Bugar

Fogging Tak Berarti Tanpa Jumantik

Penilaian Pembaca: / 0
JelekBagus 

Iskandar Bakrie/Firmansyah

Jumat, 12 Februari 2010

Foto: FirmansyahFoto: FirmansyahBanyak pihak yang bertanya-tanya apakah fogging atau pengasapan benar-benar dapat memusnahkan populasi nyamuk di lingkungan sekitar, karena, sebagian besar jenis nyamuk di wilayah tropis seperti Indonesia mengandung virus-virus penyakit yang cukup berbahaya antara lain demam berdarah dan malaria.

Belum lagi kepulan asap tebal yang cukup menganggu warga karena menghambat aktivitas warga di daerah pemukiman di mana fogging sedang dilaksanakan, ataupun sisa asap yang meninggalkan cairan lengket seperti minyak yang menempel di lantai ataupun perabotan rumah tangga yang bersentuhan langsung dengan makanan.

Foto: FirmansyahFoto: Firmansyah"Saya kurang begitu tahu bahan-bahan apa yang dipakai untuk campuran minyak ini, karena dirigen-dirigen ini sudah di 'oplos' dari kelurahan, kalau gak salah pakai solar segala," ujar Ferdi salah satu petugas fogging yang tengah melakukan fogging di RW06 Pancoran Barat Jakarta Selatan.

Foto: FirmansyahFoto: FirmansyahBanyak argument menyatakan, kabut asap yang mengandung gas karbon monoksida ini merupakan campuran air, solar dengan minyak tanah atau oli bahkan seringkali menggunakan oli-oli bekas. Bahkan, dalam beberapa kasus, petugas lapangan berinisiatif menambah pestisida tertentu.

Foto: FirmansyahFoto: FirmansyahKabut yang beresiko mengganggu kesehatan tubuh bagian dalam tersebut, bukanlah suatu masalah pertama yang perlu dikhawatirkan, karena campuran-campuran tersebut memang terbukti ampuh membasmi nyamuk-nyamuk dewasa.

Masalah utama yang perlu dikhawatirkan adalah, kabut-kabut tersebut tidaklah berpengaruh banyak ketika terkena air, tempat di mana nyamuk-nyamuk itu bertelur. Sehingga, dalam jangka waktu tiga hingga empat hari mendatang, generasi-generasi baru nyamuk sudah siap beredar dan kembali menghantui warga.

Foto: FirmansyahFoto: FirmansyahDi sinilah peran jumantik (juru pemantau jentik) sangat dibutuhkan, karena memutus mata rantai habitat nyamuk merupakan upaya paling efektif dalam mengoptimalkan program PSN (Pembasmian Sarang Nyamuk) selain fogging. Jadi, jumantik dan fogging merupakan dua kegiatan yang harus berjalan selaras dan dilakukan secara bergantian karena kedua hal itu sangatlah penting dalam menanggulangi penyakit-penyakit endemic di Indonesia yang banyak disebabkan oleh nyamuk.

Walaupun demikian, tetap saja mencegah lebih baik daripada mengobati, dengan kata lain peran aktif masyarakat dalam mencegah berkembangbiaknya nyamuk merupakan cara yang paling efektif dan efisien menanggulanginya, antara lain dengan metode 3-M (menguras, menutup dan mengubur) dan dimulai dari lingkungan skala keluarga.

 
Share to Facebook Share to Twitter Email the article

Add comment


Security code
Refresh