Artefak yang terbuat dari emas, juga dilelang/ Foto: Safari TNOLGUDANG yang terletak di dalam areal pacuan kuda Pamulang Ciputat, Selasa (4/5) mendadak menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Tak seperti biasanya, keramaian langsung terasa manakala mereka yang datang bukan hanya masyarakat lokal. Bahkan, diantaranya tampak warga asing. Selain itu, ada juga rombongan istri Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan yang turut melihat benda - benda yang ada di dalam gudang tersebut.
Berbaju biru Istri Menteri Kelautan Fadel Muhamad juga turut hadir/ Foto: SafariRupanya, di gudang berukuran 8 x 20 meter itu menyimpan ribuan artefak bernilai ekonomi dan sejarah yang sangat tinggi. Ada sekitar 271.384 keping benda artefak bernilai Rp 750 miliar. Benda - benda tersebut, kini tertata rapih di rak besi berkain hitam. Ada beragam jenis benda - benda artefak itu, diantaranya mangkok, piring, guci, jangkar, koin, cermin perunggu, wajra, liao (piring, vas bunga), keramik, batu permata dan sword handle bertuliskan arab kafi yang usianya mencapai 1000 tahun.
Ketika menyaksikan benda - benda artefak itu, Ibu Menteri Hana Hasanah Fadel, bahkan sempat berjongkok dan tidak mengedipkan mata. Ada rasa takjub dan penasaran yang dialaminya ketika melihat benda - benda artefak yang ada dihadapannya. Benda - benda artefak itu seperti 'memancarkan' daya magis hingga membuat banyak orang penasaran.
Keramik bernilai tinggi sejarah/ Foto: SafariSelain di gudang utama, ternyata ada 19 gudang atau kandang kuda lainnya yang juga menyimpan benda artefak. Namun, artefak di 19 gudang itu kualitasnya tidak sebagus di gudang utama. Semua benda artefak yang berasal dari kapal Dinasti Liao Tiongkok akan dilelang oleh pemerintah. Tepatnya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta dalam tiga hari yang dimulai pada hari Rabu (5/5).
Lelang hari pertama artefak dari abad X ini dibuka Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Menbudpar Jerro Wacik. Ruangan Laksda TNI (purn) Freddy Numberi di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan tempat lelang tampak dipenuhi peninjau dari berbagai kalangan. Bangku yang tersedia di sisi tengah, kanan dan kiri podium tampak terisi penuh.
Peserta lelang cukup besar/ Foto: SafariBerdasarkan catatan dari daftar buku tamu, ada sekitar 70 peninjau yang hadir dalam lelang hari pertama itu. Sementara wartawan lokal dan luar negeri mencapai sekitar 100 wartawan. "Itu belum termasuk tamu yang tidak teregistrasi," papar petugas penjaga buku tamu.
Semua benda artefak itu akan dilelang dengan harga Rp 750 milyar. Dan yang ingin ikut menjadi pesarta lelang harus menyetorkan modal awal 20% sebesar Rp 114 miliar. Pelelangan benda - benda artefak itu tidak secara per pcs atau eceran. Lelang dilakukan secara keseluruhan atau satu lot sehingga panitia lelang berharap peserta lelang adalah negara yang berkepentingan terhadap benda artefak tersebut seperti China, Hongkong dan Singapura.
"Bisa juga pemerintah melakukan kerja sama G to G atau dengan museum-museum negara lain," kata Sudirman Saad, Sekretaris Panitia Nasional di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta, Rabu (5/5).
Keramik tertata rapi/ Foto: SafariSudirman mengakui, ada tiga persoalan yang menjadi kajian serius panitia nasional yang meliputi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kembudpar dan Menkeu yaitu waktu pengumuman lelang, bisa jadi diperpanjang selama satu bulan. Limit 20 persen setoran atau sekitar Rp114 miliar bisa diturunkan persentasenya, atau ajukan proposal G to G kepada sejumlah negara yang berminat.
Horst Liebner, staf ahli sejarah arkeolog Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan, dalam benda artefak tersebut yang bernilai bukan hanya bendanya semata tapi yang terpenting adalah informasi yang didapat dari benda tersebut. Karena dari benda - benda artefak tersebut diketahui bahwa Indonesia telah menjadi pusat lalulintas perdagangan dunia.
