalu menutup mata ketika diberi anugerah istri sepertimu, hanya karena aku tidak menyukai cara orangtua kita dalam melakukan perjodohan ini. Aku cemburu pada Radit, ketika dia tak berhenti memujimu, menyanjungmu, padahal kamu selalu kupandang sebelah mata. Orang yang berasal dari masa lalumu pun tak pernah kehilangan pesona yang kamu miliki, mengapa aku selaku suamimu tidak pernah menyadari segala pesona itu. Aku betul-betul bodoh. Maafkan aku, istriku,” jawabnya sambil mendekat ke arahku dan segera mengecup keningku.
“Terima kasih,” jawabku sekaligus berasa melayang ke langit ke tujuh dengan persentuhan itu.
“Dan kamu adalah istriku, takkan kubiarkan laki-laki manapun menggodamu atau menatapmu seperti tatapan Radit tadi”, katanya dengan tatapan yang begitu penuh perasaan.
“Ya ampun aku sampai lupa jika aku adalah istri Harisman Dharma. Kelamaan nunggu sih,” gurauku sembari menggodanya.
“Ya, saat ini aku telah mencapai tahap mencintaimu. Dua bulan adalah waktu yang begitu lama pastinya untuk segala kesabaranmu dan caramu hingga membuatku benar-benar mabuk kepayang. Mulai besok kamu jangan dekat-dekat Radit lagi ya, pokoknya kamu harus menghindar darinya, jangan buat aku cemburu lagi ya,” ujarnya, sembari membelai rambutku, dan selanjutnya aku telah benar-benar menjadi istrinya, istri dari Harisman Dharma.
Malam itu pun menjadi saksi bagaimana sebuah penantian dan doaku yang tak terputus akhirnya dijawab oleh-Nya.
Comments
RSS feed for comments to this post