Ilustrasi: Thamrin Mahesarani
Bagian 06
Lastri bersijingkat masuk dalam kamar Nini, berusaha tak menimbulkan gaduh hingga cucu tirinya tak perlu terjaga. Dalam kamar itu pula ia menemukan Priati tengah duduk merunduk. Wajah dan mata merahnya mendongak terkejut ketika melihatnya.
"Aku terus saja masuk setelah tahu pintu depan tak dikunci," ujar Lastri seperti merasa tak bersalah akan kelancangannya.
"Ya." Priati terangguk, tak terlalu menanggapi. "Kebetulan ibu datang. Saya sedang bersiap untuk menjenguk Bang Hasan, tapi bingung menangani kerewelan Nini." Sambil berkata begitu, Priati bergerak memperbaiki letak selimut yang menutupi tiga perempat tubuh Nini yang kian kedengking. "Koko baru saja saya tidurkan di kamar depan. Tolong ibu jaga Nini ya. Sewaktu-waktu dia bisa terbangun dan mencari saya."
Lastri tersenyum, duduk di pinggir ranjang. "Seharusnya aku memang tak berkeberatan memenuhi permintaanmu. Tapi kamu lupa sekarang hari apa?"
Hari apa? Priati mengamati kalender yang terpasang di dinding kamar. Sederetan angka yang berbaris dalam kertas lebar itu malah membingungkannya.
"Hari Jumat Kliwon, dan kamu ada janji dengan Mbah Kerto." Lastri membimbingnya, menunjuk sebuah angka dan nama hari sekaligus. "Waktu kita ke sana beberapa hari yang lalu, kamu sudah berjanji akan menemuinya di tanggal ini; juga membawa Nini."
"Ah iya." Priati mengusap keningnya yang berpeluh. Berganti-ganti memandangi kalender dan wajah Nini yang tertidur pulas. "Tapi, Nini baru saja tidur...."
"Tak apa. Biar aku gendong dia. Mbah Kerto ingin memeriksa dia sekali lagi." Lastri bergerak tangkas, menjumput selendang.
Priati diam. Menatapi Nini kian dalam. Rasanya ia tak tega mengusik mimpi indah putrinya.
"Bagaimana kalau kita tunggu sampai Nini bangun?" tawarnya mengecilkan suara, sadar jika Nini bisa saja terjaga setiap saat setelah mendengar suara semut sekalipun.
"Jangan. Mbah Kerto kan tak pernah mau membuka prakteknya selepas Magrib."
Kembali Priati termangu. Ia masih juga tak tega mengusik tidur Nini. Namun, di luar, matahari kian rebah ke ufuk barat.
"Ayolah, kita dikejar waktu," Lastri kembali mendesak. "Aku tahu kok bagaimana caranya supaya ia tak terbangun sekalipun ada gempa mendadak."
Dan, Lastri membuktikan ucapannya. Ia langsung memasukkan kain selendang melewati tubuh Nini yang ringkih, tanpa menunggu Priati mengajukan keberatannya kembali. Gerakan Lastri yang demikian luwes, sama sekali tak mengusik keasyikan tidur Nini.
Seketika Priati merasa curiga, dan spontan mengulurkan punggung tangannya ke dekat hidung Nini.
"Shhh... dia masih hidup!" bisik Lastri Lirih, tersenyum melihat kecemasan Priati. "Sebaiknya kamu lihat Koko, siapa tahu dia sudah bangun. Atau kamu ajak saja dia sekalian."
Priati mengangguk, berbalik hendak ke luar kamar.
"Eh, Ti, sebentar." Lastri memanggil kembali, seperti teringat sesuatu. "Coba kamu lihat ada apa dalam tasku itu."
Priati menahan langkahnya. Sesaat ia mengaduk tas dompet Lastri yang tergeletak di meja kecil dalam kamar itu. Sedetik kemudian ia terpekik lirih. Dalam gengamannya, dua buah bantal mungil berwarna hitam mencuat. Di satu sisinya bertuliskan namanya dalam dua bahasa, Arab dan Latin.
"Aku menemukannya di halaman rumah dan di atas pintu masuk tadi," jelas Lastri tanpa diminta.
Sekejap wajah Priati memucat. Dan ia tak mampu berkata apa-apa.
•
Sekali ini Mbah Kerto tak menaburkan wewangian pupur di atas tubuh Nini yang terbaring diam di hadapannya. Namun, nyala kemenyan dan jampi-jampi terus saja dikomat-kamitkannya.
Tanpa kedip, Priati mengamati. Bayang kecemasan dan kegelisahan membias jelas di wajahnya.
Di depannya, Mbah Kerto terus melakukan upacara sakral yang kian mencekam kesuraman gubuk kecil itu. Setiap perubahan ekspresi wajah Mbah Kerto, berarti juga kian bertambahnya kecemasan dalam diri Priati.
Berkali-kali ia menahan napas, mengusap peluh dan mencengkeram jemari Lastri kuat-kuat. Bau kemenyan, kecipak air baskom yang demikian ajaib – beriak dan bergelombang tanpa digerakkan oleh tangan manusia – tak lagi menjadi sesuatu yang asing baginya. Dalam ketegangan yang berlarut, ia tinggal lagi menunggu vonis berikutnya yang hendak dijatuhkan Mbah Kerto pada diri putrinya.
"Bagaimana, Mbah?" Lastri yang segera bertanya begitu Mbah Kerto selesai mengakhiri aksi kleniknya – sementara Priati tak mampu lagi mengerjapkan mata.
"Luar biasa!" geram Mbah Kerto mendesis. "Cengkeramannya terlalu hebat."
"Maksud, Mbah?"
Mbah Kerto tak segera menjawab. Ia merunduk lagi, mengulangi upacara sakralnya. Tubuh Nini yang terbujur lemah, ditayang-tayangkannya dengan kedua tangannya yang bergetar keras.
"Saya kalah, saya kalah...," dengus Mbah Kerto tiba-tiba. Wajahnya membiru. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
"Mbah...?"
Raut muka Mbah Kerto menegang. Kedua matanya nanar.
"Terlambat, Nak," suaranya parau, mengarah pada Priati yang duduk menerawang. "Mbah tak mampu melawannya."
"Jadi...?" Lastri yang kembali bertanya, mewakili keterpanaan Priati.
"Ya, dia harus pergi juga. Itu sudah Mbah ramalkan, juga sudah anak ketahui. Hanya saja...." Mbah Kerto tak meneruskan. Helaan napasnya terdengar berat dan luar biasa sarat.
"Hanya saja apa, Mbah?"
Wajah Mbah Kerto kian menegang, kian memucat. "Hanya saja dia harus pergi dengan cara tidak wajar.... Sebagai tumbal suamimu."
"Tumbal?"
"Ya. Tepat pada hari ulangtahun kelima perkawinan kalian."
Lastri terhuyung, tak mampu lagi menyangga tubuh Priati yang kian memberati pundaknya. (Bersambung)
* Pemenang II Lombang Mengarang Novelet Majalah Pertiwi, 1986