"Jadi yang bernilai adalah datanya bukan bendanya. Karena kalau dari bendanya ada ribuan mangkok yang diangkat dan tidak semua orang mau membelinya," kata Horst dengan bahasa Indonesia yang terpatah - patah.
Horst Liebner/ Foto: Safari Mengenai kapal pengangkut benda - benda artefak yang tenggelam, menurut Horst, bila dilihat dari segi kontruksi, kapal tersebut dibuat di Malaka. Kapal tersebut dipakai orang austronesia yang berbahasa Melayu, Bugis dan Madagaskar yang tinggal di Vietnam, Champa dan China Selatan.
"Jadi kemungkinan besar kapal tersebut pernah dibuat di Malaysia atau Sumatera tapi hal itu tidak pasti perlu ada penelitian lebih lanjut. Tapi, dari segi konstruksi jelas dipakai oleh orang - orang austronesia," ungkapnya.
Sementara menurut Ninik HW, staf ahli panitia pelelangan mengatakan, dari semua benda artefak yang akan dilelang, ada satu benda yang sangat langka. Benda itu bernama Liao yang berasal dari Dinasti Liao yang berkuasa dari tahun 907 - 960. Benda - benda Dinasti Liao meliputi vas tinggi putih, pot, piring, mangkok dan cermin perunggu.
"Dinasti Liao ini didirikan oleh suku Khitan yang masa pemerintahnya sangat pendek," kata Ninik di Ruang Laksda TNI (pur) Freddy Numberi Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta, Rabu (5/5).
Menurut Ninik, dari benda - benda artefak ini diketahui bahwa nusantara sudah sejak dahulu menjadi pusat lalulintas perdagangan dunia. Oleh karena itu sebelum dilelang, negara telah menyortir benda - benda yang akan disimpan di musuem. Dari 271.384 keping artefak kuno Cina abad ke-9 dan ke-10 ini sekitar 976 buah sudah disisihkan untuk negara demi menjamin terjaganya jejak sejarah maritim Indonesia.
"Kita mau komersilkan, setelah negara memiliki sampel. Ini dilakukan agar datanya tidak hilang," paparnya
Ada Mahluk Halus
Gudang lain menyimpan artefak yang kurang baik/ Foto: SafariSudah berumur tua dan memiliki sejarah tinggi dari Dinasti Liao yang berpengaruh di Tiongkok ternyata berdampak juga pada orang - orang yang menjaga benda tersebut. Banyak kejadian - kejadian aneh setelah benda - benda artefak tersebut tiba di gudang areal pacuan kuda Pamulang. Walaupun kejadian aneh tersebut belum jelas hubungannya dan tidak ilmiah, namun berdasarkan pengakuan penjaga, keanehan itu timbul setelah benda artefak tiba.
Menurut Ace, staf warehouse, ketika pertama kali peti kemas berisi artefak datang di gudang pacuan kuda Pamulang tahun 2005, banyak pekerja yang mengalami hal - hal aneh. Biasanya keanehan yang dialami terjadi pada malam hari. Diantara keanehan yang dialaminya adalah diganggu saat tertidur.
Pengalaman ini dialami Ace, pegawai yang sejak awal menjaga benda artefak tersebut. Kala itu Ace yang tertidur pulas, kedua kakinya di goyang - goyang namun setelah terbangun ternyata tidak ada siapa - siapa.
Beragam jenis artefak/ Foto: Safari"Kaki saya pernah digoyang - goyang saat tidur. Saat bangun ternyata tidak ada siapa - siapa," ujar Ace pada TNOL.
Keanehan yang dialami Ace bukan itu saja, ia juga pernah menemui sosok perempuan cantik di dekat kontainer yang berisi artefak. Padahal sebelum ada kontener tersebut, tidak pernah mengalami keanehan apapun.
"Namanya benda tua pasti ada penunggunya," paparnya.
Namun, sambung Ace, keanehan - keanehan itu tidak terjadi lagi saat ini. Apalagi ia telah menjaga benda - benda tersebut selama lima tahun lebih. "Mungkin karena sudah biasa, jadi tidak diganggu lagi," tandasnya.
Comments
RSS feed for comments to this post