Foto: Safari SidakatonPertama kali melihat mungkin tidak akan tega sehingga membuat hati miris menyaksikan sejumlah anak – anak penyandang cacat tuna ganda yang diikat badan, kaki dan tangannya dengan alat scanding craft. Selain diikat mereka ada yang didirikan, direbahkan di lori dan di dudukan di kursi khusus.
Mereka diikat selama dua jam yakni dari pukul 09.00 – 11.00. Tidak heran, di antara anak – anak yang diikat tersebut ada yang menangis hingga membuat suasana ruangan berukuran 10 x 10 meter menjadi gaduh. Tapi ada juga di antara mereka yang tertidur pulas bahkan sampai mengeluarkan air liur.
Namun kebiasaan anak – anak penyandang tuna ganda itu langsung diantisipasi secara cepat oleh perawat. Dengan telaten dan kasih sayang, perawat yang bertugas langsung mengusap dan membersihkan setiap cairan yang keluar dari mulut atau hidung anak – anak tersebut.
Itulah suasana setiap hari di Ruangan Teraphy Lions Club Jakarta Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung Jl Raya Bogor Km 28,5 Cimanggis Depok. Setiap harinya ada 12 anak tuna ganda yang mendapat therapy berupa pengikatan tangan, kaki dan badannya dengan alat khusus scanding craft.
Pengikatan pada sejumlah anggota badan tersebut merupakan bentuk antisipasi agar cacat yang disandangnya tidak bertambah parah atau berlanjut. Bila tidak dilakukan therapy, maka anggota badannya bisa menjadi bengkok dan tidak dapat dipergunakan kembali.
“Anak – anak tersebut diikat juga agar ada penguatan otot dan koreksi sikap,” jelas Rita Komala, therapys yang menemai TNOL menyaksikan anak – anak tuna ganda mendapat therapy.
Menurut Rita, ketika therapy pertama kali dilakukan atau saat Ruangan Therapy Lions Club Jakarta baru berdiri 3 tahun silam, hampir semua anak – anak penyandang tuna ganda yang di therapy menangis. Mereka menangis meraung - karena menahan sakit apalagi anggota badannya sudah lama mengalami kaku.
Namun, setelah rutin mengikuti therapy, mereka bisa merasakan manfaatnya. Yakni tangannya tidak lagi bengkok dan kakinya menjadi kuat menahan berat badannya. Kini, tidak sedikit anak – anak peyandang tuna ganda di Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung yang bisa memegang benda dan berjalan walaupun agak tertatih – tatih.
“Sekarang mereka bisa sedikit mandiri,” tegas Rita.
Rita menuturkan, di Indonesia anak – anak penyandang tuna ganda belum ada yang memperhatikan nasibnya.
“Makanya anak – anak yang berada di Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung sangat beruntung karena banyak anak – anak tuna ganda lainnya yang dibiarkan begitu saja,” jelasnya.
Sementara itu menurut Kristanti, Wakil Kepala Panti Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung mengatakan, biaya perawatan setiap satu anak tuna ganda mencapai Rp 2 juta/bulan. Biaya tersebut untuk makan tiga kali sehari, therapy dan kesehatan.
Kebanyakan anak – anak yang dirawat di Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung berasal dari keluarga tidak mampu sehingga ada yang tidak membayar. “Tapi kita niatnya bantu sehingga benar – benar ikhlas. Insya Allah kalau ikhlas pasti ada yang bantu,” jelas Kristanti.
Menurut Kristanti, selain mendapat therapy untuk jasmani, anak – anak tuna ganda yang di rawat di Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung juga mendapat pendidikan lanjutan berupa therapy permainan. Therapy ini untuk meransang motorik pengetahuan atau pola pikir agar bisa berinteraksi dengan yang lain. Di antara permainan tersebut adalah menyusun puzzle, membangun balok dan pengenalan warna.
