Foto : Firmansyah/TNOLSAAT INI, bisa dikatakan banyak pengrajin yang memanfatkan limbah akar jati untuk mencari penghasilan. Saking banyaknya, mungkin hampir setiap pameran, produk kerajinan itu selalu tersedia. Ada yang berupa pajangan, meja-kursi, ataupun bentuk kerajinan tangan lainnya.
Mengapa demikian? Jawabannya,tak lain dan tak bukan, karena pangsa pasar untuk kerajinan ini peminatnya cukup banyak. Tak Cuma pasar dalam negeri, pasar luar negeri pun menyukainya.
Foto : Firmansyah/TNOLBegitulah yang dikatakan Suprapto, salah seorang pendatang baru dalam kerajinan akar jati. Diakuinya, hanya berbekal bakat seni dan optimisme yang tinggi, ia mampu mengambil porsi diantara para pesaing-pesaing lama.
Pengusaha muda yang bergelar sarjana ekonomi ini menekuni dunia kerajinan baru akhir Juni 2009 lalu. Awalnya, ia hanya seorang pemasok akar jati langsung dari hutan kepada pengrajin asal Korea di kampung halamannya Cepu, Blora, Jawa Tengah.
Foto : Firmansyah/TNOLSaat itu, ia belum tertarik untuk menjadi pengrajin seperti sekarang. Namun, margin keuntungan yang ditetapkan oleh pengrajin Korea tersebut terlalu tipis, hingga akhirnya mencoba membanting stir untuk mencoba sendiri mencari peruntungan menjadi pengrajin. Alasannya, karena tergiur akan potensi ekspor kerajinan akar jati tersebut.
"Setelah saya tahu ilmunya dari orang Korea tersebut, hanya satu hal yang saya petik yaitu betapa halusnya yang setiap produk kerajinan yang diproduksinya, lain dengan karya para pengrajin lokal yang saya tahu semua hasil karya sangat kasar," kata Suprapto.
Menurutnya, dalam menghaluskan perlu teknik-teknik tertentu dengan peralatan-peralatan khusus agar hasilnya halus dan rapi walaupun harus memakan waktu yang cukup lama. Setiap gerakan mengamplas juga harus disesuaikan dengan alur serat yang timbul dari akar tersebut.
Foto : Firmansyah/TNOL"Jika bentuknya sudah positif akan dibentuk menjadi kursi atau meja, maka perlu enam kali amplas dengan jenis amplas yang berbeda pula. Karena, yang membuat istimewa dalam kerajinan ini adalah bagaimana cara memunculkan warna alami serat cambium yang ada di dalam akar tersebut, dan hal ini yang belum dimiliki pengrajin yang lain," ungkap Suprapto.
Bermodalkan kemampuan menghaluskan, seni menimbulkan warna serat serta bentuk alamiah dari sebuah akar jati tersebut, Suprapto berani memasang harga yang jauh lebih rendah dibanding produk sejenis. "Masih dalam rangka promosi," katanya.
Foto : Firmansyah/TNOLSelain itu, karena basik awal sebagai supplier, maka ia tahu persis bagaimana memilih akar jati yang berkualitas, salah satunya adalah akar kayu yang berumur tua agar ketika proses pencucian, warna alami putih gading dan coklat muda dapat keluar dengan sempurna.
Satu set meja kursi bernuansa glow (3 kursi dan meja berdiameter sekitar 3 meter) dibandrol Rp25 juta, sedangkan satu set meja kursi (meja diameter 2 meter) dengan nuansa warna kehitaman (dop) dihargai Rp8 juta.
"Satu hal lagi, jika produk sejenis lainnya, biasanya hanya satu kali proses penyemprotan tapi kita ulang sampai dua kali agar hasil dan warna yang timbul lebih sempurna. Sebelum proses pengecatan, akar juga harus benar-benar kering agar sewaktu-waktu tidak keluar jamur dari sela-sela akar tersebut," terang Suprapto.
Kini, pemilik usaha akar jati antik itu, juga memproduksi pajangan serta vas bunga yang terbuat dari akar jati, namun pajangan tersebut dipesan dari pengrajin lainnya untuk selanjutnya dilakukan finishing di workshopnya di Perumahan Pesona Anggrek Blok D14/15 Harapan Jaya Bekasi.