“Ada satu anak tuna ganda setelah ditherapy di sini sudah bisa berinteraksi dengan orang lain. Namanya Yunas Febriyanto, dia bahkan bisa main puzzle dengan kecepatan 500 speed,” ujarnya bangga.
Sementara ketika ditanya biaya untuk operasional sehari- hari, Kristanti memaparkan, selain mendapat sumbangan dari keluarga anak yang bersangkutan juga mendapat sumbangan dari masyarakat, subsidi dari Yayasan Lembaga Rumah Piatu Muslimin dan Pemda DKI. Bahkan tidak jarang, panti ini kerap dikunjungi pengusaha, tokoh masyarakat dan selebritis untuk membantu.
Di antara selebritis yang kerap mendatangi Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung adalah Sandra Dewi Dominic Sandra, Cinta Laura dan group band Padi. Kedatangan mereka kerap membuat anak – anak tuna ganda ini bisa merasakan kegembiraan karena bisa berfoto bersama.
Yayasan ini berdiri berdasarkan keprihatinan sang pendiri ibu S.Z Goenawan sebagai respon atas minimnya perhatian masyarakat terhadap penderita tuna ganda, masyarakat masih memandang sebelah mata pada penderita tuna ganda. WISMA TUNA GANDA merupakan panti perawatan pertama di
Atas prakasa Badan Koordinasi Kegiatan Sosial (BPKKS) DKI Jakarta, diadakanlah pertemuan dengan pengurus Lembaga Rumah Piatu Muslimin (LPRM) pada bulan Nopember 1974 , yang dalam pertemuan ini di bahas pula kemungkinan didirikannya Panti Perawatan Anak-anak Penyandang Cacat Ganda.
Wisma Tuna Ganda ini di resmikan pada tanggal 2- maret- 1975, bertepatan dengan Peringatan 1.000 hari wafatnya ibu S.Z Goenawan ( pendiri pimpinan pertama LRPM)
Lembaga ini bertujuan untuk menampung, memelihara dan merawat serta mengusahakan rehabilitasi bagi anak- anak penyandang cacat ganda (cacat mental serta fisiknya). Dan beralamat di Jalan Raya Bogor KM 28,6 Cimanggis.
Pelayanan yang diberikan meliputi :
1. Pemberian santunan perawatan dan usaha rehabilitasi bagi anak anak rawat.
2. Pemeriksaan rutin oleh dokter umum, dokter gigi dan psikolog
3. Latihan jasmani/fisik dibawah bimbingan fisioterapis.
4. Latihan bicara dibawah bimbingan speechtherapis,
5. Latihan ketrampilan serta
6. Pengawasan makanan oleh ahli gizi
Saat ini ada 30 anak rawat yang terdiri dari 16 anak laki-laki, dan 14 anak perempuan, serta 35 orang pengasuh yang system kerjanya terbagi berdasakan sift time.
“Memang pengasuh kami lebih besar dari pada jumlah anak asuh, sebab kami ingin memberikan pelayanan terbaik,” kata ibu kristanti wakil ketua WTG Palsigunung.
Anak rawat berasal dari berbagai suku, dan datang dari daerah Jakarta dan sekitarnya termasuk juga berasal dari keluarga yang tidak mampu merawat anak tuna ganda. Ada syarat-syarat tertentu yang harus terpenuhi bagi mereka yang ingin mendapatkan perawatan di lembaga ini antara lain: tidak menderita penyakit di luar kecacatannya, tertama penyakit menular, tidak dapat berjalan atau ada keterangan dari dokter bahwa sang anak penyandang cacat ganda, dan berumur tidak lebih dari 10 tahun.
Comments
Disitu ada salah satu anak yang usianya sudah 40th keatas, dari kecil sampai skrg orang tuanya tdk pernah menjenguk ataupun pingin tau kabar dari anaknya...
Sungguh mulia sekali pendidik yg ada di Wisma tersebut..Kasih sayangny lbh dari orang tuany sdr...
RSS feed for comments to this post